EHN Personal Thought · Family · Health · Insurance · Pic Story · Syiar · Takaful · Travel · Uncategorized

erwin-noekman.com is a personal website of Erwin Noekman — containing his personal thoughts, views, opinions and knowledge. He can be reached at ehn.rumah.hijau@gmail.com 

Anything contained herewith is not related nor represented to any organisation nor company. Hope you’ll find it useful

erwin-noekman.com adalah situs pribadi milik Erwin Noekman — yang berisikan pendapat, pandangan, opini pribadi serta pengetahuan. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi ehn.rumah.hijau@gmail.com

Semua materi yang ada di situs ini tidak mewakili atau mendukung organisasi atau perusahaan manapun. Semoga bermanfaat!

EHN Personal Thought

Analisa Klaim Ratio Asuransi Umum Syariah – Q3 2019

EHN - ANALISA DATA ASURANSI SYARIAH - LOSS RATIO

Data dari Otoritas Jasa Keuangan posisi 30 Septemner 2019 menunjukkan kontribusi asuransi umum syariah yang stagnan, walaupun terjadi sedikit kenaikan (dari Rp. 1,313 triliun menjadi Rp. 1,320 triliun). Beruntung, pemberian manfaat (klaim) juga nyaris stagnan, bahkan menurun sedikit ketimbang tahun sebelumnya (dari Rp.566 miliar menjadi Rp.565 miliar). Terjadi kenaikan sebesar Rp.7 miliar, sedangkan klaim menurun Rp.1 miliar.

Dari angka tersebut, dengan menggunakan asumsi porsi Dana Peserta : Dana Pengelola adalah 55% : 45%, maka diperoleh Loss Ratio 78,38% (tahun 2018) dan 76,98% (tahun 2019). Walaupun terlihat masih berada di zona kuning, namun angka ini belum menunjukkan kondisi seutuhnya. Apabila ditelaah lebih jauh, maka angka klaim di atas belum termasuk pencadangannya. Alhasil, apabila perhitungan cadangan (aktuarial) bukan tidak mungkin, loss ratio di asuransi umum syariah, sudah berada di titik nadir.

Jadi, berhati-hatinya dalam menerima penutupan risiko.

 

Salaam –

EHN Personal Thought

The Cover

I got this chain message from a friend of mine, and thought it might be inspiring for some of us.

Once, a girl bought an 1P4D.

When her father saw it he asked,

“What was the first thing you did when you bought it?”

“I put an anti-scratch sticker on the screen and bought a cover for the 1P4D,” she replied.

“Did someone force you to?”

“No.”

“Don’t you think it’s an insult to the manufacturer??”

“No dad, in fact they even recommend using a cover for the 1P4D.”

“Did you cover it because it was cheap and ugly?”

“Actually, I covered it because I didn’t want it to get damaged and decrease in value.”

“When you put the cover on didn’t it reduce the 1P4D’s beauty?”

“I think it looks better, and its worth it for the protection it gives my 1P4D.”

The father looked lovingly at his daughter and said nothing else….

# h i j a b

EHN Personal Thought

“BONTOT”

Melihat seorang mahasiswa membawa “bontot” mengingatkan saya akan kondisi serupa 19 tahun lalu. Di awal abad milenia ini, ketika saya “menemukan kembali” jatidiri saya, saya bertekad meninggalkan kemewahan yang bukan berasal dari hasil keringat saya sendiri.

Salah satunya, sebagai bentuk “tindakan rasional” saya pun membawa “bontot” (bekal) ketika berangkat kerja. Ketika itu saya masih bekerja di kawasan Karawaci, dan tinggal di kawasan Jakarta Barat.

Bekal yang saya bawa cukup bermanfaat, selain lebih sehat juga jelas menghemat biaya.

Seiring waktu, sepertinya kesibukan lebih menyita waktu untuk dapat menyempatkan diri menyiapkan bekal (makan siang).

Dalam perjalanan Jakarta – Depok