EHN Personal Thought · Syariah / sharia · Syiar

Bicara Ujian Kehidupan – Bicara Tawakal

BICARA UJIAN KEHIDUPAN, BICARA TAWAKAL

@erwin_noekman

 

Hari-hari belakangan ini banyak orang disibukkan dengan kasus penyebaran virus Corona (COVID-19). Terlebih, setelah sekian lama, hampir 3 bulan sejak pertama kali kasus ini merebak di kota Wuhan, Tiongkok, barulah secara resmi Pemerintah Indonesia, mengumumkan secara resmi adanya pasien terkena COVID-19.

 

Sebagai pengingat, kasus pertama kali ditemukan pada tanggal 1 Desember 2019, Presiden Indonesia mengumumkan kasus pertama di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Rentang waktu 93 hari.

 

Masih di hari yang sama, beberapa jam sebelum Presiden mengumumkan kasus COVID-19, netizen masih saling menuduh bahwa adanya kasus COVD-19 di Indonesia adalah hoax. Bahkan beberapa yang menyampaikan bahwa di Indonesia sudah ada suspect COVID-19, dianggap sebagai pemecah bangsa.

 

Kembali ke laptop, kasus penyebaran virus ini sebenarnya menjadi ujian bagi setiap orang. Ada yang menganggap ini sebagai ujian, ada yang menganggap ini sebagai azab. Terlepas dari itu hampir semua sependapat, bagi yang memiliki Tauhid, bahwa ini semua berujung kepada Tawakal.

 

Namun, demikian makna tawakkal itu sendiri bisa jadi mempunyai pemahaman yang berbeda antara satu dan lain ummat.

 

Ada yang menyatakan bahwa tawakal adalah murni pasrah atas ketetapan Allah azza wa jalla semata, dengan pengertian bahwa tanpa melakukan apapun, hasilnya pun akan sama.

 

Di sisi lain, ada pendapat yang menyatakan bahwa tawakal merupakan “level tertinggi” dalam derajat keimanan seseorang. Sehingga sebelum mencapai level tersebut, manusia tetap mempunyai kewajiban untuk terus berusaha (ikhtiar). Setelah semua sumber daya, upaya, waktu, tenaga, pikiran, termasuk dana, dikerahkan, barulah di ujungnya “pasrah” menyerahkan semua hasilnya kepada ketetapan Allah.

 

Bagi saya sendiri, saya condong kepada pemikiran kedua. Usaha maksimal, doa maksimal, ikhlas maksimal, tawakal maksimal.

 

Dalam sebuah kisah diceritakan suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri”. Maka beliau berkomentar, “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku dalam bayang-bayang tombak perangku (baca: ghonimah)’. Dan beliau juga bersabda, ‘Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.’ (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi). Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan mengelola pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.” (Fathul Bari, 11/305-306).

 

Dikutip dari https://almanhaj.or.id/965-bertawakal-kepada-allah.html pembahasan tentang tawakal adalah sbb:

 

Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan.

 

قَالَ عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ : قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ

 

“Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. (Musnad asy-Syihab, Qayyid ha wa Tawakkal, edisi 633, 1/368).

 

Apabila kita megambil contoh kehidupan keseharian Rasulullah beliau pun mengambil beberapa tindakan kecil dan sederhana, semisal ketika mendirikan rumah, beliau melengkapinya dengan pintu dan jendela, artinya tidak membiarkan ruangan rumah bebas terbuka.

 

Semua itu, meski mungkin tampak remeh, memberi isyarat tentang makna tawakal. Membiarkan rumah tewrbuka sampai larut malam tanpa dikunci, sementara seisi rumah tertidur lelap, adalah bagian dari kebodohan dan kelalaian, bukan sebagai bagian dari tawakal.

 

Kepada keluarganya yang lalai menjaga rumah, Nabi bersabda, ”Kuncilah pintu rumahmu.”

 

Dalam memimpin berbagai pertempuran, Nabi tidak pernah telanjang dada atau membiarkan tubuhnya tanpa terlindung. Nabi memegang perisai dan memakai baju besi. Bila suasana keamanan sedang gawat, Nabi bertanya, ”Siapa yang akan mengawalku malam ini?” Sehubungan dengan hadis di atas, Imam Sahal (seorang sufi) berkata, ”Barang siapa yang menentang ikhtiar (usaha), berarti menentang Sunnah. Dan barang siapa menentang tawakal, berarti mencela iman.”

 

Usaha tiada akhir pun tersirat dalam sebuah hadits yang berisikan sbb:

 

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

 

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

 

Dengan mengacu kepada pemahaman yang saya miliki, saya memandang bahwa kasus COVID-19 ini pun menjadi bagian dari ujian keimanan kita. Sejauh mana kita berusaha untuk menangkal, menjalani atau menanggulanginya. Ditambah doa sesuai kaidah, terakhir baru menyerahkan sepenuhnya hanya kepada Allah azza wa jalla (tawakal).

 

Wallahu a’lam bish shawab –

 

Jakarta, 04032020

 

 

 

EHN Personal Thought · Syiar

Beribadah bila “MAMPU”

Seringkali kita mendengar pembicaraan orang yamg mengaitkan kemampuan (finansial) dengan suatu ibadah. Semisal, melaksanakan haji bila mampu.

Mungkin tidak salah, tetapi saya melihat definisi “mampu” bisa menjadi bias. Bahkan lebih jauh, menurut pengamatan saya, “mampu” seringkali menjadi excuse.

Pergi haji bila mampu (?) (financially able, sehat)

Berqurban bila mampu (?) (financially able)

Berpuasa bila mampu (?) (sehat, tidak safar)

Zakat bila mampu (?)
(harta milik sendiri yg sudah melewat nishab dan haul)

Shalat (berdiri) bila mampu (?)
(sehat)

Wudhu (dengan air) bila mampu (?)
(tidak sakit atau ada kendala bila kena air)

🤔

Bukankah syarat wajib di atas itu semua, adalah iman (?)

🤔

Bukankah mampu atau tidak, dikembalikan ke iman (?)

🤔

Bukankah yg mendapat perintah2 di atas “hanya” orang-orang beriman (?)

#peace

#selfreminder

Jakarta, 23 Juli 2018

EHN Personal Thought · Syiar

…. kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau ….

Berapa banyak di antara kita terlupa dan lalai memprioritaskan kehidupan kita selama di dunia. Ini tentunya juga saya tujukan bagi diri saya sendiri, sebagai bagian dari muhasabah.

Kehidupan dunia yang sementara telah menyilaukan kita untuk memandang jauh ke depan menuju kehidupan akhirat yang sebenarnya abadi. Bahasa psikologinya, barangkali misorientasi, gagal fokus, bipolar, atau mungkin alzheimer.

Mengapa demikian?

Semata karena kita — berarti meliputi saya sendiri — berjibaku untuk sesuatu yang sementara, sementara kita malah melupakan yang abadi. Fokus kita seharusnya ke yang abadi (akhirat), malah sibuk atau menyibukkan diri ke yang sementara (dunia).

Beberapa dari kita menggunakan dalih bahwa bekerja (di dunia) adalah sebuah kewajiban, sehingga mengalihkan bahwa kewajiban ini harus dipenuhi terlebih dulu. Padahal, kembali ke pembukaan di atas, sebenarnya bekerja sebenarnya adalah alat (tool) kehidupan dunia. Saking parahnya, karena asyik bekerja, beberapa dari kita malah melupakan alat akhirat, misalnya shalat.

Beberapa dari kita, seringkali menunda atau menempatkan alat akhirat (shalat) menjadi prioritas nomor sekian. Beberapa menunda atau bahkan ada yang mengabaikan alat akhirat ini. Ketika panggilan suci berkumandang, berapa banyak dari kita yang masih asyik berkutat dengan dunia, entah itu terkungkung dalam pekerjaannya atau masih asyik ber-gadget ria.

Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawariduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lebih jauh, Allah azza wa jalla, sudah memperingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Peringatan ini bukan hanya disebutkan sekali, melainkan sampai tiga kali di dalam al Quran.

Firman Allah dalam surat al An’am ayat ke 32, artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Lalu dalam surat al Ankabut ayat 64, disebutkan pula firman Allah yang artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dan di surat Muhammad ayat ke 36 diingatkan kembali firman Allah yang artinya :

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Tentunya peringatan di ataa bukan hal kecil, karena disebutkan sampai tiga kali di pedoman hidup kita. Apakah kita masih (berani) melalaikan akhirat kita?

Sungguh…

….kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau….

Wallahu a’alam bish shawab.

22 Ramadhan 1439, menjelang syuruk di Jakarta