Edisi Curcol di Malam ke-27 Ramadhan

baru diajak gabung
di sebuah WAG
🙇

ternyata isinya
penuh “aku”
😱

padahal vacuum
sejak 2015
😔

Tebet, Jakarta

11 Jun 2018 | 26 Ramadhan 1439

Advertisements

Menghitung Zakat Perusahaan

Pertanyaan:
Bagaimanakah cara menghitung zakat perusahaan?

Jawab:

Ada Beberapa Prinsip dalam penghitungan Zakat Perusahaan, yaitu:

1. Zakat hanya dibebankan kepada orang muslim dan tidak dibebankan kepada non muslim

2. Aset berupa fasilitas perusahaan tidak terkena zakat, seperti: mobil untuk fasilitas, kantor, computer dan sejenisnya.

3. Zakat perusahaan pada dasarnya menzakati harta orang-orang yang menamkan modal diperusahaan serta keuntungannya.

4. System zakat perusahaan tergantung bidang perusahaan tersebut: Perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan dan keuangan system zakatnya adalah : zakat perdagangan. Perusahaan yang bergerak dibidang pertanian dan perkebunan maka zakatnya adalah zakat pertanian atau perkebunan. Sedangkan perusahaan jasa dan pertambangan ada perbedaan di antara ulama: baik terkait dengan nishab dan besaran zakat yang harus dikeluarkan; sebagian ulama berpendapat mengikuti penghitungan emas serta perak dan ada juga yang berpendapat mengikuti pertanian.

5. Perusahaan yang bergerak di bidang industri: bahan baku yang belum diproduksi masuk dalam hitungan harta yang terkena zakat.

6. Adapun cara menghitung zakat perusahaan yang bergerak di bidang : perdagangan, keuangan, investasi dan jasa (menurut sebagian ulama) : (seluruh uang perusahaan yang ada, baik uang cash maupun di bank + nilai barang yang diperjual belikan ) x 2,5 persen = nilai zakat yang harus dikeluarkan.

7. Bisa juga cara menghitung zakat perusahaan dengan metode penghitungan: (semua asset perusahaan – asset tidak terkena zakat (sarana dan fasilitas) ) x 2,5 persen = nilai zakat yang harus dikeluarkan.

8. Penghitungan zakat perusahaan boleh dilakukan saat tutup buku atau genap satu tahun. Dengan demikian, penghitungan zakat perusahaan tidak berdasarkan pada fluktuasi keuangan yang berlangsung perbulan atau perhari. Penghitungan di lakukan pertahun.

9. Hutang bisa menjadi pengurang bila: nilai hutang itu melebihi nilai asset tidak bergerak perusahaan.

10. Cara menghitung hutang perusahaan dan pengaruhnya terhadap zakat:

Langkah pertama: semua asset tidak bergerak dikonfersi ke rupiah.

Langkah kedua: membandingkan antara beban hutang yang harus dibayar dan nilai asset perusahaan yang berupa harta tidak terkena zakat. Apabila hasilnya ternyata nilai asset itu lebih besar dari beban hutang maka hutang tidak menjadi pengurang zakat. Namun bila nilai hutang lebih besar maka selisihnya (selisih antara nilai asset tidak terkena zakat dan nilai beban hutang) itu yang menjadi pengurang. Kesimpulannya : tidak semua hutang menjadi pengurang.

11. Nilai zakat perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan keuangan : 2,5 persen. Sedangkan nishabnya adalah: 85 gram emas.

12. Nilai zakat perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan: 5 atau 10 persen. Sedangkan nishabnya adalah : 653 kg beras atau senilai dengannya.

13. Nilai zakat perusahaan pertambangan (emas, batu bara, gas dan sejenisnya) adalah : 2,5 persen menurut sebagian ulama dan seperti pertanian menurut ulama yang lain. Sedangkan nishabnya adalah: 85 gram emas dan ada yang berpendapat seperti pertanian.

Dikutip seutuhnya dari situs zakat.or.id dengan URL https://zakat.or.id/menghitung-zakat-perusahaan/

Terakhir di akses 09.06.2018 pukul 11:00 WIB

wallahu a’lam bish shawab

…. kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau ….

Berapa banyak di antara kita terlupa dan lalai memprioritaskan kehidupan kita selama di dunia. Ini tentunya juga saya tujukan bagi diri saya sendiri, sebagai bagian dari muhasabah.

Kehidupan dunia yang sementara telah menyilaukan kita untuk memandang jauh ke depan menuju kehidupan akhirat yang sebenarnya abadi. Bahasa psikologinya, barangkali misorientasi, gagal fokus, bipolar, atau mungkin alzheimer.

Mengapa demikian?

Semata karena kita — berarti meliputi saya sendiri — berjibaku untuk sesuatu yang sementara, sementara kita malah melupakan yang abadi. Fokus kita seharusnya ke yang abadi (akhirat), malah sibuk atau menyibukkan diri ke yang sementara (dunia).

Beberapa dari kita menggunakan dalih bahwa bekerja (di dunia) adalah sebuah kewajiban, sehingga mengalihkan bahwa kewajiban ini harus dipenuhi terlebih dulu. Padahal, kembali ke pembukaan di atas, sebenarnya bekerja sebenarnya adalah alat (tool) kehidupan dunia. Saking parahnya, karena asyik bekerja, beberapa dari kita malah melupakan alat akhirat, misalnya shalat.

Beberapa dari kita, seringkali menunda atau menempatkan alat akhirat (shalat) menjadi prioritas nomor sekian. Beberapa menunda atau bahkan ada yang mengabaikan alat akhirat ini. Ketika panggilan suci berkumandang, berapa banyak dari kita yang masih asyik berkutat dengan dunia, entah itu terkungkung dalam pekerjaannya atau masih asyik ber-gadget ria.

Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawariduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lebih jauh, Allah azza wa jalla, sudah memperingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Peringatan ini bukan hanya disebutkan sekali, melainkan sampai tiga kali di dalam al Quran.

Firman Allah dalam surat al An’am ayat ke 32, artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Lalu dalam surat al Ankabut ayat 64, disebutkan pula firman Allah yang artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dan di surat Muhammad ayat ke 36 diingatkan kembali firman Allah yang artinya :

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Tentunya peringatan di ataa bukan hal kecil, karena disebutkan sampai tiga kali di pedoman hidup kita. Apakah kita masih (berani) melalaikan akhirat kita?

Sungguh…

….kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau….

Wallahu a’alam bish shawab.

22 Ramadhan 1439, menjelang syuruk di Jakarta

Seorang Kopites, antara Khamr dan Riba

Saya adalah seorang Kopites, begitu sebutan bagi pendukung klub sepakbola Liverpool asal Inggris. Sering juga disebut sebagai Liverpudlian atau Merseysider. Dukungan terhadap tim ini sudah ada sejak zaman old.

Kalau penggemar-penggemar millenial mengenal nama-nama populer seperti Salah, Firminho atau Mané, saya sudah kenal nama-nama zaman old seperti King Kenny, John Barnes atau Ian Rush. Semasa kuliah dulu di sana, nama Michael Owen yang paling berkibar.

Salah satu bentuk dukungan yang saya berikan kepada tim saya adalah kepemilikan kaos bola, atau yang biasa disebut jersey. Sebagai sebuah industri yang menjanjikan, tim-tim sepakbola justru menghasilkan laba dari penjualan jersey ini di seluruh pelosok dunia. Bahkan di almamater saya ada jurusan MBA in Football Industry.

Kembali ke soal jersey, saya beberapa kali mengadakan social experiment kepada rekan dan kerabat. Koleksi jersey yang saya punya beragam, termasuk salah satunya yang merupakan kebanggaan saya yaitu berlogo Garuda Indonesia.

Experiment yang saya buat sebenarnya sangat sederhana. Di beberapa hari, saya menggunakan jersey berbeda warna, ada yang merah, hitam atau putih dengan logo sebuah Bank internasional (inisial SC). Pada hari-hari tersebut ketika saya mengenakan jersey, tidak satu pun komentar negatif dari kerabat. Beberapa malah memberikan pujian.

Selang hari berikutnya, saya meggunakan jersey dengan logo sebuah produk bir (inisial C). Kontan, reaksi kerabat pun beragam. Salah satunya bahkan menyinyir… masa sih seorang EHN pakai kaos merk bir.

Saya hanya tersenyum, dan menganggap social experiment saya berhasil.

Berhasil?

Iya, saya anggap berhasil.

Setidaknya saya berhasil membuktikan bahwa tingkat literasi dan pemahaman di kerabat saya adalah minim. Mereka menganggap bahwa bir dianggap lebih berbahaya dibanding Bank (konvensional). Mereka menganggap bahwa khamr lebih “berdosa” dibandingkan riba. Sebuah ironi, bahwa tidak banyak yang faham bahwa bahaya riba sesungguhnya jauuuh lebih berat dan lebih berdosa dibandingkan “sekedar” khamr.

Ketika saya jelaskan, salah satu bahaya riba, bahwa dosa riba jauh lebih besar dari berzinah, sebagian malah tidak menanggapinya. Mereka masih tetap merasa bahwa bir lebih berbahaya, dan lebih tidak pantas “dipromosikan” oleh seorang EHN ketimbang Bank internasional tadi.

Naah, bagaimana menurut anda antara khamr dan riba di atas?

#YNWA

#LFC

#BigRedsIndonesia

Data Industri Asuransi Syariah – Kuartal Pertama 2018

Industri asuransi syariah kembali menunjukkan angka pertumbuhan yang menjanjikan.

Tercatat total aset tumbuh 21,77% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara, kontribusi (premi syariah) naik 35,08%. Sementara angka klaim hanya naik 5,96%.

Selain perolehan year-on-year di atas, industri asuransi syariah di tanah air sepanjang 5 tahun terakhir juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan memperlihatkan sustainability.

Semua data bersumber dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).