FIFA World Cup 2018 Match Day 1 (Russia – Saudi Arabia)

The opening game of FIFA World Cup 2018 was held at Luzhniski Stadium in the capital city of Moscow.

The match between Russia and Saudi Arabia (Asian representative) ended 5-0 for the host nation.

I would compliment the Russian team for showing their class. Presumely, they can do better in this World Cup edition.

#FairComment

Advertisements

Menghitung Zakat Perusahaan

Pertanyaan:
Bagaimanakah cara menghitung zakat perusahaan?

Jawab:

Ada Beberapa Prinsip dalam penghitungan Zakat Perusahaan, yaitu:

1. Zakat hanya dibebankan kepada orang muslim dan tidak dibebankan kepada non muslim

2. Aset berupa fasilitas perusahaan tidak terkena zakat, seperti: mobil untuk fasilitas, kantor, computer dan sejenisnya.

3. Zakat perusahaan pada dasarnya menzakati harta orang-orang yang menamkan modal diperusahaan serta keuntungannya.

4. System zakat perusahaan tergantung bidang perusahaan tersebut: Perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan dan keuangan system zakatnya adalah : zakat perdagangan. Perusahaan yang bergerak dibidang pertanian dan perkebunan maka zakatnya adalah zakat pertanian atau perkebunan. Sedangkan perusahaan jasa dan pertambangan ada perbedaan di antara ulama: baik terkait dengan nishab dan besaran zakat yang harus dikeluarkan; sebagian ulama berpendapat mengikuti penghitungan emas serta perak dan ada juga yang berpendapat mengikuti pertanian.

5. Perusahaan yang bergerak di bidang industri: bahan baku yang belum diproduksi masuk dalam hitungan harta yang terkena zakat.

6. Adapun cara menghitung zakat perusahaan yang bergerak di bidang : perdagangan, keuangan, investasi dan jasa (menurut sebagian ulama) : (seluruh uang perusahaan yang ada, baik uang cash maupun di bank + nilai barang yang diperjual belikan ) x 2,5 persen = nilai zakat yang harus dikeluarkan.

7. Bisa juga cara menghitung zakat perusahaan dengan metode penghitungan: (semua asset perusahaan – asset tidak terkena zakat (sarana dan fasilitas) ) x 2,5 persen = nilai zakat yang harus dikeluarkan.

8. Penghitungan zakat perusahaan boleh dilakukan saat tutup buku atau genap satu tahun. Dengan demikian, penghitungan zakat perusahaan tidak berdasarkan pada fluktuasi keuangan yang berlangsung perbulan atau perhari. Penghitungan di lakukan pertahun.

9. Hutang bisa menjadi pengurang bila: nilai hutang itu melebihi nilai asset tidak bergerak perusahaan.

10. Cara menghitung hutang perusahaan dan pengaruhnya terhadap zakat:

Langkah pertama: semua asset tidak bergerak dikonfersi ke rupiah.

Langkah kedua: membandingkan antara beban hutang yang harus dibayar dan nilai asset perusahaan yang berupa harta tidak terkena zakat. Apabila hasilnya ternyata nilai asset itu lebih besar dari beban hutang maka hutang tidak menjadi pengurang zakat. Namun bila nilai hutang lebih besar maka selisihnya (selisih antara nilai asset tidak terkena zakat dan nilai beban hutang) itu yang menjadi pengurang. Kesimpulannya : tidak semua hutang menjadi pengurang.

11. Nilai zakat perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan keuangan : 2,5 persen. Sedangkan nishabnya adalah: 85 gram emas.

12. Nilai zakat perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan: 5 atau 10 persen. Sedangkan nishabnya adalah : 653 kg beras atau senilai dengannya.

13. Nilai zakat perusahaan pertambangan (emas, batu bara, gas dan sejenisnya) adalah : 2,5 persen menurut sebagian ulama dan seperti pertanian menurut ulama yang lain. Sedangkan nishabnya adalah: 85 gram emas dan ada yang berpendapat seperti pertanian.

Dikutip seutuhnya dari situs zakat.or.id dengan URL https://zakat.or.id/menghitung-zakat-perusahaan/

Terakhir di akses 09.06.2018 pukul 11:00 WIB

wallahu a’lam bish shawab

…. kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau ….

Berapa banyak di antara kita terlupa dan lalai memprioritaskan kehidupan kita selama di dunia. Ini tentunya juga saya tujukan bagi diri saya sendiri, sebagai bagian dari muhasabah.

Kehidupan dunia yang sementara telah menyilaukan kita untuk memandang jauh ke depan menuju kehidupan akhirat yang sebenarnya abadi. Bahasa psikologinya, barangkali misorientasi, gagal fokus, bipolar, atau mungkin alzheimer.

Mengapa demikian?

Semata karena kita — berarti meliputi saya sendiri — berjibaku untuk sesuatu yang sementara, sementara kita malah melupakan yang abadi. Fokus kita seharusnya ke yang abadi (akhirat), malah sibuk atau menyibukkan diri ke yang sementara (dunia).

Beberapa dari kita menggunakan dalih bahwa bekerja (di dunia) adalah sebuah kewajiban, sehingga mengalihkan bahwa kewajiban ini harus dipenuhi terlebih dulu. Padahal, kembali ke pembukaan di atas, sebenarnya bekerja sebenarnya adalah alat (tool) kehidupan dunia. Saking parahnya, karena asyik bekerja, beberapa dari kita malah melupakan alat akhirat, misalnya shalat.

Beberapa dari kita, seringkali menunda atau menempatkan alat akhirat (shalat) menjadi prioritas nomor sekian. Beberapa menunda atau bahkan ada yang mengabaikan alat akhirat ini. Ketika panggilan suci berkumandang, berapa banyak dari kita yang masih asyik berkutat dengan dunia, entah itu terkungkung dalam pekerjaannya atau masih asyik ber-gadget ria.

Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawariduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lebih jauh, Allah azza wa jalla, sudah memperingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Peringatan ini bukan hanya disebutkan sekali, melainkan sampai tiga kali di dalam al Quran.

Firman Allah dalam surat al An’am ayat ke 32, artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Lalu dalam surat al Ankabut ayat 64, disebutkan pula firman Allah yang artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dan di surat Muhammad ayat ke 36 diingatkan kembali firman Allah yang artinya :

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Tentunya peringatan di ataa bukan hal kecil, karena disebutkan sampai tiga kali di pedoman hidup kita. Apakah kita masih (berani) melalaikan akhirat kita?

Sungguh…

….kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau….

Wallahu a’alam bish shawab.

22 Ramadhan 1439, menjelang syuruk di Jakarta