EHN Personal Thought · Family · Health · Insurance · Pic Story · Syiar · Takaful · Travel · Uncategorized

erwin-noekman.com is a personal website of Erwin Noekman — containing his personal thoughts, views, opinions and knowledge. He can be reached at ehn.rumah.hijau@gmail.com 

Anything contained herewith is not related nor represented to any organisation nor company. Hope you’ll find it useful

erwin-noekman.com adalah situs pribadi milik Erwin Noekman — yang berisikan pendapat, pandangan, opini pribadi serta pengetahuan. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi ehn.rumah.hijau@gmail.com

Semua materi yang ada di situs ini tidak mewakili atau mendukung organisasi atau perusahaan manapun. Semoga bermanfaat!

EHN Personal Thought

Pandemik dan Kita (Asuransi Syariah Indonesia)

Musibah yang melanda seluruh dunia saat ini menyebabkan kelumpuhan di berbagai sektor. Industri asuransi syariah tanah air pun terdampak atas pandemik Covid-19. Yang terdekat dan terlihat jelas adalah larangan pelaksanaan ibadah umrah oleh Kerajaan Arab Saudi di akhir Februari 2020 lalu. Berhitung cepat, pandemi ini sudah menyebabkan lebih dari 300 ribu calon jamaah umrah yang harus menunda atau membatalkan ibadahnya.

Dampak lanjutannya terasa di perusahaan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang sangat bergantung dari perputaraan “ekonomi” seputar perjalanan umrah. Kembali hitung cepat, biaya perjalanan umrah sedikitnya 20 juta Rupiah untuk setiap (calon) jamaah umrah. Ditambah biaya pemeriksaan kesehatan, biaya administrasi, perlengkapan, dan sejenisnya, alhasil setidaknya setiap (calon) jamaah umrah mengeluarkan dana sebesar 22 – 25 juta agar bisa berangkat ke tanah suci. Angka ini bertambah, apabila (calon) jamaah menaikkan grade perjalanan (misal 1 kamar untuk 2 orang, atau menambah perjalanan ke negara lain).

A close up of text on a white background

Description automatically generated

Dengan jumlah penundaan di atas, maka terdapat hambatan perputaran dana sekitar 7 triliun Rupiah (untuk 3 bulan). Bila dibagi rata ke semua PPIU, maka masing-masing perusahaan mengalami “opportunity loss” sebesar 7 milar Rupiah. Bila kondisi ini berlanjut, silakan dikalikan 4 untuk menggenapkan selama setahun.

Angka di atas, baru bicara di satu sektor. Bila mau ditelaah satu per satu, tentunya semakin besar angka yang dapat dinumerasikan sebagai “oppotunity loss”. Dampak lebih jauh seperti terlihat di bawah ini.

Atas kondisi yang sedang dialami, terlihat beberapa faktor negatif yang berdampak bagi asuransi syariah. Yang terlihat jelas, perekonomian secara global (bukan hanya di Indonesia) terpuruk. Beberapa pabrik dan usaha juga mengalami penutupan. Pekerja banyak yang dirumahkan atau dilakukan pemutusan hubungan kerja.

Beberapa pos pengeluaran pun menjadi perhatian khusus. Beberapa harus ditekan dan beberapa terpaksa dihapus. Bukan tidak mungkin, pos dana untuk kontribusi asuransi syariah pun termasuk yang ditekan atau dihapus. Ini tentunya menjadi sebuah tantangan tertentu bagi industri.

Hal lain, atas kesemuanya, tingkat kriminalitas meningkat. Di aspek asuransi, moral hazard pun meningkat. Kesulitan ekonomi, mendorong orang berbuat hal yang kurang baik.

Untuk itu, setiap perusahaan asuransi syariah harus menyikapi dengan bijaksana. Di tahap awal, hampir semua perusahaan mengalami “shock” dan hanya bisa menjalankan strategi bertahan (survival). Mereka hanya berpikir untuk tetap exist ketimbang memikirkan keuntungan atau ekspansi.

Setelah (merasa) mampu bertahan, beberapa perusahaan mulai melakukan beberapa penyesuaian, utamanya dikarenakan peningkatan moral hazard di atas. Kondisi turbulence ini merupakan ujian bagi kesehatan keuangan perusahaan asuransi syariah. Alhasil, mereka (terpaksa) kembali menjalankan disiplin underwriting secara prudent.

Setelah beberapa waktu menjalani masa pandemik, beberapa perusahaan sudah memikirkan untuk mengembalikan bisnis “as usual”. Salah satu metode yang dijalani berupa digitalisasi dan pendayagunaan teknologi informasi.

Tahap selanjutnya yang dilakukan perusahaan adalah membudayakan risiko. Penerapan enterprise risk mamagement, business continuity management dan menerapkan prosedur pengawasan dan audit yang lebih baik.

Langkah terakhir (dan menurut saya — paling pamungkas) yang dapat dilakukan oleh setiap pelaku usaha di asuransi syariah adalah mengembalikan nilai luhur asuransi syariah itu sendiri, yaitu tolong-menolong dan saling berbagi.

#dirumahaja

EHN Personal Thought

Geliat Industri Asuransi Syariah di Tengah Wabah Virus Corona

Industri asuransi syariah akan menjalani stress test (terberat) dengan adanya akumulasi ujian. Kesemuanya merupakan imbas dari penyebaran virus Corona (COVID-19).

Dampak pertama kali yang dirasakan oleh industri asuransi syariah adalah penghentian sementara penyelenggaraan ibadah umrah. Ibadah umrah merupakan salah satu tulang punggung baru industri asuransi syariah pasca ditetapkannya kewajiban penggunaan asuransi dengan prinsip syariah bagi seluruh jamaah umrah dari Indonesia. Sebagaima diketahui, jumlah jamaah umrah per tahunnya mencapai angka 1 juta jamaah.

Dengan bilangan yang besar ini, selain sebagai data base, juga menjadi potensi pasar untuk cross-selling produk asuransi lainnya. Di titik awal, bisa jadi sebagai pintu untuk meningkatkan literasi. Setidaknya setiap tahun akan ada 1 juta orang yang mengetahui asuransi syariah, yaitu dari jaminan asuransi syariah bagi jamaah umrah.

Dari sisi pendapatan kontribusi, dapat dikatakan belum terlalu signifikan bagi industri. Dengan besaran kontribusi yang hanya 50 ribu Rupiah namun sudah meliputi 6 (enam) jaminan, angka ini relatif ekonomis. Alhasil, secara akumulasi dalam setahun hanya akan memberikan pertambahan 50 miliar Rupiah.

Namun, kembali seperti disinggung di atas, dengan database 1 juta orang, dimana secara umum dapat dikatakan bahwa peserta umrah adalah kelas menengah ke atas, maka data yang bisa diperoleh merupakan data “premium”. Ingat, data is the new oil.

web - ehn - data is new oil

Di sisi lain, dengan market base 1 juta jamaah per tahun, bila diasumsikan perusahaan asuransi syariah dapat memanfaatkan database dan memperoleh cross-selling sebanyak 10% saja, maka sudah 250 ribu orang yang akan membeli produk asuransi syariah lain. Justru produk-produk asuransi syariah (cross-selling) ini yang sebenarnya lebih memberikan kontribusi. Semisal, untuk kendaraan bermotor, bila diasumsikan 10% jamaah memiliki kendaraan dan menggunakan asuransi syariah, maka perolehannya bisa mencapai 250 miliar Rupiah per tahun. (a)

Hal serupa bisa di-estimasi dari jamaah haji yang berjumlah 220 ribu orang. Dengan metode cross-selling, namun dengan pendekatan yang lebih “pesimis” karena segmentasi jamaah haji relatif beragam, bahkan cenderung medium ke bawah, maka perolehan kontribusi bisa mencapai 30 miliar. (b)

Tanpa perlu merundung karena ujian yang sedang kita jalani bersama, ada beberapa kiat yang bisa dijalani. Tidak bisa dipungkiri bahwa asuransi masih merupakan industri yang penuh dengan sentuhan personal. Pertemuan fisik antara (agen) perusahaan asuransi dengan (calon) nasabah, masih sangat dominan di industri ini. Alhasil, dengan adanya anjuran pemerintah terkait pembatasan keluar rumah, maka ini pun akan berdampak bagi industri asuransi syariah.web - ehn - free ad

Di satu sisi, ujian ini bisa menjadi “free advertisement” bagi industri asuransi syariah. Keadaan yang ada, menunjukkan dan mendorong kita, dan masyarakat awam, bahwa setiap saat kita harus terus berusaha (ikhtiar) sebelum berserah diri kepada yang Maha Kuasa (tawakkal).

Asuransi syariah sebenarnya merupakan salah satu cara ikhtiar manusia. Asuransi syariah bukan untuk merubah apalagi penghilang takdir, melainkan sebatas ikhtiar manusia untuk memenuhi maqashid syariah, antara lain dalam hal menjaga harta.

Pendekatan yang dilakukan, bukan melulu membawa ayat-ayat yang dikait-kaitkan dengan kondisi atau musibah yang sedang ada, melainkan untuk mengingatkan kepada seluruh kalangan masyarakat, bahwa setidaknya, tersedia jaminan asuransi syariah yang dapat dimanfaatkan oleh ummat untuk pengelolaan risiko maupun manajemen keuangannya dengan prinsip syariahweb - ehn - responsive

 

Kembali ke kendala bahwa keterbatasan pertemuan secara langsung sebagaimana di atas, maka diperlukan alternatif “pertemuan” dan konsultansi. Saat ini cara paling efektif, terlebih bagi kalangan milenial, adalah tersedianya website dan dek help yang responsif. Semasa orang bekerja di rumah, diyakini penggunaan internet dan konsumsi data akan melonjak. Bila saja ada query mengenai asuransi syariah ditujukan ke salah satu perusahaan asuransi syariah, maka tanggapan yang responsif bisa membuahkan hasil berupa persetujuan penerbitan polis asuransi syariah.

web - ehn - telemarketing

Hal lain yang juga bisa diupayakan adalah melalui tele-marketing. Walau untuk hal ini terkadang masih terkesan “disturbing” dan “annoying” tetapi penggunaan skema telemarketing ini masih efektif untuk meningkatkan inklusi keuangan di asuransi syariah bagi masyarakat. Penggunaan metode yang tepat dan sesuai dengan peraturan perundangan serta sesuai dengan norma justru bisa menimbulkan efek simpati dan apresiasi dari nasabah yang memutuskan untuk mendapatkan jaminan asuransi syariah.

Kembali ke judul tulisan, in the end, kita semua sepertinya harus berada dalam posisi “kepepet” untuk bisa mengeluarkan jurus-jurus yang paling efektif di masa sulit.

 

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Catatan kaki:

(a) asumsi harga kendaraan di kisaran 100 juta Rupiah, dan kontribusi asuransi syariah Rp. 3 juta per kendaraan dikalikan 250 ribu kendaraan (10% dari total jamaah umrah)

(b) asumsi harga kendaraan di kisaran 100 juta Rupiah, dan kontribusi asuransi syariah Rp. 3 juta per kendaraan dikalikan 11 ribu kendaraan (5% dari total jamaah haji)

 

 

EHN Personal Thought

#Update COVID-19 : 22 Maret 2020 Pukul 15:40 WIB

Data perkembangan penyebaran COVID-19 di Indonesia sebagaimana dikutip dari detik.com menunjukkan angka yang memprihatinkan. Secara statistik, angka kematian di tanah air, 2x dibanding rata2 global. Semoga statistik ini tidak semakin buruk.

Angka kematian global 11.402 dari 275.469 kasus, artinya tiingkat mortalitas 4,14%.

Angka kematian di Indonesia sebanyak 48 meninggal dunia dari 514 kasus, alias sudah mencapai 9,34%. Secara statistis, angka 2x lebih dari rerata global.

Kematian tenaga medis juga perlu menjadi perhatian khusus.

Sebagai masyarakat umum, apa yang bisa kita bantu?

1) social distancing > stay at home / work from home

2) jangan keluar rumah, kecuali untuk urusan mendesak (keperluan sembako, darurat, dsj)

3) tetap jaga nutrisi dan kesehatan

4) perbanyak doa

5) tunda kunjungan ke dokter atau rumah sakit, kecuali untuk keadaan daruat (emergency)

6) apabila sangat terpaksa keluar rumah, jangan pernah melepas masker (dan sarung tangan).

 

Insya Allah, ikhtiar dan tawakkal

 

 

COVID19 - 20200322 1540