Spin-off – Bicara Kelembagaan atau Permodalan

 

Menarik ketika orang bicara tentang lembaga pernikahan. Sebagian besar orang lebih meributkan akan kesiapan finansial (baca: modal) calon pasangan yang akan menikah. Menariknya, justru bukan membahas mengenai kelembagaan pernihakan itu sendiri. Mengapa bukan dibahas, bagaimana ke depannya pasangan yang menikah (dan hidup mandiri dan terpisah dari orangtua) bisa mapan.

 

Menikah, bias diidentikkan seorang anak yang akan hidup mandiri. Lepas dan terpisah dari (rumah) orang tuanya. Semua urusan di-handle sendiri, tanpa campur tangan atau kendali orang tua.

 

Dianggap, bahwa kemampuan finansial menjadi tolok ukura utama. Bila belum punya modal untuk membiayai kehidupan berkeluarga, seakan-akan dipaksa untuk jangan menikah dulu.

 

Kondisi ini seakan mendorong sebuah stigma, bahwa hanya yang kaya yang bisa / boleh menikah. Apakah pasangan yang masih merintis, stretching from zero, tidak bisa / boleh menikah?

 

Sekarang, mari kita bawa situasi di atas ke ranah perasuransian. Hal ini terkait spin-off. Ketika sebuah unit usaha mempunyai hasrat untuk mendirikan kelembagaan tersendiri, apakah faktor kemampuan finansial (baca: modal) akan tetap menjadi pertimbangan utama?

 

Kenapa bukan kelembagaan spin-off itu sendiri yang menjadi pokok pembahasan. Mengapa bukan dibahas, bagaimana ke depannya unit yang spin-off (dan berdiri mandiri dan terpisah dari Induk) bisa mapan.

 

Kembali, pelaku hanya ribut soal permodalan dan kesiapan-kesiapan lain. Bukan dari esensi kelembagaan spi-off itu sendiri.

 

Mohon maaf, tulisan ini kurang memenuhi standar penulisan saya pada umumnya dan menyiratkan aura emosional saya, karena secara jujur, saya pribadi enggan melakukan pembicaraan atau pembahasan dengan pihak-pihak yang tidak bicara soal lembaga pernikahan (spin-off) tetapi di finansial (modal).

 

Wallahu’alam bishshawab –

Advertisements

Bincang Asuransi Syariah

Kehadiran asuransi syariah di Indonesia sejak 2 dekade lalu telah mencatat pertumbuhan yang pesat.

Namun hingga kini, masih dijumpai pelaku pasar maupun masyarakat yang belum sepenuhnya memahami tentang asuransi syariah itu sendiri.

Padahal, pemahaman ini penting bagi pelaku pasar seperti Agen asuransi syariah, agar dapat menjelaskan keunggulan produknya ke nasabah.

Sementara bagi calon nasabah atau masyarakat umum, pemahaman ini sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan akan berpartisipasi dalam asuransi syariah.

Solusi untuk kondisi di atas, tidak mudah diperoleh di sekitar kita. Diperlukan diskusi dan pendalaman terkait kendala dalam memahami pengertian asuransi syariah.

Untuk itu hadir sebuah metode kajian yang dilaksanakan secara interaktif dan lugas. Jumlah peserta dibatasi maksimum 5 orang guna memberikan kesempatan sebaik-baiknya bagi peserta untuk berkonsultasi dan berdiskusi dengan narasumber selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, untuk mengukur kadar pemahaman peserta dan hasil yang diperoleh, diadakan pre-test dan post-test kepada seluruh peserta.

Pembahasan materi meliputi:

  • Kaidah syariah di asuransi
  • Manfaat dan keunggulan asuransi syariah
  • Mekanisme asuransi syariah
  • Peluang usaha asuransi syariah
  • Etika pemasaran asuransi syariah

Kegiatan ini dilaksanakan di hari Sabtu, mulai pukul 09:00 s.d 15:00 dan terbuka untuk umum, namun diutamakan bagi para Agen Asuransi Syariah, baik yang hendak mengikuti ujian sertifikasi agen asuransi syariah, maupun yang tertarik untuk memahami lebih mendalam tentang asuransi syariah.

Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan hubungi 0812.8447.6085

Salaam sukses


Kinerja Asuransi Umum Syariáh Indonesia 2013

Kinerja Asuransi Umum Syariáh Indonesia 2013

Berdasarkan data publikasi yang berhasil dihimpun dari 26 perusahaan asuransi umum syariáh di Indonesia (2 perusahaan asuransi syariáh dan 24 unit syariáh), berikut adalah susunan peringkat sesuai dengan kriteria masing-masing.

• Peringkat berdasarkan asset:
1) Astra Syariáh (626,91M)
2) Adira Syariáh (328,49M)
3) Jasindo Takaful (275,19M)
4) Takaful Umum (261,78M)
5) Sinarmas Syariáh (180,84M)

• Peringkat berdasarkan kontribusi (premi):
1) Astra Syariáh (372,43M)
2) Adira Syariáh (141,59M)
3) Takaful Umum (138,05M)
4) Jasindo Takaful (118,48M)
5) Bintang Syariáh (89,62M)

• Peringkat berdasarkan laba:
1) Astra Syariáh (54,72M)
2) Jasindo Takaful (36,80M)
3) Sinarmas Syariáh (33,14M)
4) Adira Syariáh (29,15M)
5) Bintang Syariáh (13,16M)

• Peringkat berdasarkan hasil underwriting:
1) Bangun Askrida Syariáh (16,90M)
2) Takaful Umum (13,45M)
3) Bintang Syariáh (7,98M)
4) Jasindo Takaful (7,49M)
5) Sinarmas Syariáh (6,44M)

• Peringkat berdasarkan hasil investasi:
1) Astra Syariáh (14,83M)
2) Adira Syariáh (11,37M)
3) Jasindo Takaful (6,58M)
4) Takaful Umum (4,30M)
5) Sinarmas Syariáh (3,53M)

• Peringkat berdasarkan ekuitas:
1) Astra Syariáh (151,82M)
2) Adira Syariáh (111,07M)
3) Sinarmas Syariáh (94,58M)
4) Takaful Umum (81,35M)
5) Jasindo Takaful (64,75M)

* data di atas berdasarkan data publikasi laporan keuangan per 31 Desember 2013

Update hingga tulisan ini disusun, perusahaan asuransi syariah atau unit syariáh yang mempunyai modal disetor terbesar di Indonesia adalah Jasindo Takaful, unit syariáh dari PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero).

Di bulan Mei 2014 telah direalisasikan tambahan modal sehingga modal disetor sebesar Rp. 100.000.000.000,- (seratus miliar Rupiah). Tidak ada perubahan kepemilikan di Jasindo Takaful, artinya 100% masih milik Negara Republik Indonesia.

Di Juni 2014, Jasindo Takaful sudah memiliki asset sebesar Rp. 339,40M. Hal ini berarti dalam kurun waktu 6 bulan sudah terjadi peningkatan sebesar 23%.

Semoga informasi di atas bisa menjadi panduan bagi (calon) nasabah dalam menentukan perusahaan asuransi syariáh yang akan dipilihnya untuk menerima amanah dalam menjaga risiko (calon) nasabah.

with disclaimer on
S.E.&O

.

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~