EHN Personal Thought

#YNWA

You’ll Never Walk Alone

When you walk through the storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of the lark

Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

 
A very encouraging theme song of Liverpool Football Club.

EHN Personal Thought · Syiar

Karir | Hijrah

Dear all,

Berikut re-post kultwit saya dari akun @erwin_noekman

Semoga bermanfaat!

– – –

Assalaamu’alaikum wr. wb. Hari ini saya ingin sharing opini pribadi tentang #karir #hijrah *disclaimerON

Tentunya ada kalanya setiap diri kita merasakan beban berat manakala terbangun dari tidur untuk bergerak ke kantor #karir

Beberapa dari kita yang mempunyai #passion akan segera terbangun dan sangat bersemangat untuk memulai hari #karir

Tetapi banyak dari kita yang justru berkata (dalam hati) “… duuuh, mengapa sich harus ke kantor pagi ini …” #karir #hijrah

Padahal, dengan bekerja itu bisa jadi lahan amal dirinya di dunia dan kelak di akhirat nanti #karir #hijrah

Seorang pemikir dari India Abdul Kalam pernah mengatakan “Cintai pekerjaanmu, tapi jangan cintai kantor-mu” #karir

Lanjutnya “karena kamu tidak akan pernah tahu, kapan kantormu akan berhenti mencintaimu” #karir #hijrah

Mungkin twit saya ini (lebih banyak) menyasar para #karyawan dibanding para #pengusaha *talktomyself #karir

Allah azza wa jalla telah menyediakan 10 pintu rejeki #karir #hijrah

9 pintu disediakan bagi para pengusaha / pedagang, sisanya bagi para pekerja / karyawan #karir #hijrah

Bagi para pekerja / karyawan terlihat akan terjadi “bottle neck” untuk memperoleh rejeki #karir #hijrah

Bagi para entrepreneur pintu2 yang tersedia lebih banyak shg lebih memungkinkan mereka meraih hasil optimal #karir #hijrah

Catatan yang saya punya dari Liz Ryan (CEO & Founder, Human Workplace) tentang #pekerjaan dan #karir

Liz Ryan menyebutkan ada 10 gejala dimana seseorang tidak layak bertahan di #pekerjaan #karir yg digelutinya, saatnya #hijrah

Artinya, apabila anda (sudah) merasakan gejala tsb, (mungkin) sdh waktunya untuk #hijrah #pekerjaan #karir *disclaimerON

1) Pertama, bila perusahaan tempat anda bekerja tidak lagi mengkomunikasikan apa yg (sesungguhnya) sedang terjadi di perusahaan

Pada beberapa kasus, tidak serta merta perusahaan berkeinginan untuk men-disclose aturan yg jelas mengenai #karir

Kasus lainnya, manajemen berusaha menutupi, kasus2 yg sdg dialami (mis: kesulitan keuangan, tuntutan hukum, dsj) #karir

2. Anda melakukan hal yang sama berulang-ulang selama bertahun-tahun #karir

Banyak dari kita yang (merasa) sudah berpengalaman selama puluhan tahun. Faktanya, pengalamannya cuma setahun, selebihnya repetisi #karir #hijrah

3. Tidak adanya penghargaan dan/atau ucapan terima kasih (yang tulus) ketika anda berhasil mengerjakan tugas tertentu #karir

Sebagai manusia, selain kebutuhan sandang, pangan dan papan, kita juga butuh “pengakuan sosial” berupa ucapan terima kasih dan/atau penghargaan #karir

Penghargaan itu tidak melulu harus berupa kenaikan pangkat atau upah, tetapi bisa juga berupa ucapan terima kasih (yang tulus) #karir #hijrah

Bila itu tidak juga anda dapatkan, kayaknya memang sudah waktunya dech #karir #hijrah *disclaimerON

4. Anda tidak punya kesempatan mengungkapkan ide #karir #hijrah

Adakalanya di perusahaan para pengambil keputusan enggan menerima masukan dari bawahannya #karir

Mereka dengan mengandalkan power dan jabatannya merasa yang paling menentukan #karir

Sementara para bawahan hanya dianggap sebagai “buruh” atau seperti “robot” yang hanya perlu menuruti kemauan pada boss #karir

Ketika anda mencoba mengungkapkan pendapat, namun belum apa2 sudah dipatahkan, well, jelas sudah waktunya #karir #hijrah

5. Ada “matematika” yang tidak berjalan seiring perkembangan perusahaan (baca: gaji, bonus, tunjangan) #karir #hijrah

Ketika perusahaan meraup keuntungan (laba) yang fantastis, namun kesenangan itu tidak dirasakan oleh pekerja #karir

Terlihat bahwa perusahaan bekerja sebagai “motor” dan karyawan hanyalah “mesin” bukan sebagai “aset” #karir

Itulah saatnya anda perbaiki CV anda sekarang juga #karir #hijrah *disclaimerON

6. Anda merasa di ujung perkembangan #karir anda #hijrah

#karir anda ditentukan oleh anda sendiri bukan oleh orang lain bahkan bukan oleh boss anda sendiri #hijrah

bahkan ketika #pekerjaan saat ini tidak memberikan anda cukup ruang untuk berkembang, saatnya menekan ENTER untuk mengirimkan CV anda #karir #hijrah

7. Beban #pekerjaan anda rasakan semakin berat, tanpa kompensasi yang seimbang #karir #hijrah

Ketika anda mati2an berusaha memperbaiki lingkungan kerja menjadi lebih baik dan anda merasa sendirian #karir #hijrah

Seakan tidak ada seorang pun di sekitar anda yang mendukung, itulah saatnya #hijrah #karir

8. Pengabdian anda (terasa) tak dianggap | jelas bersegeralah #karir #hijrah

9. Anda (baru) menyadari bekerja untuk usaha yang kotor #karir

Banyak “pengusaha hitam” yang (sepertinya) terlihat baik (di media) seperti seorang “santo” tetapi di dalam, anda tahu sebaliknya #karir

Kalau itu sepertinya tidak perlu lagi penjelasan, langsung saja #hijrah #karir #pekerjaan

10. Tubuh anda mengatakan #hijrah | istikaharah dan ikutilah yang terbaik bagi anda #karir

Semoga catatan di atas bisa menambah wacana bagi kita semua | jazakumullah khairan katsira #karir #hijrah

– with disclaimer ON –

EHN Personal Thought

What can you do, if you’re out of their league

Most of time, people are hanging around (only) with their league. Well, these guys are oftenly the have ones.

I’m sure the have nots won’t bother to stick around with anyone, anytime, anywhere.

If you’re aiming these kind of people, then, what should you do?

Here are my thoughts, of course, with disclaimer on… which may not work or fit all

Firstly, just be yourself. You are at your best no matter who you are. Fortunes come to those who are destined. If you (unfortunately) not, then no matter how much effort you strive, fortunes will not come across you at all.

Then, work and live with your mates. You may find a real friendship and socialise better wuth them.

Last but not least, just leave those out-of-league people. You can live without them.

Cheers –

EHN Personal Thought · Family

Lelaki Kerja di Rumahan…. What’s wrong with that?

Lelaki kerja di rumahan…. What’s wrong with that?

Secara umum dan demi alasan budaya dan sebagainya, prototype seorang suami (baca: lelaki) digambarkan sebagai tokoh yang kuat, pencari nafkah, penopang kehidupan keluarga dan menjadi role model bagi para anak (lelaki). Sementara, tokoh seorang ibu (baca: perempuan) lebih digambarkan sebagai sesorang yang lemah lembut, tinggal di rumah, mengayomi keluarga, mengasuh anak dan ujung-ujungnya…. sebagai tukang bersih-bersih di rumah.

Kayaknya, hari gini, prototype kayak gitu udah ngga laku lagi dech…

Begitu banyak perempuan yang bekerja di kantoran. Karirnya pun banyak yang lebih tinggi dari para lelaki. Bahkan sekarang ini perusahaan (swasta?) lebih banyak melakukan recruitment tenaga perempuan, karena dimata perusahaan biaya mereka relatif lebih murah (tidak ada dependant, potongan pajak lebih kecil, medical expenses, umumnya ditanggung suami, dsb). Lebih jauh, secara psikologis (dan juga kembali secara prototype) sosok perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tidak mungkin melakukan kecurangan (korupsi, abusive of power, dsb). Sehingga kalau mau jujur, ke depan, kesempatan karir para perempuan justru lebih terbuka lebar dibandingkan dengan para lelaki. Kalau mau jujur juga…. penjahat sich ngga melihat jenis kelamin… artinya…. lelaki atau perempuan, kalo mau korupsi, kalo mau selingkuh, kalo mau kejam… sama aja koq. Bahkan, umumnya perempuan lebih banyak “bermasalah” di lingkungan kantor karena menggunakan perasaan, jadinya timbullah kecemburuan, sentiment pribadi, dsb, dsb….

Tetapi, keberadaan seorang perempuan di lingkungan kerja dianggap sebagai hal yang biasa. Alasan emansipasi lah dijadikan perisai untuk menjadikan mereka mendapatkan privilege….

Kembali ke topik di atas….

Kalau perempuan berada di kantor dianggap biasa – padahal tidak sesuai dengan prototype awal – bagaimana dengan sosok pria yang tinggal di rumah…..

Saya cukup yakin, tulisan saya ke bawah ini akan mengundang komentar-komentar, most likely, menentang….

Mari kita mulai…

Bila seorang lelaki, karena tinggal di rumah apa yang akan terjadi?

Lingkungan sosial (baca: lingkungan pencemooh, gossiper, dsb) akan menjadi pihak pertama yang berteriak. Lelaki itu akan dianggap sebagai seseorang yang “gagal”. Lelaki itu akan dicemooh, dicaci, dimaki, dihina, dsb, dsb….

Regardless, alasan lelaki tadi berada di rumah… what’s wrong with that?

Tidakkah orang percaya kepada takdir?

Seperti yang saya gambarkan di atas, kesempatan kerja untuk lelaki akan semakin sempit. Dampaknya…. yah pastinya akan semakin banyak lelaki yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan…

Bila kondisi di atas terjadi, seorang lelaki yang percaya kepada Tuhan dan bertawakal tentunya akan membuka matanya, mengesampingkan ego kelelakiannya dan bersikap reasonable. Bila ia sudah menikah, sementara istri-nya mempunyai kesempatan untuk terus bekerja, mengapa tidak saling terbuka?

Sang lelaki di rumah menjaga dan mengasuh keluarga, sementara sang perempuan beralih menjadi bread winner. Harus ada kerelaan dari masing-masing pihak. Kalau ego lelaki tetap tinggi, ia akan memaksa istrinya juga tetap di rumah. Bila ego perempuan tinggi, ia juga bisa menuntut pisah dari lelaki yang dianggapnya “loyo”.

Padahal kalau dipikirkan, pasangan sudah bersama sejak awal, sejak sama-sama merintis. Kadang di tengah jalan ada saja “gangguan”, sesutu yang terlihat mengkilat hingga menyilaukan mata… Padahal bisa jadi, gangguan ini hanya melihat sosok yang dianggapnya sukses… tanpa melihat ke belakang, bagaimana susahnya di masa-masa awal….

Bila itu sudah terjadi… apakah kebersamaan yang sudah dibangun sejak titik nol ditinggal begitu saja… so unfair… so unfair…

Situasi di atas, saya gambarkan bila seorang lelaki terkena dampak downsizing atau rasionalisasi…

Bagaimana bila seorang lelaki berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, sementara ia tetap ke kantor… for me… he is a real super man… bisa digambarkan sebagai sosok yang mempunyai delapan tangan yang mampu meng-handle dan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan di kantor dan kehidupan di rumah.

Mungkin bagi para lelaki lain, melihat seorang petinggi mencuci piring, menyapu halaman, mengepel, atau menyuapi anaknya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang absurd.

Entah bagaimana pandangan perempuan melihat itu… mungkin ada yang mengacungkan jempol, melihat empati seorang lelaki membantu perempuan – tanpa rasa canggung.

Atau mungkin ada pula yang mencibir…. ich mau aja disuruh-suruh istri… pasti tuch lelaki ISTI (ikatan suami takut istri)… Padahal sich mungkin cibiran itu keluar, karena suami dari perempuan itu tidak mau melakuakn hal yang sama 😀

Sungguh aneh, bahkan seorang kerabat – yang katanya mendalami ilmu agama. Berkomentar sinis bila melihat seorang lelaki berada di dapur, apalagi kalau melihat lelaki itu menyapu halaman rumah ya… wah bisa-bisa keluar fatwa haram kali ya… 😀

Padahal sich, singkat saja – ilmu agama saya sich ngga dalem-dalem banget – yang penting bagi saya, ilmu itu diamalkan, bukan dipelajari terus dipendem sendirian. Bagi saya, melakukan hal-hal seperti di atas, bukanlah sesuatu yang taboo, apalagi kalau menganggap hal ini menurunkan derajat lelaki.

Ngga lah.

Derajat seseorang (doesn’t matter men or women) bukan dilihat dari pakaian, bukan dari mobil, bukan dari rumah, bukan dari harta, bukan dari pendidikan, bukan dari jabatan…. Semua itu tidak akan ada artinya, kalau kelakuannya tidak mencerminkan dirinya sendiri…

Muhammad bin Abdullah – salam sejahtera bagi dirinya, keluarga serta umatnya – manusia terhebat sepanjang sejarah alam, yang pada masanya sebagai penguasa jazirah Arab, pemimpin tertinggi umat, manusia tersuci di mata sang pencipta… dalam riwayatnya diceritakan bahwa beliau tidak membiarkan istrinya menyapu halaman rumahnya, melainkan beliau sendiri yang melakukannya.

Apakah taboo seorang rasul melakukan hal itu?

Apakah taboo bagi seorang atasan melayani anak buahnya?

Apakah taboo ketika CEO Walt Disney menyapu playground theme park-nya?

Apakah taboo ketika CEO McDonalds turun ke gerainya membersihkan bekas makanan pelanggannya?

Apakah taboo ketika seorang Pimpinan menyapu halaman rumahnya sendiri? Mengepel rumahnya sendiri? Menyuapi anaknya? Menggantikan diaper?

What’s wrong with that???

Realistis aja dech, kalo bisa dan mau membantu – ngga usah mikirin orang lain.

Inget aja cerita Luqman, anaknya dan seekor keledai. Singkat kata – apapun yang kita lakukan, tidak akan lepas dari “omongan” orang lain….

Makanya ada peribahasa, anjing menggonggong, khafilah berlalu….

Intinya… asal ikhlas, ber-empati dan berusaha menyenangan hati orang lain… everything’s gonna be alright…

Life is already complicated, don’t make it even worse.

[Jakarta, 22.06.2009]

Salaam –