Lelaki Kerja di Rumahan…. What’s wrong with that?

Lelaki kerja di rumahan…. What’s wrong with that?

Secara umum dan demi alasan budaya dan sebagainya, prototype seorang suami (baca: lelaki) digambarkan sebagai tokoh yang kuat, pencari nafkah, penopang kehidupan keluarga dan menjadi role model bagi para anak (lelaki). Sementara, tokoh seorang ibu (baca: perempuan) lebih digambarkan sebagai sesorang yang lemah lembut, tinggal di rumah, mengayomi keluarga, mengasuh anak dan ujung-ujungnya…. sebagai tukang bersih-bersih di rumah.

Kayaknya, hari gini, prototype kayak gitu udah ngga laku lagi dech…

Begitu banyak perempuan yang bekerja di kantoran. Karirnya pun banyak yang lebih tinggi dari para lelaki. Bahkan sekarang ini perusahaan (swasta?) lebih banyak melakukan recruitment tenaga perempuan, karena dimata perusahaan biaya mereka relatif lebih murah (tidak ada dependant, potongan pajak lebih kecil, medical expenses, umumnya ditanggung suami, dsb). Lebih jauh, secara psikologis (dan juga kembali secara prototype) sosok perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tidak mungkin melakukan kecurangan (korupsi, abusive of power, dsb). Sehingga kalau mau jujur, ke depan, kesempatan karir para perempuan justru lebih terbuka lebar dibandingkan dengan para lelaki. Kalau mau jujur juga…. penjahat sich ngga melihat jenis kelamin… artinya…. lelaki atau perempuan, kalo mau korupsi, kalo mau selingkuh, kalo mau kejam… sama aja koq. Bahkan, umumnya perempuan lebih banyak “bermasalah” di lingkungan kantor karena menggunakan perasaan, jadinya timbullah kecemburuan, sentiment pribadi, dsb, dsb….

Tetapi, keberadaan seorang perempuan di lingkungan kerja dianggap sebagai hal yang biasa. Alasan emansipasi lah dijadikan perisai untuk menjadikan mereka mendapatkan privilege….

Kembali ke topik di atas….

Kalau perempuan berada di kantor dianggap biasa – padahal tidak sesuai dengan prototype awal – bagaimana dengan sosok pria yang tinggal di rumah…..

Saya cukup yakin, tulisan saya ke bawah ini akan mengundang komentar-komentar, most likely, menentang….

Mari kita mulai…

Bila seorang lelaki, karena tinggal di rumah apa yang akan terjadi?

Lingkungan sosial (baca: lingkungan pencemooh, gossiper, dsb) akan menjadi pihak pertama yang berteriak. Lelaki itu akan dianggap sebagai seseorang yang “gagal”. Lelaki itu akan dicemooh, dicaci, dimaki, dihina, dsb, dsb….

Regardless, alasan lelaki tadi berada di rumah… what’s wrong with that?

Tidakkah orang percaya kepada takdir?

Seperti yang saya gambarkan di atas, kesempatan kerja untuk lelaki akan semakin sempit. Dampaknya…. yah pastinya akan semakin banyak lelaki yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan…

Bila kondisi di atas terjadi, seorang lelaki yang percaya kepada Tuhan dan bertawakal tentunya akan membuka matanya, mengesampingkan ego kelelakiannya dan bersikap reasonable. Bila ia sudah menikah, sementara istri-nya mempunyai kesempatan untuk terus bekerja, mengapa tidak saling terbuka?

Sang lelaki di rumah menjaga dan mengasuh keluarga, sementara sang perempuan beralih menjadi bread winner. Harus ada kerelaan dari masing-masing pihak. Kalau ego lelaki tetap tinggi, ia akan memaksa istrinya juga tetap di rumah. Bila ego perempuan tinggi, ia juga bisa menuntut pisah dari lelaki yang dianggapnya “loyo”.

Padahal kalau dipikirkan, pasangan sudah bersama sejak awal, sejak sama-sama merintis. Kadang di tengah jalan ada saja “gangguan”, sesutu yang terlihat mengkilat hingga menyilaukan mata… Padahal bisa jadi, gangguan ini hanya melihat sosok yang dianggapnya sukses… tanpa melihat ke belakang, bagaimana susahnya di masa-masa awal….

Bila itu sudah terjadi… apakah kebersamaan yang sudah dibangun sejak titik nol ditinggal begitu saja… so unfair… so unfair…

Situasi di atas, saya gambarkan bila seorang lelaki terkena dampak downsizing atau rasionalisasi…

Bagaimana bila seorang lelaki berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, sementara ia tetap ke kantor… for me… he is a real super man… bisa digambarkan sebagai sosok yang mempunyai delapan tangan yang mampu meng-handle dan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan di kantor dan kehidupan di rumah.

Mungkin bagi para lelaki lain, melihat seorang petinggi mencuci piring, menyapu halaman, mengepel, atau menyuapi anaknya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang absurd.

Entah bagaimana pandangan perempuan melihat itu… mungkin ada yang mengacungkan jempol, melihat empati seorang lelaki membantu perempuan – tanpa rasa canggung.

Atau mungkin ada pula yang mencibir…. ich mau aja disuruh-suruh istri… pasti tuch lelaki ISTI (ikatan suami takut istri)… Padahal sich mungkin cibiran itu keluar, karena suami dari perempuan itu tidak mau melakuakn hal yang sama 😀

Sungguh aneh, bahkan seorang kerabat – yang katanya mendalami ilmu agama. Berkomentar sinis bila melihat seorang lelaki berada di dapur, apalagi kalau melihat lelaki itu menyapu halaman rumah ya… wah bisa-bisa keluar fatwa haram kali ya… 😀

Padahal sich, singkat saja – ilmu agama saya sich ngga dalem-dalem banget – yang penting bagi saya, ilmu itu diamalkan, bukan dipelajari terus dipendem sendirian. Bagi saya, melakukan hal-hal seperti di atas, bukanlah sesuatu yang taboo, apalagi kalau menganggap hal ini menurunkan derajat lelaki.

Ngga lah.

Derajat seseorang (doesn’t matter men or women) bukan dilihat dari pakaian, bukan dari mobil, bukan dari rumah, bukan dari harta, bukan dari pendidikan, bukan dari jabatan…. Semua itu tidak akan ada artinya, kalau kelakuannya tidak mencerminkan dirinya sendiri…

Muhammad bin Abdullah – salam sejahtera bagi dirinya, keluarga serta umatnya – manusia terhebat sepanjang sejarah alam, yang pada masanya sebagai penguasa jazirah Arab, pemimpin tertinggi umat, manusia tersuci di mata sang pencipta… dalam riwayatnya diceritakan bahwa beliau tidak membiarkan istrinya menyapu halaman rumahnya, melainkan beliau sendiri yang melakukannya.

Apakah taboo seorang rasul melakukan hal itu?

Apakah taboo bagi seorang atasan melayani anak buahnya?

Apakah taboo ketika CEO Walt Disney menyapu playground theme park-nya?

Apakah taboo ketika CEO McDonalds turun ke gerainya membersihkan bekas makanan pelanggannya?

Apakah taboo ketika seorang Pimpinan menyapu halaman rumahnya sendiri? Mengepel rumahnya sendiri? Menyuapi anaknya? Menggantikan diaper?

What’s wrong with that???

Realistis aja dech, kalo bisa dan mau membantu – ngga usah mikirin orang lain.

Inget aja cerita Luqman, anaknya dan seekor keledai. Singkat kata – apapun yang kita lakukan, tidak akan lepas dari “omongan” orang lain….

Makanya ada peribahasa, anjing menggonggong, khafilah berlalu….

Intinya… asal ikhlas, ber-empati dan berusaha menyenangan hati orang lain… everything’s gonna be alright…

Life is already complicated, don’t make it even worse.

[Jakarta, 22.06.2009]

Salaam –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s