Happy Anniversary Honey!

Waktu-waktu jam segini, empat belas tahun yang lalu, merupakan saat yang tak akan pernah terlupakan. Saat itu rasanya bagaikan tubuh yang kehilangab ruh-nya. Waktu itu, pikiran secara kosong dan pandangan terasa hampa.

Saya masih ingat rasanya keringat dingin mengucur deras di tubuh ini. Bukan karena tebalnya jas Betawi warna putih yang saya pakai, tetapi memang karena faktor non teknis 😀 Alhamdulillah semua berjalan lancar. Ijab terucap dengan tegas dan lancar.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Kini dengan ditemani tiga makhluk sempurna penerus generasi, kenangan itu masih tetap manis dan takkan bisa terlupakan.

Aku sungguh beruntung mendapat pendamping hidup yang selalu mendampingi, membimbing dan mendukung setiap gerak langkahku. Sejak awal kehidupan bersama kami yang sangat sederhana pun ia sudah mengorbankan waktu dan tenaganya demi mengurus sang jabang bayi. Ia tinggalkan posisi terbaik di pekerjaan demi mendapatkan jabatan terbaik yang bisa diperoleh oleh seorang wanita, ibu rumah tangga. Salut. Sungguh saya sangat salut kepadanya.

Kini, seiring dengan lika-liku kehidupan. Naik-turun. Gelombang pasang maupun surut. Semuanya kami lalui bersama. Sungguh, sangat beruntung mendapatkanmu.

Happy anniversary honey!

Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya buat kita sekeluarga. Ámiin ~

Advertisements

When we stand as a family, we can achieve great things

Unit Usaha Takaful melaksanakan dharmawisata bersama-sama sepanjang akhir pekan di akhir bulan Agustus lalu. Tujuan yang diambil guna melepaskan kepenatan adalah daerah Ciwideuy, Jawa Barat.

Sejak pagi hari Sabtu, seluruh peserta berkumpul di “kantor pusat” di kawasan Menteng. Dengan menggunakan bus besar (coach) berkapasitas 43 kursi, 31 peserta menikmati perjalanan dengan suka cita.

Di hari pertama, peserta menuju kawasan wisata Situ Patenggang. Dalam perjalanan, guna menambah semangat, panitia menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung.

Tepat siang hari, peserta berhenti sejenak untuk ishoma di sebuah resto di daerah Ciwideuy. Suasana yang sejuk, menambah semangat makan para peserta.

Di Situ Patenggang, peserta menikmati suasana alam berupa situ (danau). Beberapa peserta memilih berwisata air menggunakan perahu bebek. Sebagian lainnya berkeliling danau menggunakan perahu motor menuju Batu Cinta.

Menjelang petang, peserta menuju penginapan di kawasan perkebunan, Rancabali. Total 5 buah cottage disediakan bagi seluruh peserta. Cottage yang terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung, memberikan nilai lebih di kawasan yang dingin ini.

Sebuah catatan bagi calon pengunjung ke lokasi ini, dibutuhkan baju hangat dan kaos kaki guna meredam suhu dingin. Bahkan menjelang pukul 03:00 pagi, suhu bisa turun hingga 4°C. Jadi tidak usah sungkan membawa jaket tebal.

Untuk menambah keakraban, seluruh peserta mengikuti acara ramah-tamah di malam hari, kembali diiringi pembagian doorprize. Beberapa biduan dan biduanita dadakan turut menyumbang suara. Bahkan, sang chief turut mengumandangkan lagu legendaris karya Gerry and The Pacemaker ♫ You’ll Never Walk Alone ♫

Hari kedua dibuka dengan shalat Fajr (Shubuh) berjamaáh di masing-masing vila. Dilanjutkan tea walk, bermain futsal, dan sarapan pagi.

Selanjutnya rombongan berangkat menuju kawasan wisata Kawah Putih. Tiba di site, peserta turun dari bus dan berganti ke kendaraan kecil. Di kawal voorijder, rombongan tiba di gerbang kawah dengan lancar.

Menikmati suasana kawah yang bernuansa cyan muda, rombongan berfoto bersama. Bagi anda yang ingin menikmati keindahan kawah, di sarankan, tidak lebih dari 15 menit, karena dikhawatirkan bisa mengganggu organ pernafasan akibat pengaruh belerang dan zat kimiawi dari kawah yang masih aktif ini.

Menjelang siang, peserta kembali ke meeting point dan turun kembali. Langsung ke tempat makan dan ishoma. Setelahnya, peserta kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Setelah berhenti sejenak di KM 97, rombongan tiba kembali di kawasan Menteng tepat pukul 18:35. Alhamdulillaahirabbil áálamiin semua lancar dan kembali tanpa kurang satu apapun.

Satu yang terpenting adalah, semua peserta sejak berangkat, sepanjang perjalanan, selama aktifitas dan perjalanan pulang, menunjukkan wajah ceria dan penuh senyum. All smiling faces, priceless!

Sungguh senang dan menyenangkan melihat wajah-wajah penuh senyuman.

Indonesia Jaya!
Jasindo Maju!
UUT Barokah!

Ámiin ~

IMG_3166.JPG

IMG_3168.JPG

IMG_3167.JPG

IMG_3165.JPG

Karya Tulis Pertama @abang_zi

Cuplikan dari karya tulis @abang_zi yang membahas Kesadaran Investasi di Kalangan Pelajar.

Jujur saja, dari judulnya saja sudah terbayang “berat” bila dibaca pelajar SMP. Bahkan buat saya sendiri pun, masih cukup berat. Tetapi itulah si Abang. Kesenangan dan keseriusannya membahas investasi bisa membuatnya terjaga hingga larut malam, membaca harian, majalah atau tabloid keuangan.

Kami sendiri, sebagai orang tua, sejak awal membimbing putra/i kami sesuai dengan passion mereka. Every kids is a unique individual. Tiap anak kami berbeda-beda. Beda karakter. Beda kesenangan. Beda bakat.

Rabbi habli minash shalihiin. Ámiin ~

#####

Kesadaran Investasi di Kalangan Pelajar

Latar Belakang

Untuk menghadapi masalah perekonomian dan keuangan di masa depan, ada baiknya setiap orang berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan finansial dengan berinvestasi. Salah satu macam investasi adalah pasar modal yang berwujudkan virtual atau tidak nyata.

Sebuah pasar modal menampung setidaknya ratusan saham, ratusan obligasi dan sukuk serta ratusan reksadana. Hampir seluruh negara memiliki pasar modalnya sendiri. Walaupun pasar modal berwujudkan virtual, ada pula orang yang masih menggunakan cara konvensional atau aset dalam bentuk fisik.

Penulis memilih tema ini untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan pembaca dalam hal berinvestasi terutama dalam pasar modal khususnya di Indonesia. Sehingga kesadaran berinvestasi di pasar modal bagi pelajar dapat ditingkatkan. Dalam karya tulis ini, penulis akan menjelaskan sejarah perkembangan serta menyajikan informasi investasi di pasar modal di Indonesia.

#####

Goodluck Abang! Barakallah ~

Ayah Kami – Bagian 5

Kisah seorang Ayah yang menjadi sosok pahlawan bagi keluarganya

– Bagian 5 –

Satu yang selalu saya ingat, dan memang terpampang di foto-foto keluarga kami, setiap akhir pekan ayah kami selalu berusaha mengajak kami ke suatu tempat. Ancol dan Taman Mini merupakan tujuan akhir pekan kami. Waktu itu, hari libur hanya ada di hari Minggu, sebelum pemerintah menetapkan Sabtu juga sebagai hari libur formal bagi perusahaan-perusahaan.

Di Ancol, kami biasa menikmati pantai (yang kala itu masih lebih bersih dibanding sekarang). Biasanya diakhiri dengan menyantap atau membungkus kerang hijau (kala itu masih jarang yang menjual).

Di Taman Mini, kami biasa menyewa sepeda, bermain, berkeliling mengayuh sepeda tandem. Dulu, saya pernah tidak mau pulang dari anjungan rumah Kalimantan (saya lupa dari Kalimantan bagian mana). Saya menganggap itulah rumah saya 😛

Kebiasaan berakhir pekan ini, terus berlanjut sampai ayah kami mempunyai cucu-cucu. Setiap akhir pekan, biasanya ayah kami sudah siap sejak pagi dan menantikan kehadiran cucu-cucunya di rumah…. Barangkali bukan anak-anaknya yang dinantikan, tapi cucu-cucunya saja 😀

Walaupun ayah kami orang yang tegas dan bisa sangat marah bila ada kesalahan di hadapannya, tetapi sisi yang satu ini membuat kami tidak bisa menghindari kekaguman kami akan sosok sang ayah. Walaupun terkesan ada “jarak” tetapi bila melihat lebih dalam lagi, kami pun menyadari bahwa ayah kami selalu melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Alhamdulillah, tidak ada goncangan berarti di keluarga kami. Alhamdulillah, tidak ada anak-anaknya yang terjerumus narkoba. Bahkan hanya satu di antara anak-anaknya yang merokok, itu pun dengan alasan karena sebagai seorang arsitek, sering bergadang dan butuh refreshing dengan merokok. Selebihnya tidak ada yang melakukannya.

Ayah kami mungkin bukan tipikal orang modern. Sebagai old cracker, beliau tidak sungkan meminta bantuan orang yang lebih junior darinya untuk membantunya, termasuk saya.

Saya sejak SMP sudah menjadi “asisten” ayah kami. Seringkali, apabila ayah kami hendak melakukan presentasi di kantor, dengan keterbatasan beliau menggunakan komputer, beliau meminta saya yang membuatkan power point.

Jadi sebenarnya sejak SMP saya sudah ter-exposed dengan jargon-jargon asuransi, seperti premi, klaim, PML, EML, MPL, treaty, excess of loss, bordereaux, dll. Ternyata di alam bawah sadar saya inilah yang membentuk karakter dan passion saya di industri asuransi.

End of part 5 :
To be continued ~

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~

Ayah Kami – Bagian 4

Kisah seorang Ayah yang menjadi sosok pahlawan bagi keluarganya

– Bagian 4 –

Sampai di tahun 1976, ketika ayah kami mempunyai rezeki yang cukup untuk membeli mobil. Toyota Corolla 74 second. Ketika itu di bulan April, kami sekeluarga besar, bertamasya ke kawasan Puncak.

Rezeki, jodoh, dan ajal memang hanya milik Allah semata.

Kisah “kebanggaan” ayah kami yang bisa mempunyai mobil, ternyata membawa ujian berat bagi kami sekeluarga.

Tak dinyana, mobil yang kami tumpangi disenggol Bus dan kami terperosok masuk jurang di kawasan Cipayung. Hampir semua mengalami cidera. Yang paling parah adalah Kakak tertua kami. Beliau mengalami luka dalam, lambungnya pecah.

Ayah dan Mama kami sangat sayang kepada beliau, tetapi Allah jauh lebih sayang. Di RS PMI Bogor, Kakak kami, alm Fetty Ainun binti Noekman, menghembuskan nafas terakhir.

Saya sendiri masih berusia 2 tahun kala itu dan tidak bisa mengingat apapun dari kejadian itu.

Satu hal yang saya ketahui akibat kejadian itu adalah ayah kami yang mempunyai polis asuransi jiwa, mendapatkan santunan atas wafatnya Kakak kami. Saya diberitahu bahwa ayah kami murka kala perwakilan perusahaan asuransi jiwa. datang ke rumah memberikan santunan atas kematian Kakak kami. Ayah kami menjadi marah dikarenakan kecintaannya kepada sang Kakak, yang menganggap santunan itu sebagai pengganti nyawa.

Alhasil, ayah kami sejak itu tidak mau lagi mempunyai polis asuransi jiwa, dan juga tidak mau memakai mobil merk dan jenis tertentu. Bahkan, atas pesan ayah kami, sekeluarga tidak pernah singgah ke kawasan Puncak selama puluhan tahun. Hingga seingat saya, ketika saya duduk di bangku SMP kelas 2, barulah pintu ke Puncak kembali terbuka, ketika ayah kami sudah bisa melalui trauma melewati kawasan Cipayung, tempat kejadian kecelakaan maut satu dekade sebelumnya.

Yang menariknya, ayah kami adalah seorang underwriter. Tetapi tidak ada satu pun polis asuransi yang dipegangnya, kecuali untuk asuransi kebakaran bagi rumah kami. Saya belum bisa menemukan kesimpulan atas sikap beliau sampai sekarang. Tetapi hipotesa saya, beliau mengambil posisi risk retention ketimbang risk aversion.

End of part 4 :
To be continued ~

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~