Indonesia · Insurance · Takaful

Munas AASI

Pada hari ini tanggal 15 Juli 2014 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1435 Hijriyah, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia mengadakan Musyawarah Nasional. Munas AASI ini adalah kali kelima sejak organisasi formal ini dibentuk.

Dengan total anggota sebanyak 53, baik perusahaan asuransi syariáh murni (full fledge) maupun yang masih berbentuk unit syariáh. AASI ini berisikan perusahaan perasuransian, seperti perusahaan asuransi syariáh umum, asuransi syariáh jiwa, perusahaan reasuransi syariáh dan broker.

Munas ini dihadiri oleh 49 perwakilan dan memenuhi quorum.

Pada Munas kali ini disepakati beberapa perubahan di anggaran dasar seperti keanggotaan yang dibuka menjangkau perusahaan penjaminan dan pembiayaan syariáh. Semua peserta hadir menyetujui. Namun proses penerimaan tersebut masih tetap harus mengikuti mekanisme sesuai anggaran rumah tangga dan proses administrasi yang berlaku.

Munas juga menyepakati perubahan struktur organisasi AASI, seperti penambahan Ketua Bidang Micro Takaful dan kemungkinan spin-off Isamic Insurance Society, sayap AASI yang mengurusi sertifikasi syariáh.

Munas kali juga mengarahkan agar di periode yang akan datang, AASI sudah mempunyai permanent office. Seperti diketahui, selama ini AASI masih “menumpang” Sekretariat di sebuah kantor asuransi syariáh di kawasan Buncit.

Salah satu agenda penting Munas kali ini adalah pertanggung-jawaban Pengurus 2011-2014. Masing-masing bidang sudah melaporkan hasil kerja selama 3 tahun kepengurusan. Hasilnya, seluruh peserta menerima laporan pertanggung-jawaban tanpa catatan.

Agenda penting lainnya adalah seiring dengan berakhirnya masa bakti Pengurus lama, dilakukan pemilihan Pengurus baru 2014-2017.

Sesuai tata tertib yang disepakati, proses pemilihan diutamakan melalui musyawarah dan mufakat. Awalnya tersaring 4 kandidat usulan dari Tim Pengarah. Selanjutnya atas masukan peserta bertambah 3 kandidat baru sehingga total terdapat 7 kandidat calon Ketua Umum.

Sesuai prosedur, Ke-tujuh kandidat ini berdiskusi untuk memilih 3 formatur. Namun deadlock karena kandidat hanya berhasil menyaring 4 calon, sementara yang diperkenankan maksimum 3 calon.

Langkah selanjutnya, pimpinan sidang menyerukan diadakannya pemungutan suara (voting). Masing-masing anggota mempunyai 1 hak suara yang diperkenankan menyebutkan 2 kandidat.

Pengumuman hasil voting tersebut dilakukan setelah peserta mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Bpk Syakir Sula, pelopor dan pejuang asuransi syariáh Indonesia.

Setelah ifthar diperoleh hasil voting pemilihan Ketua Umum AASI dengan urutan suara terbanyak sbb:
1) Bpk Adi Pramana – Direktur Syariáh – PT Reasuransi Internasional Indonesia
2) Ibu Tati Febrianti – Kepala Unit Syariáh – Asuransi Astra Buana
3) Bpk Erwin H. Noekman – Kepala Unit Usaha Takaful – PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero)
4) Bpk Taufik – Direktur Teknik – Jaya Proteksi Takaful
5) Ibu Srikandi Utami – Kepala Unit Syariáh – Sunlife Financial
6) Nurhayati – Direktur Teknik – Asuransi Bumi Putera Muda
– satu kandidat lain tidak mendapat suara

Dari kandidat di atas, dipilih 3 orang peraih suara terbanyak sebagai anggota Tim Formatur, yaitu Bpk Adi Pramana, Ibu Tati Febrianti dan Bpk Erwin H. Noekman. Sesuai tata tertib, Tim Formatur bermusyawarah untuk menentukan Ketua Umum AASI. Alhamdulillaahirabbil áálamiin, Tim Formatur bersepakat mengangkat Bpk Adi Pramana sebagai Ketua Umum AASI yang baru menggantikan Bpk Shaifie Zein. Selebihnya dua Tim Formatur akan menjadi Pengurus inti AASI periode 2014-2017.

Tim formatur juga mempunyai kuasa penuh menunjuk anggota pengurus lainnya dalam waktu 1 bulan ke depan.

Mari, kita sama-sama doakan semoga pengurus AASI yang baru terpilih bisa bekerja dengan penuh amanah dengan semangat semakin mengibarkan industri asuransi syariáh di Indonesia.

Tak lupa, kita sama-sama ucapkan terima kasih atas kerja keras dan kerjasama yang telah diberikan oleh Pengurus sebelumnya. Barakallah.

Sukses AASI! Sukses asuransi syariáh Indonesia!

Semoga Allah azza wa jalla memberkati para mujahid ekonomi syariáh. Ámiin ~

* photo courtesy of Bpk Fajar Firdaus with no intention of commercial use *

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~

20140715-213514-77714296.jpg

EHN Personal Thought · Syiar

Panutan

Tergerak saya untuk menulis tema di atas, sepertinya ada salah dalam penyampaian maksud ke rekan-rekan saya atau bisa jadi kerabat saya yang salah mengartikan ucapan saya.

Menjadi panutan bagi anak, tidak melulu harus sukses di karir, begitu pendapat seorang teman yang menerjemahkan perkataan saya.

Bukan bermaksud membela diri, tetapi mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu memberi pemahaman yang sesungguhnya dari maksud saya.

Yang saya maksud dari penyampaian saya adalah bahwa setiap orang, utamanya laki-laki, ketika keluar rumah, mempunyai kewajiban ber-ikhtiar dan melakukan yang terbaik.

Ketika berada di tempat kerja, adalah kewajibannya melakukan yang terbaik. Bagi saya sendiri, tempat kerja adalah media belajar yang bisa memberikan kita kecerdasan, baik mental maupun spiritual. Ketika pekerjaan menuntut tingkat pengetahuan dan kompetensi tertentu, menjadi kewajiban kita untuk memenuhinya.

Yang sebenarnya saya maksudkan adalah bahwa setiap orang berkewajiban menjadi lebih baik (baca: bedakan dengan sukses). Lebih baik disini artinya lebih baik dalam pelayanan, lebih baik dalam pekerjaan, lebih baik dari sisi pengetahuan, lebih baik dalam berkomunikasi, lebih baik dalam menerima keadaan, lebih baik dalam menangani case, lebih baik dalam menjaga hubungan antar-manusia, lebih baik dalam beribadah, dan lain-lain lebih baik.

Kewajiban manusia adalah berbuat lebih baik. Soal rezeki, itu semua domain Allah azza wa jalla. Tetapi pastinya, Allah sudah berfirman, nasib seseorang hanya akan berubah atas ikhtiarnya sendiri [QS.13:11].

Kita pun diwajibkan untuk berbuat lebih baik, dari hari ke hari. Karena apabila kondisi kita di hari ini sama dengan kemarin, kita termasuk orang merugi. Celakanya lagi bila kondisi kita hari ini lebih buruk dari kemarin.

Maksud penyampaian saya sebenarnya adalah mengambil kisah nyata yang saya alami sendiri. Kisah almarhum ayah kami, benar-benar menjadi inspirasi hidup saya. Sebagai informasi buat semua, kami bukan berasal dari keluarga tajir.

Saya, sebagai seorang anak, menjadikan ayah kami sebagai panutan. Kembali, bukan karena “sukses” beliau, melainkan semangat dan kemauan beliau untuk terus menjadi lebih baik.

Beliau memang memulai dari (sangat) bawah. Awal perjuangan merantau sejak usia belasan tahun beliau hijrah dari tanah asalnya di tengah hutan Sumatera, menuju ibu kota. Kerja apapun dilalui beliau sepanjang legal dan halal. Beliau pun menghidupi dirinya sendiri dan biaya sekolah dengan menjadi kuli. Ya kuli, K-U-L-I. Saya lebih “bangga” menyebut pekerjaan beliau kuli ketimbang “diperhalus” dengan istilah buruh.

He started from the scratch. From zero to hero.

Belajar dan memperbaiki diri tidak memandang usia. Jujur, saya tidak melihat “sukses” ayah kami sebagai inspirasi saya. Tapi tekad dan semangat beliau lah yang menjadi inspirasi saya. Ayah kami menjadi inspirasi (baca: panutan) karena beliau sendiri tidak malu dan tidak sungkan untuk belajar. Saya masih ingat, bahwa ketika saya masih kelas 3 SD, kami masih menjemput ayah kami di malam hari karena baru pulang belajar bahasa Inggris. Artinya ketika itu, ayah kami sudah berusia ½ abad. Di usia “sepuh” seperti itu beliau tetap berusaha memperbaiki diri, menambah kompetensi dan pengetahuan. Inspirasi ini yang saya jadikan panutan.

Saya sendiri, bukan serta merta bekerja mendapatkan posisi enak dan nyaman. Di awal-awal saya bekerja pun, saya naik-turun angkot. Bahkan untuk berhemat, saya pun membawa “bontot” (bekal makan siang) ketimbang membeli makan siang di kantor. Rekan-rekan kantor dulu pun (mungkin) terkaget-kaget melihat sikap saya seperti itu.

Malu, tidak ada di kamus saya. Selama halal, saya kerjakan dan lakukan semua upaya.

Pernah pula saya ke kantor kala itu di Tangerang, membawa barang jualan berupa dompet pria dan wanita sekitar 70 buah. Saya masih ingat, saya membawa 1 travel bag khusus buat barang dagangan. Alhamdulillaahirabbil áálamiin, ludes semua dibeli rekan-rekan kantor waktu itu. Padahal saat itu, saya meyakini bahwa saya bukanlah marketer. Tetapi setelah habis semua barang dagangan itu dalam sehari jualan, saya bersyukur, bahwa saya dipercaya.

Satu hal yang saya catat dari berdagang, seperti kisah Rasulullah, dibutuhkan kepercayaan bagi pembeli untuk membeli barang atau jasa kita.

Kembali ke laptop.

Nah, kisah ini yang sebenarnya ingin saya sampaikan ke rekan-rekan saya di kantor. Bahwa kita (termasuk saya sendiri) mempunyai kewajiban memperbaiki diri, selebihnya (rezeki, jodoh, ajal) biarlah Allah yang mengaturnya.

Jadi, yuk kita sama-sama berbuat lebih baik lagi, buat kita sendiri, buat keluarga, buat sesama dan buat alam.

Wallahu’alam bish shawab ~

20140705-115415-42855014.jpgg

Bola + Football + Soccer · EHN Personal Thought

#FIFAWC2014 #01 #BRA 3-1 #CRO

Disclaimer:
After been “secluded myself” for years, I’m daring myself to post football match review, based on my own personal opinion.


Match ONE

The opening game of #FIFAWC2014 had been initiated in Sao Paolo, on 12 June 2014 (13 June 2014 in Jakarta) with a victory of the host nation Brazil over the Balkan contender Croatia. Neither is my fav team.

The score was 3-1. All 4 goals were scored by Brazilian. Marcelo (BRA) “scored” own goal in 11′, Neymar (BRA) 29′ and 71′ (penalty) and Oscar concluded the game with his goal on 90’+1′.

Marcelo (BRA) own goal in 29′ remarked as the first ever the Yellow-Blue team conceded in their history. It was also the first ever own goal that opens the world cup in all edition.

Neymar (BRA) was voted as the Man of the match, who scored twice in this game.

Played with a composition of 4-2-3-1, Brazil with strong World Cup tradition possessed the majority of the game with 58% ball possession.

There were total of 24 shots, 13 of them were on goals, but none of corner kick was given during 90 minutes.

The games was coloured with 4 yellows from total of 26 fouls.

Other match stats [BRA|CRO]
Ball possession 58%|42%
Shots on goal 9|4
Shots 14|10
Fouls committed 5|21
Yellow cards 2|2

 

EHN Personal Thought · Family

Lelaki Kerja di Rumahan…. What’s wrong with that?

Lelaki kerja di rumahan…. What’s wrong with that?

Secara umum dan demi alasan budaya dan sebagainya, prototype seorang suami (baca: lelaki) digambarkan sebagai tokoh yang kuat, pencari nafkah, penopang kehidupan keluarga dan menjadi role model bagi para anak (lelaki). Sementara, tokoh seorang ibu (baca: perempuan) lebih digambarkan sebagai sesorang yang lemah lembut, tinggal di rumah, mengayomi keluarga, mengasuh anak dan ujung-ujungnya…. sebagai tukang bersih-bersih di rumah.

Kayaknya, hari gini, prototype kayak gitu udah ngga laku lagi dech…

Begitu banyak perempuan yang bekerja di kantoran. Karirnya pun banyak yang lebih tinggi dari para lelaki. Bahkan sekarang ini perusahaan (swasta?) lebih banyak melakukan recruitment tenaga perempuan, karena dimata perusahaan biaya mereka relatif lebih murah (tidak ada dependant, potongan pajak lebih kecil, medical expenses, umumnya ditanggung suami, dsb). Lebih jauh, secara psikologis (dan juga kembali secara prototype) sosok perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tidak mungkin melakukan kecurangan (korupsi, abusive of power, dsb). Sehingga kalau mau jujur, ke depan, kesempatan karir para perempuan justru lebih terbuka lebar dibandingkan dengan para lelaki. Kalau mau jujur juga…. penjahat sich ngga melihat jenis kelamin… artinya…. lelaki atau perempuan, kalo mau korupsi, kalo mau selingkuh, kalo mau kejam… sama aja koq. Bahkan, umumnya perempuan lebih banyak “bermasalah” di lingkungan kantor karena menggunakan perasaan, jadinya timbullah kecemburuan, sentiment pribadi, dsb, dsb….

Tetapi, keberadaan seorang perempuan di lingkungan kerja dianggap sebagai hal yang biasa. Alasan emansipasi lah dijadikan perisai untuk menjadikan mereka mendapatkan privilege….

Kembali ke topik di atas….

Kalau perempuan berada di kantor dianggap biasa – padahal tidak sesuai dengan prototype awal – bagaimana dengan sosok pria yang tinggal di rumah…..

Saya cukup yakin, tulisan saya ke bawah ini akan mengundang komentar-komentar, most likely, menentang….

Mari kita mulai…

Bila seorang lelaki, karena tinggal di rumah apa yang akan terjadi?

Lingkungan sosial (baca: lingkungan pencemooh, gossiper, dsb) akan menjadi pihak pertama yang berteriak. Lelaki itu akan dianggap sebagai seseorang yang “gagal”. Lelaki itu akan dicemooh, dicaci, dimaki, dihina, dsb, dsb….

Regardless, alasan lelaki tadi berada di rumah… what’s wrong with that?

Tidakkah orang percaya kepada takdir?

Seperti yang saya gambarkan di atas, kesempatan kerja untuk lelaki akan semakin sempit. Dampaknya…. yah pastinya akan semakin banyak lelaki yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan…

Bila kondisi di atas terjadi, seorang lelaki yang percaya kepada Tuhan dan bertawakal tentunya akan membuka matanya, mengesampingkan ego kelelakiannya dan bersikap reasonable. Bila ia sudah menikah, sementara istri-nya mempunyai kesempatan untuk terus bekerja, mengapa tidak saling terbuka?

Sang lelaki di rumah menjaga dan mengasuh keluarga, sementara sang perempuan beralih menjadi bread winner. Harus ada kerelaan dari masing-masing pihak. Kalau ego lelaki tetap tinggi, ia akan memaksa istrinya juga tetap di rumah. Bila ego perempuan tinggi, ia juga bisa menuntut pisah dari lelaki yang dianggapnya “loyo”.

Padahal kalau dipikirkan, pasangan sudah bersama sejak awal, sejak sama-sama merintis. Kadang di tengah jalan ada saja “gangguan”, sesutu yang terlihat mengkilat hingga menyilaukan mata… Padahal bisa jadi, gangguan ini hanya melihat sosok yang dianggapnya sukses… tanpa melihat ke belakang, bagaimana susahnya di masa-masa awal….

Bila itu sudah terjadi… apakah kebersamaan yang sudah dibangun sejak titik nol ditinggal begitu saja… so unfair… so unfair…

Situasi di atas, saya gambarkan bila seorang lelaki terkena dampak downsizing atau rasionalisasi…

Bagaimana bila seorang lelaki berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, sementara ia tetap ke kantor… for me… he is a real super man… bisa digambarkan sebagai sosok yang mempunyai delapan tangan yang mampu meng-handle dan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan di kantor dan kehidupan di rumah.

Mungkin bagi para lelaki lain, melihat seorang petinggi mencuci piring, menyapu halaman, mengepel, atau menyuapi anaknya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang absurd.

Entah bagaimana pandangan perempuan melihat itu… mungkin ada yang mengacungkan jempol, melihat empati seorang lelaki membantu perempuan – tanpa rasa canggung.

Atau mungkin ada pula yang mencibir…. ich mau aja disuruh-suruh istri… pasti tuch lelaki ISTI (ikatan suami takut istri)… Padahal sich mungkin cibiran itu keluar, karena suami dari perempuan itu tidak mau melakuakn hal yang sama 😀

Sungguh aneh, bahkan seorang kerabat – yang katanya mendalami ilmu agama. Berkomentar sinis bila melihat seorang lelaki berada di dapur, apalagi kalau melihat lelaki itu menyapu halaman rumah ya… wah bisa-bisa keluar fatwa haram kali ya… 😀

Padahal sich, singkat saja – ilmu agama saya sich ngga dalem-dalem banget – yang penting bagi saya, ilmu itu diamalkan, bukan dipelajari terus dipendem sendirian. Bagi saya, melakukan hal-hal seperti di atas, bukanlah sesuatu yang taboo, apalagi kalau menganggap hal ini menurunkan derajat lelaki.

Ngga lah.

Derajat seseorang (doesn’t matter men or women) bukan dilihat dari pakaian, bukan dari mobil, bukan dari rumah, bukan dari harta, bukan dari pendidikan, bukan dari jabatan…. Semua itu tidak akan ada artinya, kalau kelakuannya tidak mencerminkan dirinya sendiri…

Muhammad bin Abdullah – salam sejahtera bagi dirinya, keluarga serta umatnya – manusia terhebat sepanjang sejarah alam, yang pada masanya sebagai penguasa jazirah Arab, pemimpin tertinggi umat, manusia tersuci di mata sang pencipta… dalam riwayatnya diceritakan bahwa beliau tidak membiarkan istrinya menyapu halaman rumahnya, melainkan beliau sendiri yang melakukannya.

Apakah taboo seorang rasul melakukan hal itu?

Apakah taboo bagi seorang atasan melayani anak buahnya?

Apakah taboo ketika CEO Walt Disney menyapu playground theme park-nya?

Apakah taboo ketika CEO McDonalds turun ke gerainya membersihkan bekas makanan pelanggannya?

Apakah taboo ketika seorang Pimpinan menyapu halaman rumahnya sendiri? Mengepel rumahnya sendiri? Menyuapi anaknya? Menggantikan diaper?

What’s wrong with that???

Realistis aja dech, kalo bisa dan mau membantu – ngga usah mikirin orang lain.

Inget aja cerita Luqman, anaknya dan seekor keledai. Singkat kata – apapun yang kita lakukan, tidak akan lepas dari “omongan” orang lain….

Makanya ada peribahasa, anjing menggonggong, khafilah berlalu….

Intinya… asal ikhlas, ber-empati dan berusaha menyenangan hati orang lain… everything’s gonna be alright…

Life is already complicated, don’t make it even worse.

[Jakarta, 22.06.2009]

Salaam –