EHN Personal Thought · Indonesia · Insurance · Syariah / sharia · Syiar · Takaful

Indonesia: The sleeping giant begins to wake up for microTakaful



The sleeping giant begins to wake up for microTakaful

• • • • •

MICROTAKAFUL – Erwin Noekman

• • • • •

There are plenty reasons why Indonesia has become a ‘trending topic’ in terms of Takaful [which in Indonesia is known as asuransi Shariah (Shariah insurance)].

Firstly, with its 208 million-strong Muslim population, Indonesia cannot be ignored as one of the largest Takaful markets in the world.

Secondly, there has been a growing awareness of the Maqasid (goal) Shariah.

In addition, Takaful operators in the country have commited to mutual cooperation in order to explore alternative distribution channels to access the low income segment.

Last but not least, the usage of information technology in Takaful distribution is promoting greater penetration.

• • • • •

Indonesia has been acknowledged by many as one of the biggest potential markets for Takaful. For years, the country has achieved stable and sustainable growth and there is still plenty of room for further development. Although it has not yet been explored or intensified properly, there has however been growing atention and support from the government. In 2013, the market recorded a remarkable 43% growth according to Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hypothetically the development of Takaful is heavily correlated to the development of Islamic finance – as is the public awareness of the option. Statistically, awareness of Takaful is far from adequate for most Indonesians, especially in rural areas. This is a challenge as well as opportunity. The average Takaful contribution for every person in Indonesia is approximately IDR35,944 (US$3) per annum according to OJK, while the average gross domestic income of Indonesia is US$5,477 per annum, meaning that Takaful contributes only 0.05% of average Indonesian expenses.

The government also plays an important role in terms of Takaful literacy. The Indonesian government recently launched the new Insurance Act, which is designed to encourage the existence of Takaful operators in Indonesia, including an eventual spin-off for Takaful windows. There are also additional regulations being prepared to support the Act.

Islamic finance in Indonesia is expected to grow by at least 20% over the next 10 years, according to Muliaman D Hadad, the chairman of OJK – and is being encouraged by the government in
order to ensure economic stability from systemic failure.

Whilst the potential is there, Takaful operators are opting for new ways to increase awareness. Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), the Indonesian Takaful Association, with full support from OJK, has set up a microTakaful task force. OJK also helps in conducting surveys, seminars and studies in microTakaful. As the result, AASI has also set up a consortium and launched a generic product which combines benefits from both General and Family Takaful.

Koperasi (Co-operative) (including Baytul Maal wa Tamwil (BMT) or Shariah based co-operatives) play an important role in microTakaful distribution, especially to reach low income and people in rural areas.

Takaful is more acceptable to these people, due to its similarity with Koperasi scheme. The spirit of togetherness in Takaful is reflected in the form of Koperasi: where people can save and borrow money, staples, food, machines, tools and such, which are self-funded by members.

This kind of cooperation has been very successful in Indonesia and has since spread across the nation. By June 2014, there were 206,288 Koperasi registered in Indonesia with over 35 million members.

The other approach currently used in the market is to bundle Takaful benefit into alms products (Shadaqah, Infaq, Waqf, Hibah, etc). For this mechanism at least two schemes are available in the market. The first scheme directly deducts some portion of Takaful contribution as a Waqf fund. The later scheme allows the benefit of Takaful to be distributed as Waqf in case the participant suffers loss or misfortune.

The product of microTakaful is characterized by being simple, easy, economical and immediate, according to OJK. Microtakaful has to be simple and easily understood by all people in terms of policy, underwriting, claims and administrative process. It has to be easy to obtain, either through distribution channels or via mobile applications. Further, microTakaful has to be economical, costing not more than US$4 per annum. The payment of Takaful benefits must be done immediately as the sum is urgently needed by the poor.

Last but not least, we need to explore the importance of mobile applications in promoting Takaful. It is estimated by advisory group Redwing Asia that in 2014 there were more than 300 million mobile phones in Indonesia – outnumbering the total population of the country and suggesting that every Indonesian owns at least one device. Ironically, even people who are categorized as low income carry a mobile device on their hand.

Correlated to this statistic, the usage of mobile applications in distributing Takaful is imperative. Nowadays, people tend to seek answers through search engines rather than ask advice from others – meaning that online media plays an important role in building image, and vice versa, defaming people or organizations.

With its strong foundations and robust government support, the Indonesian Takaful market has the means to cope with the ongoing changes to the economic environment. The forthcoming ASEAN Economic Society will bring both challenges and opportunities for the market.

• • • • •

The article was published by Islamic Finance News on their 17th December 2014 edition – hopefully it’d be useful for all.

Erwin Noekman

EHN Personal Thought


[my side of story] adalah penting bagi setiap diri untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain

[my side of story] adalah penting bagi setiap diri untuk mendahulukan umat daripada keinginan dirinya sendiri

[my side of story] adalah penting bagi setiap orang berperilaku seperti layaknya seorang peminpin karena dirinya adalah memang pemimpin setidaknya bagi dirinya sendiri

[my side of story] adalah utama menjalankan aktifitas sehari-hari dengan menjadikannya ladang amal íbadah

[my side of story] adalah salah bila manusia menganggap limpahan kemewahan dunia sebagai sebuah kekayaan

[my side of story] adalah hati yang selalu bersyukur dan selalu merasa cukup sebagai sebuah kekayaan

[my side of story] adalah utama menjaga segumpal darah untuk tetap berbaik sangka dan tidak berburuk sangka, segumpal darah berupa hati

[my side of story] adalah wajib bagi seseorang bila ia memimpin untuk menjadi contoh teladan yang baik (uswatun hasanah)

[my side of story] adalah absurb bila seseorang yang memimpin, ia berkata lain dengan apa yang ia kerjakan

[my side of story] adalah tidak pantas seseorang yang menjadi panutan melakukan hal-hal yang tidak terpuji

[my side of story] adalah sifat manusia berkeluh kesah manakala ia mendapatkan sedikit kesulitan saja

[my side of story] adalah sifat manusia kikir manakala ia memperoleh rizki yang berlimpah

[my side of story] adalah sifat manusia mengagungkan kesementaraan di dunia

[my side of story] adalah sifat manusia yang mengabaikan keabadiaan di akhirat

[my side of story] adalah manusia yang sering terlupa bahwa ucapan menyakitkan bisa menjerumuskannya ke api neraka

[my side of story] adalah manusia yang tidak sadar bahwa ucapan tidak baik tidak akan membuat dirinya di terima di taman firdaus

[my side of story] adalah penting menjaga keyakinan di dalam hati agar diri tidak pernah merasa kesepian

[my side of story] adalah penting meraih kemenangan tetapi jauh lebih penting bila kemenangan itu diraih dengan cara yang baik, santun, beretika dan penuh moral

[my side of story] adalah lebih penting melakukan perbuatan baik daripada hanya sekedar membicarakannya tanpa hasil

[my side of story] adalah lebih penting melakukan hal kecil yang dimulai dari diri kita sendiri

[my side of story] adalah penting berbaik sangka dan menangkap semua pandangan dengan cara yang bijak

[my side of story] adalah cerdas bagi orang yang mengetahui semua jawaban atas semua permasalahan

[my side of story] adalah bijaksana bilamana setiap diri tahu kapan waktunya ia harus berbicara dan kapan waktunya ia harus diam

[my side of story] adalah penting bagi setiap diri berkontemplasi dan mengingat sang pencipta

[my side of story] adalah penting mensyukuri jutaan rizki yang ia miliki ketimbang mengeluhkan sedikit kesusahan yang ia alami

[my side of story] adalah penting bagi tiap manusia untuk sejenak merenungi semua lika-liku kehidupan yang telah ia lewati

[my side of story] adalah penting bekerja dalam koridor ketuhanan (god corporate governance) bukan sekedar tertata baik (good corporate governance)

[my side of story] adalah Allah yang telah memberikan jaminan rizki yang melimpah bagi umatnya yang berhijrah di jalan-Nya

[my side of story] adalah Allah yang memberikan jalan keluar dari setiap urusan umat-Nya

[my side of story] adalah Allah yang memberikan rizki kepada umat-Nya dari arah yang tak terduga

[my side of story] adalah Allah yang telah memberikan jaminan bagi umat-Nya yang bertawakal akan tercukupi segala kebutuhannya

[my side of story] adalah Allah yang akan menyembuhkan segala penyakit yang diderita umat-Nya

[my side of story] adalah Allah yang telah mengajarkan manusia untuk “membaca”

[my side of story] adalah manusia yang lemah imannya sehingga masih meragukan ayat-ayat illahi

[my side of story] adalah manusia yang suka menghindar dan mencari celah dari aturan illahi

[my side of story] adalah manusia yang mencari keuntungan dari ayat-ayat dan aturan illahi

[my side of story] adalah celaka manusia yang tidak beriman kepada hari akhir

[my side of story] adalah celaka bagi manusia yang membekukan hati dan pikirannya dari mendengar ayat-ayat illahi

[my side of story] adalah kematian yang sangat dekat bagi setiap yang bernyawa

EHN Personal Thought · Family

Happy Anniversary Honey!

Waktu-waktu jam segini, empat belas tahun yang lalu, merupakan saat yang tak akan pernah terlupakan. Saat itu rasanya bagaikan tubuh yang kehilangab ruh-nya. Waktu itu, pikiran secara kosong dan pandangan terasa hampa.

Saya masih ingat rasanya keringat dingin mengucur deras di tubuh ini. Bukan karena tebalnya jas Betawi warna putih yang saya pakai, tetapi memang karena faktor non teknis 😀 Alhamdulillah semua berjalan lancar. Ijab terucap dengan tegas dan lancar.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Kini dengan ditemani tiga makhluk sempurna penerus generasi, kenangan itu masih tetap manis dan takkan bisa terlupakan.

Aku sungguh beruntung mendapat pendamping hidup yang selalu mendampingi, membimbing dan mendukung setiap gerak langkahku. Sejak awal kehidupan bersama kami yang sangat sederhana pun ia sudah mengorbankan waktu dan tenaganya demi mengurus sang jabang bayi. Ia tinggalkan posisi terbaik di pekerjaan demi mendapatkan jabatan terbaik yang bisa diperoleh oleh seorang wanita, ibu rumah tangga. Salut. Sungguh saya sangat salut kepadanya.

Kini, seiring dengan lika-liku kehidupan. Naik-turun. Gelombang pasang maupun surut. Semuanya kami lalui bersama. Sungguh, sangat beruntung mendapatkanmu.

Happy anniversary honey!

Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya buat kita sekeluarga. Ámiin ~

EHN Personal Thought · Travel

Scotland – the Referendum

Today, 18th September 2014, people of Scotland will vote for their future, whether they stay with United Kingdom or become an independent state.

What ever the result, wish for the best for Scott and the rest of the world.

I personally love and enjoy Scotland. I always friends and colleague, Indonesia’s motorway (Tol Cipularang) for me, is quite similar to M6. The highland, Loch Ness, Ben Nevis, Edinburgh castle, Celts, bagpipe, Tartan, all remains in my wonderful memories.

Hope some day, I can be there again.

EHN Personal Thought · Family · Travel

When we stand as a family, we can achieve great things

Unit Usaha Takaful melaksanakan dharmawisata bersama-sama sepanjang akhir pekan di akhir bulan Agustus lalu. Tujuan yang diambil guna melepaskan kepenatan adalah daerah Ciwideuy, Jawa Barat.

Sejak pagi hari Sabtu, seluruh peserta berkumpul di “kantor pusat” di kawasan Menteng. Dengan menggunakan bus besar (coach) berkapasitas 43 kursi, 31 peserta menikmati perjalanan dengan suka cita.

Di hari pertama, peserta menuju kawasan wisata Situ Patenggang. Dalam perjalanan, guna menambah semangat, panitia menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung.

Tepat siang hari, peserta berhenti sejenak untuk ishoma di sebuah resto di daerah Ciwideuy. Suasana yang sejuk, menambah semangat makan para peserta.

Di Situ Patenggang, peserta menikmati suasana alam berupa situ (danau). Beberapa peserta memilih berwisata air menggunakan perahu bebek. Sebagian lainnya berkeliling danau menggunakan perahu motor menuju Batu Cinta.

Menjelang petang, peserta menuju penginapan di kawasan perkebunan, Rancabali. Total 5 buah cottage disediakan bagi seluruh peserta. Cottage yang terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung, memberikan nilai lebih di kawasan yang dingin ini.

Sebuah catatan bagi calon pengunjung ke lokasi ini, dibutuhkan baju hangat dan kaos kaki guna meredam suhu dingin. Bahkan menjelang pukul 03:00 pagi, suhu bisa turun hingga 4°C. Jadi tidak usah sungkan membawa jaket tebal.

Untuk menambah keakraban, seluruh peserta mengikuti acara ramah-tamah di malam hari, kembali diiringi pembagian doorprize. Beberapa biduan dan biduanita dadakan turut menyumbang suara. Bahkan, sang chief turut mengumandangkan lagu legendaris karya Gerry and The Pacemaker ♫ You’ll Never Walk Alone ♫

Hari kedua dibuka dengan shalat Fajr (Shubuh) berjamaáh di masing-masing vila. Dilanjutkan tea walk, bermain futsal, dan sarapan pagi.

Selanjutnya rombongan berangkat menuju kawasan wisata Kawah Putih. Tiba di site, peserta turun dari bus dan berganti ke kendaraan kecil. Di kawal voorijder, rombongan tiba di gerbang kawah dengan lancar.

Menikmati suasana kawah yang bernuansa cyan muda, rombongan berfoto bersama. Bagi anda yang ingin menikmati keindahan kawah, di sarankan, tidak lebih dari 15 menit, karena dikhawatirkan bisa mengganggu organ pernafasan akibat pengaruh belerang dan zat kimiawi dari kawah yang masih aktif ini.

Menjelang siang, peserta kembali ke meeting point dan turun kembali. Langsung ke tempat makan dan ishoma. Setelahnya, peserta kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Setelah berhenti sejenak di KM 97, rombongan tiba kembali di kawasan Menteng tepat pukul 18:35. Alhamdulillaahirabbil áálamiin semua lancar dan kembali tanpa kurang satu apapun.

Satu yang terpenting adalah, semua peserta sejak berangkat, sepanjang perjalanan, selama aktifitas dan perjalanan pulang, menunjukkan wajah ceria dan penuh senyum. All smiling faces, priceless!

Sungguh senang dan menyenangkan melihat wajah-wajah penuh senyuman.

Indonesia Jaya!
Jasindo Maju!
UUT Barokah!

Ámiin ~