about erwin-noekman.com

erwin-noekman.com is a personal website of Erwin Noekman, a (re)insurance and (re)takaful practitioner, containing his personal thoughts, views, opinions and knowledge. He can be reached at erwin.noekman@gmail.com or can be followed on his twitter account @erwin_noekman

Anything contained herewith is not related nor represented to any organisation nor company. Hope you’ll find it useful

erwin-noekman.com adalah situs pribadi milik Erwin Noekman, praktisi (re)asuransi syariah, yang berisikan pendapat, pandangan, opini pribadi serta pengetahuan. Materi juga bisa dipantau di akun twitter @erwin_noekman atau hubungi via email di erwin.noekman@gmail.com

Semua materi yang ada di situs ini tidak mewakili atau mendukung organisasi atau perusahaan manapun. Semoga bermanfaat

Surat Terbuka – Usulan Kepemilikan Bersama Asuransi Syariah oleh Muslim Indonesia

usulan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Jakarta, Ahad 5 Rabiul Awal 1438 / 4 Desember 2016

Kepada Yth.
Para Pejuang Keuangan Syariah
Di tempat

Assalaamu’alaykum warahmatullahi wa barakatuh,

Hal:  Usulan Kepemilikan Bersama Asuransi Syariah oleh Muslim Indonesia

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah azza wa jalla, yang masih memberikan karunia terbesarnya berupa Iman dan Islam serta kesehatan bagi kita semua hingga saat ini. Shalawat serta salaam juga kita curahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, semoga kita semua tetap istiqamah menjalankan ajarannya dan termasuk dalam Umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir. Aamiin.

Seiring dengan “kebangkitan iman” yang sedang dirasakan oleh umat Muslim Indonesia, besar harapan saya ghirah dan semangat menjaga keislaman juga dijalankan dalam maqashid syariah dalam kehidupan sehari-hari.

Tak dapat dipungkiri, baik sengaja maupun tidak sengaja, banyak sekali umat Muslim yang terjebak dalam sistem perekonomian ribawi. Belum lagi yang secara sadar maupun tidak sadar, tergulung dalam aktivitas ekonomi yang penuh gharar, maysir, riswah, mengandung zat haram, maksiat, dsj.

Ide yang dicetuskan untuk memiliki Bank Syariah, merupakan ide mulia. Apabila tujuan kepemilikannya untuk membantu umat, tentunya aktivitas dan operasional Bank Syariah ini nantinya tidak memberikan encouragement atau endorsement kepada Umat untuk berhutang. Melainkan lebih membantu Umat dalam pembiayaan (modal usaha/kerja/produktif, bukan untuk kegiatan konsumtif).

Seiring itu, agar Umat juga mempunyai solusi perlindungan yang sesuai syariah, perlu juga sebuah Perusahaan Asuransi Syariah (ta’min, takaful, taawun). Tujuannya pun harus sama, yaitu menyelamatkan Umat dari kesulitan masa depan apabila musibah menimpanya.

Mekanisme asuransi syariah, sejatinya adalah bentuk kerjasama / gotong-royong, di antara sesama Peserta asuransi syariah.

Para Peserta menggunakan akad hibah (donasi, kontribusi) untuk mengumpulkan Dana Kebajikan (Tabarru). Dana Kebajikan yang terkumpul ini dapat digunakan untuk memberikaan manfaat bagi Peserta yang mengalami musibah. Insya Allah, dengan menggunakan akad ini, tidak ada unsur riba manakala seseorang mendapatkan manfaat manakala ia mengalami musibah.

Secara prinsip, seorang shabibul musibah dibantu oleh Peserta lain yang tidak menderita kemalangan. Bagi shahibul musibah, ia beruntung karena Saudar-saudara Muslimnya, membantunya manakala ia mendapatkan kesusahan. Sedangkan, bagi Peserta yang “beruntung” tidak mengalami musibah, ia pun mendapatkan ganjaran lebih besar lagi, karena membantu Saudara Muslimnya yang sedang mengalami kesusahan. Apalagi, kalau shahibul musibah mendoakan Saudara Muslimnya yang sudah membantunya. Masyaa Allah, silakan dhitung berapa “keuntungan” menjadi Peserta Asuransi Syariah.

Peran sebuah Perusahaan Asuransi Syariah adalah sebagai Pengelola Dana Kebajikan. Dana Kebajikan adalah milik seluruh Peserta (bukan milik Perusahaan). Perusahaan bekerja untuk mengelola keanggotaan dan melakukan administrasi dan meneruskan pemberian manfaat kepada shahibul musibah (~ kira-kira seperti peran amil zakat yang menyalurkan donasi dari para muzaki).

Satu tambahan lagi, sesuai dengan prinsip syariah, apabila pengelolalaan Dana Kebajikan berlebih (jumlah donasi lebih besar dari besaran manfaat kepada shahibul musibah), maka surplus ini bisa dikembalikan kembali ke para Peserta. Unsur kebaikan inilah yang menjadi nilai lebih, bila dibandingkan operasional konvensional yang akan mengambil seluruh keuntungan pengelolaan asuransi pada umumnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, tujuan pendirian atau kepemilikan Asuransi Syariah tentunya bukan mencari keuntungan semata bagi pemilik modal. Bukan semata mengejar besaran profit bagi pemilik modal, melainkan fokus demi penyelamatan Umat dan

Untuk mendirikannya, sebenarnya tidak perlu modal yang terlalu besar. Pendirian sebuah Perusahaan Asuransi Syariah hanya membutuhkan modal Rp. 50 miliar. Dengan melibatkan ribuan atau jutaan partisipasi Muslim, besaran “patungan” sangat minim.

Semisal, jamaah shalat Jumat 212 lalu mengeluarkan sedikit donasi, cukup Rp.6.500, tentunya sudah cukup untuk mendirikan Perusahaan Asuransi Syariah. Dan seluruh jamaah sudah menjadi “pemegang saham” sebuah Perusahaan Asuransi Syariah.

Alternatif lain, bisa juga dengan mengakuisisi atau membeli perusahaan asuransi yang sudah ada, kemudian dimurnikan kesyariahaannya agar mencapai maqashid syariah. Besaran angkanya pun kurang-lebih sama dengan kebutuhan untuk mendirikan perusahaan.

Selanjutnya, guna memastikan keberlangsungan Perusahaan Asuransi Syariah di atas sesuai niatan awal, diperlukan sumber daya insani yang mumpuni, yang siap berjihad, siap hijrah, siap bersikap FAST (fathanah, amanah, shidiq dan tabligh). Saya pribadi, masih meyakini, masih banyak orang baik di negeri ini. Biarlah yang baik menyebarkan kebaikan, sebagaimana kapur barus membersihkan keruhnya air kotor.

Demikian surat terbuka kepada seluruh pejuang keuangan syariah di manapun berada. Semoga Allah azza wa jalla, selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita semua,

Jazakumullah khairan katsiran,

 

Erwin Noekman
(untuk dan atas nama pribadi)

 

# catatan penting dan wajib dibaca:

Mengapa usulan di atas menggunakan “batasan” hanya kepada Muslim? Hal ini semata, dikarenakan tujuan dan niat serta pengharapan yang bukan melulu dalam artian duniawi atau harta, melainkan untuk tujuan akhirat. Dikarenakan minimnya pemahaman saya akan ajaran atau keyakinan agama lain, maka saya menuliskan “batasan” bagi Muslim. Sekiranya, Umat lain juga mempunyai niat dan tujuan yang sama (bukan bertujuan keuntungan semata) silakan bergabung, karena ide ini terbuka bagi siapa saja.

 

 

Tiap-Tiap Umat Ada Aturannya

​Jamuan (Al-Mā’idah):48 –

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kdrmebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Why is Indonesian Insurance Market is so Important?

​Here’s why Indonesia is so important and these are the reasons: 

1) Indonesia is one of the key countries identified by the Association of British Insurers for companies to expand in to

2) Indonesia continues to be seen as the most attractive market in Southeast Asia

3) Low market penetration coupled with the sheer size of the market means huge growth potential

4) 80% of respondents in PwC’s Indonesia Insurance Survey 2016 see innovation in insurance as important

5) Indonesia insurers seek more cost effective ways to acquire, reach and interact with customers

6) Indonesia is rapidly becoming more mobile and companies should be preparing for this shift
7) The need for a strong IT-strategy has never been stronger….
8) Indonesian insurers are now investing in their strategy
Extracted from various sources.

#marketoutlook2017

Market Outlook 2017 – Asuransi Syariah Optimis

market-outlook

Setiap menjelang akhir tahun, setiap orang dan/atau perusahaan selain melakukan evaluasi terhadap apa-apa yang sudah dilakukannya juga mempunyai pandangan ke depan apa yang akan dihadapi di tahun berikutnya.

Secara pribadi, setiap orang biasanya punya resolusi. Entah itu ingin lulus ujian, ganti mobil baru, punya gadget baru, dsb, dll. Secara korporat, setiap perusahaan juga mempunyai rencana kerja dan target untuk dicapai di tahun berikutnya.

… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok … [59:18] 

Hal yang sama, untuk asuransi syariah (takaful) juga perlu mempunyai pandangan mengenai tantangan, hambatan dan opportunities yang akan dihadapi di masa yang akan datang.

Bagaimana prospek industri asuransi syariah ke depannya? Dengan mengandalkan data, statistik dan forecast, diperkirakan asuransi syariah di Indonesia bisa tumbuh di kisaran 15%-20% (dari sisi kontribusi ~ premi syariah). Sementara untuk aset di-estimasikan akan tumbuh lebih besar lagi.

Selain itu, dapat diyakini, pertumbuhan dari sisi jumlah pemain juga akan bertambah. Seiring semakin gencarnya pemilik modal yang ingin meningkatkan status Unit Syariahnya menjadi Perusahaan Asuransi Syariah. Selain itu juga masih tinggi minat dan keinginan pemodal untuk mendirikan Unit Syariah (baru).

Di sisi lain, diperkirakan akan terjadi konsolidasi jumlah pemain reasuransi syariah, seiring dengan roadmap yang dicanangkan Kementrian BUMN untuk membentuk sebuah PRN (Perusahaan Reasuransi Nasional). Diwacanakan, seiring penggabungan induk perusahaan reasuransi, maka Unit Syariah Reasuransi pun turut digabungkan menjadi sebuah PRN Syariah yang lebih besar lagi.

Bila pun ini terjadi, justru diharapkan terjadi peningkatan kontribusi secara keseluruhan.Seiring itu, diharapkan terjadinya efisiensi pengelolaan risiko dan efektifitas daya serap reasuransi dalam negeri.

Pertumbuhan jumlah pemain diperkirakan akan naik, walaupun (kemungkinan) ada juga beberapa perusahaan yang karena kebijakan internal (maupun induk) menutup keran syariahnya. Tetapi secara keseluruhan, diperkirakan akan tetap terjadi penambahan pemain.

 

Sementara, mengutip perkiraan yang dilakukan oleh Swiss Re, pertumbuhan asuransi umum (konvensional) sebesar 5,2% – 5,7% di emerging market (termasuk Indonesia?). AAUI memperkirakan pertumbuhan asuransi umum (konvensional) nasional sebesar 15%-20%, AAJI memperkirakan pertumbuhan 10%-30% untuk asuransi jiwa (konvensional).

Apapun itu, terlihat semua pelaku industri sangat optimis menyambut 2017, lepas dari euforia, fenomena dan kondisi politik dalam negeri.

Barakallah!