about erwin-noekman.com

erwin-noekman.com is a personal website of Erwin Noekman, a (re)insurance and (re)takaful practitioner, containing his personal thoughts, views, opinions and knowledge. He can be reached at erwin.noekman@gmail.com or can be followed on his twitter account @erwin_noekman

Anything contained herewith is not related nor represented to any organisation nor company. Hope you’ll find it useful

erwin-noekman.com adalah situs pribadi milik Erwin Noekman, praktisi (re)asuransi syariah, yang berisikan pendapat, pandangan, opini pribadi serta pengetahuan. Materi juga bisa dipantau di akun twitter @erwin_noekman atau hubungi via email di erwin.noekman@gmail.com

Semua materi yang ada di situs ini tidak mewakili atau mendukung organisasi atau perusahaan manapun. Semoga bermanfaat

Advertisements

Spin-off – Bicara Kelembagaan atau Permodalan

 

Menarik ketika orang bicara tentang lembaga pernikahan. Sebagian besar orang lebih meributkan akan kesiapan finansial (baca: modal) calon pasangan yang akan menikah. Menariknya, justru bukan membahas mengenai kelembagaan pernihakan itu sendiri. Mengapa bukan dibahas, bagaimana ke depannya pasangan yang menikah (dan hidup mandiri dan terpisah dari orangtua) bisa mapan.

 

Menikah, bias diidentikkan seorang anak yang akan hidup mandiri. Lepas dan terpisah dari (rumah) orang tuanya. Semua urusan di-handle sendiri, tanpa campur tangan atau kendali orang tua.

 

Dianggap, bahwa kemampuan finansial menjadi tolok ukura utama. Bila belum punya modal untuk membiayai kehidupan berkeluarga, seakan-akan dipaksa untuk jangan menikah dulu.

 

Kondisi ini seakan mendorong sebuah stigma, bahwa hanya yang kaya yang bisa / boleh menikah. Apakah pasangan yang masih merintis, stretching from zero, tidak bisa / boleh menikah?

 

Sekarang, mari kita bawa situasi di atas ke ranah perasuransian. Hal ini terkait spin-off. Ketika sebuah unit usaha mempunyai hasrat untuk mendirikan kelembagaan tersendiri, apakah faktor kemampuan finansial (baca: modal) akan tetap menjadi pertimbangan utama?

 

Kenapa bukan kelembagaan spin-off itu sendiri yang menjadi pokok pembahasan. Mengapa bukan dibahas, bagaimana ke depannya unit yang spin-off (dan berdiri mandiri dan terpisah dari Induk) bisa mapan.

 

Kembali, pelaku hanya ribut soal permodalan dan kesiapan-kesiapan lain. Bukan dari esensi kelembagaan spi-off itu sendiri.

 

Mohon maaf, tulisan ini kurang memenuhi standar penulisan saya pada umumnya dan menyiratkan aura emosional saya, karena secara jujur, saya pribadi enggan melakukan pembicaraan atau pembahasan dengan pihak-pihak yang tidak bicara soal lembaga pernikahan (spin-off) tetapi di finansial (modal).

 

Wallahu’alam bishshawab –

Antara Bapak dan Anak (serta Gadget)


Beberapa waktu lalu, di sebuah kedai makan, saya melihat seorang Bapak dengan putranya. Mereka melangkah memasuki tempat makan sembari berbincang. Entah, apa yang dibicarakan, karena saya juga tidak mencuri dengar, dan lagi sepertinya bukan urusan saya mencari tahu ….  #kepo dech 😛
Sang Bapak berpakaian sipil lengkap, sementara anaknya berpakaian santai, t-shirt, celana jeans dan sepatu kets. Dugaan saya, anak tsb berusia 14-16 tahunan, atau di kisaran akhir SMP atau awal SMA. 
Sejurus kemudian mereka memesan makanan. Saya sendiri sekilas memperhatikan mereka dan sempat terbersit rasa iri di hati. Sebuah situasi yang langka, di jaman sekarang ini, terlihat harmonis, ayah dan anak. 
Setelah selesai memesan makanan, dalam kondisi yang nyaman dan duduk bersandar, ternyata keadaan berubah 180°. Masing-masing mulai mengulurkan tangannya ke tempat mereka menyimpan gadget.
Sang Bapak meraih ke tas tangan dan sang anak sedikit membongkar tas sling.nya. Keduanya mempunyai sebuah kesamaan. Sama-sama mencari HP. 
Kehangatan yang tadi terlihat, seketika sirna. Keduanya pun mulai sibuk dengan gadgetnya. Saya yang tadinya enggan mengambil pusing apalagi kepo, tergerak untuk terus memperhatikan keluarga ini. 
Saya memperhatikan, tidak kurang dari 20 menit, sampai pesananan makanan dihidangkan, keduanya benar-benar sibuk dan disibukkan dengan gadgetnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar di antara mereka. 
Saya pun mengucap istighfar. Berdoa, semoga sikap dan kelakuan seperti ini tidak saya alami. Berdoa semoga hal ini tidak saya lakukan ke anak atau keluarga saya. 
Kehangatan yang sebelumnya ada, hilang hanya karena gadget. Saya berdoa, apabila saya diberi umur panjang, dapat saya gunakan sepenuhnya untuk menjaga kehangatan di keluarga saya. 
Ya Rabb, jauhkanlah hamba-Mu ini dari menyia-nyiakan waktu.
Aamiin ~ 

Bincang Asuransi Syariah

Kehadiran asuransi syariah di Indonesia sejak 2 dekade lalu telah mencatat pertumbuhan yang pesat.

Namun hingga kini, masih dijumpai pelaku pasar maupun masyarakat yang belum sepenuhnya memahami tentang asuransi syariah itu sendiri.

Padahal, pemahaman ini penting bagi pelaku pasar seperti Agen asuransi syariah, agar dapat menjelaskan keunggulan produknya ke nasabah.

Sementara bagi calon nasabah atau masyarakat umum, pemahaman ini sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan akan berpartisipasi dalam asuransi syariah.

Solusi untuk kondisi di atas, tidak mudah diperoleh di sekitar kita. Diperlukan diskusi dan pendalaman terkait kendala dalam memahami pengertian asuransi syariah.

Untuk itu hadir sebuah metode kajian yang dilaksanakan secara interaktif dan lugas. Jumlah peserta dibatasi maksimum 5 orang guna memberikan kesempatan sebaik-baiknya bagi peserta untuk berkonsultasi dan berdiskusi dengan narasumber selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, untuk mengukur kadar pemahaman peserta dan hasil yang diperoleh, diadakan pre-test dan post-test kepada seluruh peserta.

Pembahasan materi meliputi:

  • Kaidah syariah di asuransi
  • Manfaat dan keunggulan asuransi syariah
  • Mekanisme asuransi syariah
  • Peluang usaha asuransi syariah
  • Etika pemasaran asuransi syariah

Kegiatan ini dilaksanakan di hari Sabtu, mulai pukul 09:00 s.d 15:00 dan terbuka untuk umum, namun diutamakan bagi para Agen Asuransi Syariah, baik yang hendak mengikuti ujian sertifikasi agen asuransi syariah, maupun yang tertarik untuk memahami lebih mendalam tentang asuransi syariah.

Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan hubungi 0812.8447.6085

Salaam sukses


Wakaf sebagai Bentuk Manfaat bagi Semesta Alam

Wakaf manfaat asuransi syariah dan hasil investasi syariah merupakan sebuah produk yang baru mendapatkan fatwa dari DSN-MUI. 
Sesuai dengan istilah yang disematkan, wakaf berarti menahan sebagian (harta) dengan tujuan untuk disedekahkan (ke pihak lain yang membutuhkan).
Wakaf manfaat asuransi syariah, bisa diartikan sebagai men-sedekahkan harta yang diterima dari manfaat asuransi syariah, termasuk hasil investasinya. 
Wakaf ini sendiri sebenarnya menunjukkan makna sesungguhnya dari keberadaan asuransi syariah yang merupakan perwujudan sebuah lembaga keuangan syariah, sesuai dengan syiar Islam sebagai rahmatan lil alamin. 
Kehadiran Islam, bukan hanya memberikan manfaat bagi para penganutnya. Islam bukan hanya memberikan manfaat bagi manusia. Tetapi lebih jauh dari itu, Islam menjadi rahmat bagi semesta alam.
Hal yang serupa, terjadi di asuransi syariah. Seyogyanya, sebagai sebuah lembaga keuangan syariah, manfaat yang dihasilkan bukan hanya bagi pihak-pihak yang melakukan akad perjanjian (peserta dan pengelola). Tetapi juga memberikan manfaat bagi pihak lain yang bahkan tidak terlibat dalam perjanjian asuransi syariah itu sendiri.
Wakaf yang diberikan oleh peserta, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat awam. Bahkan juga bisa menjadi manfaat bagi lingkungan sekitar. Semisal saja, wakaf yang diwujudkan dalam bentuk masjid yang bisa dipergunakan umat sebagai markaz syiar keagamaan dan pendidikan karakter. Wakaf yang berbentuk lahan produktif, yang bukan hanya berbentuk hasil perkebunan, tetapi juga bisa menjadi lahan penghijauan. 
Apabila, wakaf ini benar-benar dimanfaatkan oleh peserta asuransi syariah, maka manfaat tersebut, Insya Allah, akan terus berlanjut walaupun ybs sudah meninggalkan dunia. 
Wallahu’alam bish shawab