EHN Personal Thought · Syiar

Beribadah bila “MAMPU”

Seringkali kita mendengar pembicaraan orang yamg mengaitkan kemampuan (finansial) dengan suatu ibadah. Semisal, melaksanakan haji bila mampu.

Mungkin tidak salah, tetapi saya melihat definisi “mampu” bisa menjadi bias. Bahkan lebih jauh, menurut pengamatan saya, “mampu” seringkali menjadi excuse.

Pergi haji bila mampu (?) (financially able, sehat)

Berqurban bila mampu (?) (financially able)

Berpuasa bila mampu (?) (sehat, tidak safar)

Zakat bila mampu (?)
(harta milik sendiri yg sudah melewat nishab dan haul)

Shalat (berdiri) bila mampu (?)
(sehat)

Wudhu (dengan air) bila mampu (?)
(tidak sakit atau ada kendala bila kena air)

🤔

Bukankah syarat wajib di atas itu semua, adalah iman (?)

🤔

Bukankah mampu atau tidak, dikembalikan ke iman (?)

🤔

Bukankah yg mendapat perintah2 di atas “hanya” orang-orang beriman (?)

#peace

#selfreminder

Jakarta, 23 Juli 2018

EHN Personal Thought · Syiar

…. kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau ….

Berapa banyak di antara kita terlupa dan lalai memprioritaskan kehidupan kita selama di dunia. Ini tentunya juga saya tujukan bagi diri saya sendiri, sebagai bagian dari muhasabah.

Kehidupan dunia yang sementara telah menyilaukan kita untuk memandang jauh ke depan menuju kehidupan akhirat yang sebenarnya abadi. Bahasa psikologinya, barangkali misorientasi, gagal fokus, bipolar, atau mungkin alzheimer.

Mengapa demikian?

Semata karena kita — berarti meliputi saya sendiri — berjibaku untuk sesuatu yang sementara, sementara kita malah melupakan yang abadi. Fokus kita seharusnya ke yang abadi (akhirat), malah sibuk atau menyibukkan diri ke yang sementara (dunia).

Beberapa dari kita menggunakan dalih bahwa bekerja (di dunia) adalah sebuah kewajiban, sehingga mengalihkan bahwa kewajiban ini harus dipenuhi terlebih dulu. Padahal, kembali ke pembukaan di atas, sebenarnya bekerja sebenarnya adalah alat (tool) kehidupan dunia. Saking parahnya, karena asyik bekerja, beberapa dari kita malah melupakan alat akhirat, misalnya shalat.

Beberapa dari kita, seringkali menunda atau menempatkan alat akhirat (shalat) menjadi prioritas nomor sekian. Beberapa menunda atau bahkan ada yang mengabaikan alat akhirat ini. Ketika panggilan suci berkumandang, berapa banyak dari kita yang masih asyik berkutat dengan dunia, entah itu terkungkung dalam pekerjaannya atau masih asyik ber-gadget ria.

Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawariduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lebih jauh, Allah azza wa jalla, sudah memperingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Peringatan ini bukan hanya disebutkan sekali, melainkan sampai tiga kali di dalam al Quran.

Firman Allah dalam surat al An’am ayat ke 32, artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Lalu dalam surat al Ankabut ayat 64, disebutkan pula firman Allah yang artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dan di surat Muhammad ayat ke 36 diingatkan kembali firman Allah yang artinya :

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Tentunya peringatan di ataa bukan hal kecil, karena disebutkan sampai tiga kali di pedoman hidup kita. Apakah kita masih (berani) melalaikan akhirat kita?

Sungguh…

….kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau….

Wallahu a’alam bish shawab.

22 Ramadhan 1439, menjelang syuruk di Jakarta

Syariah / sharia · Syiar

​Kutipan khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438

Kutipan khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438

Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, siang tadi saya diberikan kemudahan dan kesempatan untuk mencapai Masjid. Sang Mentari sepertinya “ingin tampil” dan memancarkan sinarnya hingga terik terasa di kulit. Beruntung saya, walau tidak saya ketahui sebelumnya, khatib Jum’at kali ini adalah KH Didin Hafidhudin. 
Siang tadi beliau menyampaikan ceramah seputar semangat umat Islam di bulan Ramadhan yang seyogyanya terus dipertahankan. Setidaknya ada 3 kegiatan baik di bulan Ramadhan yg diharapkan terus dijaga oleh kaum Muslimin. 
Hal yang pertama adalah kegiatan memakmurkan masjid. Beliau menyebutkan bahwa umat Islam adalah umat Masjid. Tidak mungkin kegiatan umat Islam itu jauh dari Masjid. Masjid menjadi tempat berkumpul dan menjaga ukhuwah islamiyah. Di Masjid, semua Muslim berkumpul dan melakukan shalat berjamaah. 
Abah Didin menyampaikan bahwa seandainya kebiasaan berjamaah ini dipertahankan, maka dampaknya akan sangat signifikan bagi kemajuan bangsa dan umat. Kegiatan berjamaah ini diharapkan bukan hanya di bidang ibadah, tetapi meluas ke sektor ekonomi dan muamalah. Beliau menyebutkan bahwa salah satu ciri orang yang mempertahankan berjamaah adalah orang yang memilih bertransaksi dengan sesama umat, walaupun di sekelilingnya ada pedagang dari umat lain. Ia tidak mau bertransaksi dengan umat lain. 
Beliau mengutip ayat al Qur’an di surat an Nisa (4) ayat 29 dan salah satu hadits yang intinya adalah perdagangan dilakukan atas dasar ridha dan dilakukan oleh sesama orang yang bertakwa. Beliau menghimbau kepada jamaah agar meniru kegiatan tsb, dengan bertransaksi kepada sesama umat.
Beliau sempat mengambil contoh waralaba milik non-muslim yang luar biasa menghasilkan keuntungan, tetapi keuntungan tersebut tidak dinikmati demi kemajuan Islam. Khatib kembali mengingatkan potongan ayat tadi yang menyebutkan bahwa sama saja kita bunuh diri jika kita tidak melepaskan diri dari kebiasaan bertransaksi bukan dengan sesama Muslim. 
Hal kedua yang beliau sampaikan adalah tentang  kebiasan membaca Qur’an. Khatib mengingatkan bahwa pada suatu masa terdapat peradaban mulia, itu karena umatnya menyandarkan kepada Qur’an. Mereka menjadikan al Qur’an sebagai pedoman hidup mereka untuk segala urusan, ibadah, ekonomi, sosial, politik dan lain-lain. Apabila menginginkan kembalinya peradaban mulia, maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke tuntunan al Qur’an dan Hadits.
Lalu, hal ketiga yang disinggung adalah tentang semangat berbagi. Apabila semangat ini dipertahankan, maka umat Islam akan memiliki izzah, kemuliaan kaum Muslimin. Bila terlaksana, umat Muslim akan menjadi golongan “tangan di atas” bukan menjadi “tangan di bawah” alias meminta-minta. 
– rangkuman khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438 (16 Juni 2017) di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta Pusat dengan khatib KH Didin Hafidhudin –
wallahu’alam bishshawab semoga terhindar dari kesalahan mengutip isi khutbah
@erwin_noekman