Wakaf sebagai Bentuk Manfaat bagi Semesta Alam

Wakaf manfaat asuransi syariah dan hasil investasi syariah merupakan sebuah produk yang baru mendapatkan fatwa dari DSN-MUI. 
Sesuai dengan istilah yang disematkan, wakaf berarti menahan sebagian (harta) dengan tujuan untuk disedekahkan (ke pihak lain yang membutuhkan).
Wakaf manfaat asuransi syariah, bisa diartikan sebagai men-sedekahkan harta yang diterima dari manfaat asuransi syariah, termasuk hasil investasinya. 
Wakaf ini sendiri sebenarnya menunjukkan makna sesungguhnya dari keberadaan asuransi syariah yang merupakan perwujudan sebuah lembaga keuangan syariah, sesuai dengan syiar Islam sebagai rahmatan lil alamin. 
Kehadiran Islam, bukan hanya memberikan manfaat bagi para penganutnya. Islam bukan hanya memberikan manfaat bagi manusia. Tetapi lebih jauh dari itu, Islam menjadi rahmat bagi semesta alam.
Hal yang serupa, terjadi di asuransi syariah. Seyogyanya, sebagai sebuah lembaga keuangan syariah, manfaat yang dihasilkan bukan hanya bagi pihak-pihak yang melakukan akad perjanjian (peserta dan pengelola). Tetapi juga memberikan manfaat bagi pihak lain yang bahkan tidak terlibat dalam perjanjian asuransi syariah itu sendiri.
Wakaf yang diberikan oleh peserta, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat awam. Bahkan juga bisa menjadi manfaat bagi lingkungan sekitar. Semisal saja, wakaf yang diwujudkan dalam bentuk masjid yang bisa dipergunakan umat sebagai markaz syiar keagamaan dan pendidikan karakter. Wakaf yang berbentuk lahan produktif, yang bukan hanya berbentuk hasil perkebunan, tetapi juga bisa menjadi lahan penghijauan. 
Apabila, wakaf ini benar-benar dimanfaatkan oleh peserta asuransi syariah, maka manfaat tersebut, Insya Allah, akan terus berlanjut walaupun ybs sudah meninggalkan dunia. 
Wallahu’alam bish shawab 

Advertisements

​Kutipan khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438

Kutipan khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438

Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, siang tadi saya diberikan kemudahan dan kesempatan untuk mencapai Masjid. Sang Mentari sepertinya “ingin tampil” dan memancarkan sinarnya hingga terik terasa di kulit. Beruntung saya, walau tidak saya ketahui sebelumnya, khatib Jum’at kali ini adalah KH Didin Hafidhudin. 
Siang tadi beliau menyampaikan ceramah seputar semangat umat Islam di bulan Ramadhan yang seyogyanya terus dipertahankan. Setidaknya ada 3 kegiatan baik di bulan Ramadhan yg diharapkan terus dijaga oleh kaum Muslimin. 
Hal yang pertama adalah kegiatan memakmurkan masjid. Beliau menyebutkan bahwa umat Islam adalah umat Masjid. Tidak mungkin kegiatan umat Islam itu jauh dari Masjid. Masjid menjadi tempat berkumpul dan menjaga ukhuwah islamiyah. Di Masjid, semua Muslim berkumpul dan melakukan shalat berjamaah. 
Abah Didin menyampaikan bahwa seandainya kebiasaan berjamaah ini dipertahankan, maka dampaknya akan sangat signifikan bagi kemajuan bangsa dan umat. Kegiatan berjamaah ini diharapkan bukan hanya di bidang ibadah, tetapi meluas ke sektor ekonomi dan muamalah. Beliau menyebutkan bahwa salah satu ciri orang yang mempertahankan berjamaah adalah orang yang memilih bertransaksi dengan sesama umat, walaupun di sekelilingnya ada pedagang dari umat lain. Ia tidak mau bertransaksi dengan umat lain. 
Beliau mengutip ayat al Qur’an di surat an Nisa (4) ayat 29 dan salah satu hadits yang intinya adalah perdagangan dilakukan atas dasar ridha dan dilakukan oleh sesama orang yang bertakwa. Beliau menghimbau kepada jamaah agar meniru kegiatan tsb, dengan bertransaksi kepada sesama umat.
Beliau sempat mengambil contoh waralaba milik non-muslim yang luar biasa menghasilkan keuntungan, tetapi keuntungan tersebut tidak dinikmati demi kemajuan Islam. Khatib kembali mengingatkan potongan ayat tadi yang menyebutkan bahwa sama saja kita bunuh diri jika kita tidak melepaskan diri dari kebiasaan bertransaksi bukan dengan sesama Muslim. 
Hal kedua yang beliau sampaikan adalah tentang  kebiasan membaca Qur’an. Khatib mengingatkan bahwa pada suatu masa terdapat peradaban mulia, itu karena umatnya menyandarkan kepada Qur’an. Mereka menjadikan al Qur’an sebagai pedoman hidup mereka untuk segala urusan, ibadah, ekonomi, sosial, politik dan lain-lain. Apabila menginginkan kembalinya peradaban mulia, maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke tuntunan al Qur’an dan Hadits.
Lalu, hal ketiga yang disinggung adalah tentang semangat berbagi. Apabila semangat ini dipertahankan, maka umat Islam akan memiliki izzah, kemuliaan kaum Muslimin. Bila terlaksana, umat Muslim akan menjadi golongan “tangan di atas” bukan menjadi “tangan di bawah” alias meminta-minta. 
– rangkuman khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438 (16 Juni 2017) di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta Pusat dengan khatib KH Didin Hafidhudin –
wallahu’alam bishshawab semoga terhindar dari kesalahan mengutip isi khutbah
@erwin_noekman

Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial – Fatwa MUI

Pada tanggal 13 Mei 2017 lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan Fatwa no.24 tahun 2017 mengenai Hukum dan Pedoman bermuamalah melalui Media Sosial. 

Sebagaimana diketahui fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI juga memberikan pedoman dalam berhubungan sosial (muamalah). Dengan pedoman ini, diharapkan (utamanya umat Muslim) tidak terjerumus dalam perbuatan yang melanggar hukum syar’i. 

Beberapa pedoman yang diatur, diantaranya:
• Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan. 

b. Mempererat persaudaraan (ukhuwwah), baik persaudaraan ke-Islaman (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), maupun persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah).

c. Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah
• Setiap  muslim  yang  bermuamalah  melalui  media  sosial diharamkan untuk: 
a.  Melakukan  ghibah,  fitnah,  namimah,  dan  penyebaran permusuhan. 
b.  Melakukan  bullying,  ujaran  kebencian,  dan  permusuhan atas dasar suku,  agama,  ras, atau antar  golongan. 
c.  Menyebarkan  hoax  serta  informasi  bohong  meskipun dengan  tujuan  baik,  seperti  info  tentang  kematian  orang yang  masih hidup. 
d.  Menyebarkan  materi  pornografi,  kemaksiatan,  dan  segala hal  yang  terlarang  secara  syar’i.  
e.  Menyebarkan  konten  yang  benar  tetapi  tidak  sesuai  tempat dan/atau waktunya. 
Semoga kita semua bisa bijak dalam menggunakan media sosial. 
Merdeka!
Jakarta, 06-06-2017

#satukanIndonesia 

#sayaIndonesia 

#IndonesiaBersyariah 

MENILAI SEBUAH PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH YANG BAIK (#1)

MENILAI SEBUAH PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH YANG BAIK (#1)

 

 

Seseorang pernah bertanya kepada saya, “Bagaimana sebenarnya menilai sebuah perusahaan asuransi syariah yang baik di industri?” Beliau menambahkan, “Saya awam akan hal ini (mengenai asuransi syariah). Saya cuma tahu kalau di asuransi syariah itu ada dana tabarru dan dana perusahaan.”

 

Begitu lah kira-kira pertanyaan yang dilontarkan kepada saya. Alhamdulillah, kembali saya meyakini tingginya ilmu pengetahuan, semakin kita pelajari akan semakin kita merasa banyak tidak tahunya.

 

Saya pribadi melihat bahwa sebuah perusahaan asuransi syariah (PAS) akan berhasil menjalankan amanatnya yaitu melakukan pengelolaan risiko, apabila pengelolaan risiko tersebut “berhasil”. Pengelolaan risiko di PAS terihat apakah hasil pengelolaannya meghasilkan surplus atau malah defisit.

 

Pengelolaan risiko di PAS, ditunjukkan dalam laporan keuangan, yaitu surplus/deficit underwriting. Surplus underwriting berarti menandakan bahwa penerimaan dana tabarru lebih besar daripada pemberian manfaat/santunan (klaim). Surplus ini mengindikasikan bahwa kontribusi (premi syariah) dan pencadangannya ditetapkan secara adequate (memadai).

 

Sebaliknya, apabila hasilnya deficit, maka dapat diindikasikan bahwa penerapan tarif kontribusi dan cadangan, tidak/kurang memadai untuk menutupi besaran pemberian manfaat/santunan kepada Peserta (pemegang polis).

 

ehn - ilustrasi surplus uw

 

Mengapa saya menganggap hal ini penting?

 

Fungsi dan keberadaan PAS dalam pengelolaan asuransi syariah adalah sebagai wakil dari para Peserta. Seluruh dana yang terkumpul sebenarnya adalah dari dan milik para Peserta secara kolektif. Kembali, PAS hanyalah sebagai pengelola risiko, bukan sebagai pemilik dana.

 

Hal ini berbeda dengan skema yang ada di perusahaan asuransi (konvensional). PAK merupakan pemilik dana yang dikumpulkan dari nasabahnya (Tertanggung). Maka indikator keberhasilan adalah, bagaimana PAK mampu memberikan nilai lebih bagi pemegang sahamnya, dalam bentuk laba perusahaan.

 

Di PAS, kondisi yang sama, yaitu memberikan nilai lebih kepada pemilik sebenarnya, yaitu para Peserta. Untuk itulah, keberhasilan PAS menghasilkan surplus dana tabarru menjadi faktor penilai utama.

 

Sangat ironis, apabila pengelolaan dana tabarru menjadi terbengkalai, sementara PAS memperoleh laba yang sedemikian besarnya. Atau barangkali kata yang tepat adalah dzulm (sesuatu yang tidak pada tempatnya ~ inappropriate). Seidealnya, kedua pihak mendapatkan nilai lebih. Peserta mendapatkan keuntungan dari pengelolaan dana tabarru, PAS juga memperoleh keuntungan dari laba perusahaan. Sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan.

 

Secara pribadi saya menilai bahwa tujuan dari keberadaan PAS, sebagai sebuah lembaga keuangan syariah — yang merupakan representasi dari value keislaman, maka keberadaannya harus memberikan manfaat dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Tujuan dunia dan akhirat harus tertanam dengan baik sejak awal.

 

Lalu, apa kriteria lain untuk menilai sebuah PAS yang baik? To be continued

 

 

– wallahu’alam bish shawab –

 

 

Tentang Ekonomi Syariah (Tafsir Salman ITB)

Ekonomi syariah janganlah hanya dibingkai dalam pratik jual beli. Ekonomi syariah harus dilandasi suatu revolusi pemikiran tentang fungsi dan manfaat harta dalam kehidupan dan pasca kehidupan. Harta yang diwakafkan pahalanya akan terus mengalir karena manfaat dari harta itu terus-menerus menggerakkan perekonomian manusia yang masih hidup. Pencapaian ekonomi tidaklah berhenti pada penguasaan pribadi. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kekayaan memberi manfaat pada lingkungan sekitar. Dengan demikian, harta akan menjadi alat untuk mencapai level tertinggi kemanusiaan yaitu memakmurkan bumi dan menyejahterakan makhluk lainnya.

 

Dikutip sepenuhnya dari Tafsir Salman – Tafsir Ilmiah Atas Juz’Amma – Surah A;-Mana s.d. Al-Nas oleh Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB – cetakan Mizan – ISBN 978-602-97633-8-6 – Cetakan I, Oktober 2014 (Halaman 491-492)

Sebuah pemaknaan yang sangat mendalam mengenai ekonomi syariah. Saya pribadi sangat sepakat apabila pelaksanaan dan pengelolaan ekonomi syariah, dijalankan untuk dua tujuan, dunia dan akhirat. 

Seandainya, semua umat memahami ini, saya yakin akan semakin banyak pejuang ekonomi syariah yang akan memperbaiki hidup dan kehidupan seluruh alam (bukan hanya bagi umat Muslim, juga bagi non-Muslim dan bagi alam semesta) sehingga tujuan Islam, Insya Allah, akan terwujud sebagai rahmatan lil alamin.

Wallahu’alam bishshawab –