EHN Personal Thought

#Update COVID-19 : 22 Maret 2020 Pukul 15:40 WIB

Data perkembangan penyebaran COVID-19 di Indonesia sebagaimana dikutip dari detik.com menunjukkan angka yang memprihatinkan. Secara statistik, angka kematian di tanah air, 2x dibanding rata2 global. Semoga statistik ini tidak semakin buruk.

Angka kematian global 11.402 dari 275.469 kasus, artinya tiingkat mortalitas 4,14%.

Angka kematian di Indonesia sebanyak 48 meninggal dunia dari 514 kasus, alias sudah mencapai 9,34%. Secara statistis, angka 2x lebih dari rerata global.

Kematian tenaga medis juga perlu menjadi perhatian khusus.

Sebagai masyarakat umum, apa yang bisa kita bantu?

1) social distancing > stay at home / work from home

2) jangan keluar rumah, kecuali untuk urusan mendesak (keperluan sembako, darurat, dsj)

3) tetap jaga nutrisi dan kesehatan

4) perbanyak doa

5) tunda kunjungan ke dokter atau rumah sakit, kecuali untuk keadaan daruat (emergency)

6) apabila sangat terpaksa keluar rumah, jangan pernah melepas masker (dan sarung tangan).

 

Insya Allah, ikhtiar dan tawakkal

 

 

COVID19 - 20200322 1540

EHN Personal Thought

Jumat di Rumah

Hari ini, Jumat 20 Maret 2020. Hari mulia bagi ummat Islam. Bagi setiap muslim (laki-laki) adalah kewajiban baginya untuk mendirikan shalat Jumat berjamaah di masjid.

Untuk kali ini, saya tidak ke masjid. Kali ini bukan saya takut tertular virus, tetapi lebih khawatir bila saya yang menularkan virus.

Berdasarkan hasil telusur pribadi, saya menemukan adanya potensi bagi saya dan beberapa rekan kerja sebagai pembawa bibit penyakit (carrier).

Bisa jadi, kondisi yang fit dan sehat, sehingga virus tsb tidak mengakibatkan sakit Tetapi, sebagai carrier, bisa saja bibit itu tertular ke orang lain yg kondisinya sdg lemah (misal anak kecil, orang tua, orang yg sdg sakit).

Seandainya, di lingkungan keluarga, ada yg terkena, kita bisa dengan mudah mendeteksi dan dapat mudah ditelusur, jejak ybs dalam 2 pekan terakhir. Namun, bila yg terpapar adalah orang asing, yg baru kebetulan bertemu, tentunya akan sulit menelusuri asal muasal penyebarannya.

Karenanya, saya menjalani social distancing, bukan karena saya khawatir tertular, tetapi kembali menegaskan bahwa lebih khawatir bila menularkan ke orang lain.

Qadarallah, kaki saya juga sedang kambuh sehingga memang sulit berjalan ke luar rumah. Ditambah, masjid2 sekitar rumah juga tidak menyelenggarakan shalat jumat.

Jakarta, 20 Maret 2020

_wallahu a’lam bish shawab_

EHN Personal Thought · Syariah / sharia · Syiar

Bicara Ujian Kehidupan – Bicara Tawakal

BICARA UJIAN KEHIDUPAN, BICARA TAWAKAL

@erwin_noekman

 

Hari-hari belakangan ini banyak orang disibukkan dengan kasus penyebaran virus Corona (COVID-19). Terlebih, setelah sekian lama, hampir 3 bulan sejak pertama kali kasus ini merebak di kota Wuhan, Tiongkok, barulah secara resmi Pemerintah Indonesia, mengumumkan secara resmi adanya pasien terkena COVID-19.

 

Sebagai pengingat, kasus pertama kali ditemukan pada tanggal 1 Desember 2019, Presiden Indonesia mengumumkan kasus pertama di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Rentang waktu 93 hari.

 

Masih di hari yang sama, beberapa jam sebelum Presiden mengumumkan kasus COVID-19, netizen masih saling menuduh bahwa adanya kasus COVD-19 di Indonesia adalah hoax. Bahkan beberapa yang menyampaikan bahwa di Indonesia sudah ada suspect COVID-19, dianggap sebagai pemecah bangsa.

 

Kembali ke laptop, kasus penyebaran virus ini sebenarnya menjadi ujian bagi setiap orang. Ada yang menganggap ini sebagai ujian, ada yang menganggap ini sebagai azab. Terlepas dari itu hampir semua sependapat, bagi yang memiliki Tauhid, bahwa ini semua berujung kepada Tawakal.

 

Namun, demikian makna tawakkal itu sendiri bisa jadi mempunyai pemahaman yang berbeda antara satu dan lain ummat.

 

Ada yang menyatakan bahwa tawakal adalah murni pasrah atas ketetapan Allah azza wa jalla semata, dengan pengertian bahwa tanpa melakukan apapun, hasilnya pun akan sama.

 

Di sisi lain, ada pendapat yang menyatakan bahwa tawakal merupakan “level tertinggi” dalam derajat keimanan seseorang. Sehingga sebelum mencapai level tersebut, manusia tetap mempunyai kewajiban untuk terus berusaha (ikhtiar). Setelah semua sumber daya, upaya, waktu, tenaga, pikiran, termasuk dana, dikerahkan, barulah di ujungnya “pasrah” menyerahkan semua hasilnya kepada ketetapan Allah.

 

Bagi saya sendiri, saya condong kepada pemikiran kedua. Usaha maksimal, doa maksimal, ikhlas maksimal, tawakal maksimal.

 

Dalam sebuah kisah diceritakan suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri”. Maka beliau berkomentar, “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku dalam bayang-bayang tombak perangku (baca: ghonimah)’. Dan beliau juga bersabda, ‘Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.’ (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi). Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan mengelola pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.” (Fathul Bari, 11/305-306).

 

Dikutip dari https://almanhaj.or.id/965-bertawakal-kepada-allah.html pembahasan tentang tawakal adalah sbb:

 

Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan.

 

قَالَ عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ : قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ

 

“Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. (Musnad asy-Syihab, Qayyid ha wa Tawakkal, edisi 633, 1/368).

 

Apabila kita megambil contoh kehidupan keseharian Rasulullah beliau pun mengambil beberapa tindakan kecil dan sederhana, semisal ketika mendirikan rumah, beliau melengkapinya dengan pintu dan jendela, artinya tidak membiarkan ruangan rumah bebas terbuka.

 

Semua itu, meski mungkin tampak remeh, memberi isyarat tentang makna tawakal. Membiarkan rumah tewrbuka sampai larut malam tanpa dikunci, sementara seisi rumah tertidur lelap, adalah bagian dari kebodohan dan kelalaian, bukan sebagai bagian dari tawakal.

 

Kepada keluarganya yang lalai menjaga rumah, Nabi bersabda, ”Kuncilah pintu rumahmu.”

 

Dalam memimpin berbagai pertempuran, Nabi tidak pernah telanjang dada atau membiarkan tubuhnya tanpa terlindung. Nabi memegang perisai dan memakai baju besi. Bila suasana keamanan sedang gawat, Nabi bertanya, ”Siapa yang akan mengawalku malam ini?” Sehubungan dengan hadis di atas, Imam Sahal (seorang sufi) berkata, ”Barang siapa yang menentang ikhtiar (usaha), berarti menentang Sunnah. Dan barang siapa menentang tawakal, berarti mencela iman.”

 

Usaha tiada akhir pun tersirat dalam sebuah hadits yang berisikan sbb:

 

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

 

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

 

Dengan mengacu kepada pemahaman yang saya miliki, saya memandang bahwa kasus COVID-19 ini pun menjadi bagian dari ujian keimanan kita. Sejauh mana kita berusaha untuk menangkal, menjalani atau menanggulanginya. Ditambah doa sesuai kaidah, terakhir baru menyerahkan sepenuhnya hanya kepada Allah azza wa jalla (tawakal).

 

Wallahu a’lam bish shawab –

 

Jakarta, 04032020