Eventually, more than a thousand people had seen my profile at http://id.linkedin.com/in/erwinnoekman
Cheers –
Eventually, more than a thousand people had seen my profile at http://id.linkedin.com/in/erwinnoekman
Cheers –
Lelaki kerja di rumahan…. What’s wrong with that?
Secara umum dan demi alasan budaya dan sebagainya, prototype seorang suami (baca: lelaki) digambarkan sebagai tokoh yang kuat, pencari nafkah, penopang kehidupan keluarga dan menjadi role model bagi para anak (lelaki). Sementara, tokoh seorang ibu (baca: perempuan) lebih digambarkan sebagai sesorang yang lemah lembut, tinggal di rumah, mengayomi keluarga, mengasuh anak dan ujung-ujungnya…. sebagai tukang bersih-bersih di rumah.
Kayaknya, hari gini, prototype kayak gitu udah ngga laku lagi dech…
Begitu banyak perempuan yang bekerja di kantoran. Karirnya pun banyak yang lebih tinggi dari para lelaki. Bahkan sekarang ini perusahaan (swasta?) lebih banyak melakukan recruitment tenaga perempuan, karena dimata perusahaan biaya mereka relatif lebih murah (tidak ada dependant, potongan pajak lebih kecil, medical expenses, umumnya ditanggung suami, dsb). Lebih jauh, secara psikologis (dan juga kembali secara prototype) sosok perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tidak mungkin melakukan kecurangan (korupsi, abusive of power, dsb). Sehingga kalau mau jujur, ke depan, kesempatan karir para perempuan justru lebih terbuka lebar dibandingkan dengan para lelaki. Kalau mau jujur juga…. penjahat sich ngga melihat jenis kelamin… artinya…. lelaki atau perempuan, kalo mau korupsi, kalo mau selingkuh, kalo mau kejam… sama aja koq. Bahkan, umumnya perempuan lebih banyak “bermasalah” di lingkungan kantor karena menggunakan perasaan, jadinya timbullah kecemburuan, sentiment pribadi, dsb, dsb….
Tetapi, keberadaan seorang perempuan di lingkungan kerja dianggap sebagai hal yang biasa. Alasan emansipasi lah dijadikan perisai untuk menjadikan mereka mendapatkan privilege….
Kembali ke topik di atas….
Kalau perempuan berada di kantor dianggap biasa – padahal tidak sesuai dengan prototype awal – bagaimana dengan sosok pria yang tinggal di rumah…..
Saya cukup yakin, tulisan saya ke bawah ini akan mengundang komentar-komentar, most likely, menentang….
Mari kita mulai…
Bila seorang lelaki, karena tinggal di rumah apa yang akan terjadi?
Lingkungan sosial (baca: lingkungan pencemooh, gossiper, dsb) akan menjadi pihak pertama yang berteriak. Lelaki itu akan dianggap sebagai seseorang yang “gagal”. Lelaki itu akan dicemooh, dicaci, dimaki, dihina, dsb, dsb….
Regardless, alasan lelaki tadi berada di rumah… what’s wrong with that?
Tidakkah orang percaya kepada takdir?
Seperti yang saya gambarkan di atas, kesempatan kerja untuk lelaki akan semakin sempit. Dampaknya…. yah pastinya akan semakin banyak lelaki yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan…
Bila kondisi di atas terjadi, seorang lelaki yang percaya kepada Tuhan dan bertawakal tentunya akan membuka matanya, mengesampingkan ego kelelakiannya dan bersikap reasonable. Bila ia sudah menikah, sementara istri-nya mempunyai kesempatan untuk terus bekerja, mengapa tidak saling terbuka?
Sang lelaki di rumah menjaga dan mengasuh keluarga, sementara sang perempuan beralih menjadi bread winner. Harus ada kerelaan dari masing-masing pihak. Kalau ego lelaki tetap tinggi, ia akan memaksa istrinya juga tetap di rumah. Bila ego perempuan tinggi, ia juga bisa menuntut pisah dari lelaki yang dianggapnya “loyo”.
Padahal kalau dipikirkan, pasangan sudah bersama sejak awal, sejak sama-sama merintis. Kadang di tengah jalan ada saja “gangguan”, sesutu yang terlihat mengkilat hingga menyilaukan mata… Padahal bisa jadi, gangguan ini hanya melihat sosok yang dianggapnya sukses… tanpa melihat ke belakang, bagaimana susahnya di masa-masa awal….
Bila itu sudah terjadi… apakah kebersamaan yang sudah dibangun sejak titik nol ditinggal begitu saja… so unfair… so unfair…
Situasi di atas, saya gambarkan bila seorang lelaki terkena dampak downsizing atau rasionalisasi…
Bagaimana bila seorang lelaki berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, sementara ia tetap ke kantor… for me… he is a real super man… bisa digambarkan sebagai sosok yang mempunyai delapan tangan yang mampu meng-handle dan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan di kantor dan kehidupan di rumah.
Mungkin bagi para lelaki lain, melihat seorang petinggi mencuci piring, menyapu halaman, mengepel, atau menyuapi anaknya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang absurd.
Entah bagaimana pandangan perempuan melihat itu… mungkin ada yang mengacungkan jempol, melihat empati seorang lelaki membantu perempuan – tanpa rasa canggung.
Atau mungkin ada pula yang mencibir…. ich mau aja disuruh-suruh istri… pasti tuch lelaki ISTI (ikatan suami takut istri)… Padahal sich mungkin cibiran itu keluar, karena suami dari perempuan itu tidak mau melakuakn hal yang sama 😀
Sungguh aneh, bahkan seorang kerabat – yang katanya mendalami ilmu agama. Berkomentar sinis bila melihat seorang lelaki berada di dapur, apalagi kalau melihat lelaki itu menyapu halaman rumah ya… wah bisa-bisa keluar fatwa haram kali ya… 😀
Padahal sich, singkat saja – ilmu agama saya sich ngga dalem-dalem banget – yang penting bagi saya, ilmu itu diamalkan, bukan dipelajari terus dipendem sendirian. Bagi saya, melakukan hal-hal seperti di atas, bukanlah sesuatu yang taboo, apalagi kalau menganggap hal ini menurunkan derajat lelaki.
Ngga lah.
Derajat seseorang (doesn’t matter men or women) bukan dilihat dari pakaian, bukan dari mobil, bukan dari rumah, bukan dari harta, bukan dari pendidikan, bukan dari jabatan…. Semua itu tidak akan ada artinya, kalau kelakuannya tidak mencerminkan dirinya sendiri…
Muhammad bin Abdullah – salam sejahtera bagi dirinya, keluarga serta umatnya – manusia terhebat sepanjang sejarah alam, yang pada masanya sebagai penguasa jazirah Arab, pemimpin tertinggi umat, manusia tersuci di mata sang pencipta… dalam riwayatnya diceritakan bahwa beliau tidak membiarkan istrinya menyapu halaman rumahnya, melainkan beliau sendiri yang melakukannya.
Apakah taboo seorang rasul melakukan hal itu?
Apakah taboo bagi seorang atasan melayani anak buahnya?
Apakah taboo ketika CEO Walt Disney menyapu playground theme park-nya?
Apakah taboo ketika CEO McDonalds turun ke gerainya membersihkan bekas makanan pelanggannya?
Apakah taboo ketika seorang Pimpinan menyapu halaman rumahnya sendiri? Mengepel rumahnya sendiri? Menyuapi anaknya? Menggantikan diaper?
What’s wrong with that???
Realistis aja dech, kalo bisa dan mau membantu – ngga usah mikirin orang lain.
Inget aja cerita Luqman, anaknya dan seekor keledai. Singkat kata – apapun yang kita lakukan, tidak akan lepas dari “omongan” orang lain….
Makanya ada peribahasa, anjing menggonggong, khafilah berlalu….
Intinya… asal ikhlas, ber-empati dan berusaha menyenangan hati orang lain… everything’s gonna be alright…
Life is already complicated, don’t make it even worse.
[Jakarta, 22.06.2009]
Salaam –
Bagian 2 dari 2 tulisan
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Gooooooooolllll!!!
Gedubrak!!!*#@!!
Lagi asyik-asyik mau nendang, taunya cuma mimpi….
Terbangun dari tidur, kembali ke realita.
Dalam kaitannya dengan aktifitas ekonomi suatu negara, tidak bisa kita pungkiri bahwa asuransi pun turut mempunyai peran.
Lalu, kaitannya antara sepakbola, perekonomian dan asuransi apa donk?
Sedikit belajar sejarah, “asuransi” sudah dikenal sejak jaman Romawi, berabad-abad sebelum Masehi.
Sistem dan mekanisme awal “asuransi” kala itu masih mengandalkan prinsip gotong-royong dalam suatu rumpun masyarakat. Semisal, ada salah satu anggota komunitas yang meninggal dunia, maka yang lain bersama-sama mengumpulkan sejumlah dana sebagai “uang duka”. Prinsip serupa juga kita kenal di jazirah Arab. Jadi, kalau sekarang ini ada mekanisme asuransi yang berpola seperti itu, sebenarnya bukan sesuatu yang “baru” melainkan cuma “mengembalikan” fitrah-nya asuransi, yaitu tolong-menolong, bukan melulu bisnis dan bisnis.
Mekanisme “asuransi” itu terus berkembang di benua Eropa hingga menjadi sebuah sistem perekonomian yang modern dan terus bertahan hingga sekarang. Bahkan, saking modern-nya, banyak perusahaan (re)asuransi yang “nyasar” keluar dari khittah-nya, yang justru bikin mereka bangkrut (lebih jauh silakan browse tentang sub-prime mortgage – red).
Melihat sejarah di masa lalu, para pemilik kapal atau pemilik barang yang akan melakukan perdagangan (antar negara / benua) tidak berani menanggung risiko sekiranya terjadi sesuatu atas kapal atau atas barang-barang yang hendak diperdagangkannya.
Apapun bentuknya (waktu dulu), hal itu menunjukkan bahwa manusia dalam melakukan aktifitasnya tentunya berpegang teguh pada prinsip ekonomi yaitu dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.
Di luar itu semua, manusia hanya mampu membuat rencana, manusia hanya mampu untuk melakukan usaha terbaik untuk mencapainya, manusia hanya mampu mengeluarkan segala kemampuannya untuk mencapai tujuannya — selebihnya ada kuasa Tuhan yang Maha Menenentukan.
Secara manusiawi, kita tergerak untuk menerapkan prinsip ekonomi di atas. Setiap individu akan terus berupaya melakukan “transaksi” satu sama lainnya.
Terkait asuransi, geliat perekonomian (internasional) akan lebih terbatas, tanpa keterlibatan proteksi asuransi.
Tanpa asuransi belum tentu ada perdagangan (internasional). Tidak akan ada pemilik barang yang rela mengirimkan barangnya dikirimkan ke (calon) pembeli tanpa adanya proteksi asuransi, misalnya Marine Cargo insurance atau Custom Bond.
Tanpa asuransi tidak akan ada industri penerbangan. Tidak ada satu pun pesawat boleh lepas landas sebelum mempunyai Certificate of Insurance.
Kembali ke sepak bola yang mampu menggeliatkan perekonomian (rakyat). Asuransi pun (semestinya) mampu menjadi salah satu katalis atau setidaknya menjadi penyanggah perekonomian ini.
Kita pernah mempunyai pengalaman ketika tim besar semacam Red Devils yang batal hadir ke GBK. Bisa dihitung berapa kerugian yang diderita — untuk ini saya tidak mau berkomentar lebih jauh, siapa yang sebenarnya menderita kerugian finansial, apakah Panitia Lokal atau PSSI.
Di luar sana (baca: industri asuransi internasional) sudah tersedia proteksi untuk memberikan “peace of mind” bagi para penyelenggara event besar semacam itu.
Saya sendiri mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang masih terus saya ingat. Unik dan menantang.
Ketika gelaran Piala Dunia 2002 diselenggarakan bersama di Korea – Japan, pihak Asosiasi Sepakbola di Korea membeli sebuah polis asuransi.
Unik, ya unik.
Karena proteksi yang dibeli adalah “kerugian” apabila “tim Korea Selatan” menjadi juara Piala Dunia.
???
Kalau pada umumnya, seorang nasabah hanya akan membeli proteksi asuransi ketika dia “kalah” atau menderita “kerugian”, tetapi pertanggungan yang dibeli adalah “kemenangan”.
Mengapa?
Singkat kata, bila Korea Selatan memenangkan PD2002, Asosiasi Sepakbola-nya musti membayarkan “bonus” sebesar USD 1 juta ke setiap pemain + official. Dengan jumlah total sebanyak 50 orang, maka Asosiasi musti membayar USD 50 juta, bila Korea Selatan menjadi Juara. Inilah yang akan menjadi “kerugian” bagi Asosiasi. Angka USD 50 juta itulah yang dijadikan harga pertanggungan.
Secara emosional dan sentimental value, kemenangan Korea Selatan menjadi Juara Piala Dunia tentunya tidak akan ternilai harganya. Namun secara finansial, hal ini justru akan “merugikan” Asosiasi. Hal ini sudah cukup untuk menimbulkan insurable interest.
Hal lain yang menjadikannya obyek asuransi adalah yang dipertanggungkan adalah “kemenangan” yang belum tentu terjadi. Jikalau yang dipertanggungkan adalah “kekalahan”, hal ini tentunya akan lebih mudah terjadi, mengingat tertanggung bisa saja sengaja mengalah demi mendapatkan uang asuransi.
Mungkin, para pengurus per-sepakbola-an di Indonesia ini pun perlu memikirkan peran asuransi. Bukan bermaksud mendoakan sesuatu yang buruk, namun, bukan tidak mungkin sesuatu yang tidak terduga dan di luar kuasa manusia bisa saja menghalangi atau mengubah apa-apa yang sudah direncanakan sebelumnya.
Kejadian anomali cuaca sekarang ini saja sudah menunda beberapa pertandingan di Eropa.
Asuransi bisa berperan untuk menggantikan kerugian (finansial) yang diderita. Setidaknya, ganti rugi ini bisa membantu pihak yang dirugikan untuk melakukan recovery dalam usahanya.
Menarik bukan?
Masih banyak lagi hal-hal dinamis di industri asuransi yang terus bergerak seiring perkembangan kehidupan dunia dan aktifitas perekonomian yang semakin meng-global.
Terakhir, tak lupa saya sampaikan Selamat kepada para ksatria Garuda yang sudah mengepakkan sayapnya sehingga membawa rakyat Indonesia terbang tinggi. Tinggal satu kepakan lagi. Raihlah kejayaan Nusantara.
Garuda-ku, penuhi dahaga kami. Kami sudah haus akan kemenangan. Kami rindu akan kejayaan.
Garuda arise!
* demi sepakbola Indonesia *
Bagian 1 dari 2 tulisan
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Gooooooooolllll!!!
Sebuah gol tercipta, menggetarkan gawang lawan.
Diiringi sorak sorai pendukungnya di Gelora Bung Karno malam ini, pasukan Merah Putih ini terus menerus menyerang dan menggempur pertahanan lawan hingga akhirnya memastikan dirinya maju ke babak final.
Ya, apa yang kita rasakan dan kita lihat merupakan “sesuatu yang baru”. Ada yang berbeda dari pasukan Garuda kali ini.
Dulu (please correct me if I’m wrong) kalau tim Indonesia sudah unggul satu gol saja, langsung saja secara kompak semua berkumpul di belakang, atau membuang-buang bola demi mengulur waktu (baca: gaya Melayu).
Tetapi, yang kita lihat sekarang ini, walaupun sudah unggul dan sudah menang, Timnas Indonesia terus berusaha menambah gol. Sebuah attacking football yang luar biasa.
Terlepas dari program naturalisasi, kemenangan demi kemenangan ini merupakan sesuatu yang tidak biasa dan berhasil menggugah kecintaan rakyat Indonesia dan kembali menghidupkan tunas-tunas harapan terhadap sepak bola.
Melirik trending topic di jaring sosial Twitter, Timnas Indonesia menempati posisi no.1. Luar biasa. Selain memang Indonesia menguasai porsi terbesar pengguna si Burung Berkicau ini, namun terlihat bahwa setiap pertandingan Timnas Indonesia pun tidak luput dari “pantauan” para penggunanya di Indonesia. Bahkan, saya sempat membaca komentar para punggawa Burung Berkicau ini yang mengeluhkan server mereka overload setiap kali ada momen menarik di Indonesia. Salah satunya ya seperti momen pertandingan sebakbola ini.
Di lapangan hijau, sepertinya Timnas Indonesia berusaha memberikan sajian terbaik bagi ratusan ribu penonton yang berada di stadion, belum lagi bagi ratusan ribu lainnya yang nonton bareng (nobar) di cafe dan restoran, serta jutaan penonton lainnya yang menyaksikan lewat siaran teve di rumahnya masing-masing.
Sepertinya pasukan Garuda paham sekali, bahwa para pendukungnya sudah sangat haus akan kemenangan dan gol. Sehingga kemenangan atau satu gol tidak akan cukup memuaskan dahaga para pendukung Indonesia.
Fenomena ini berlanjut di luar lapangan.
Judul di atas saya ambil bukan tanpa alasan. Mungkin judul itu terdengar asing dan bisa menimbulkan cibiran bagi sebagian orang.
Saya sempat sekilas membaca buku yang membahas hubungan antara sepakbola dan perekonomian. Buku itu membahas tentang sepakbola yang saat ini sudah menjadi sebuah industri yang sangat besar. Begitu banyak uang yang berputar untuk menghidupi olahraga yang satu ini. Belum lagi bila dihitung berbagai aspek yang terkait dengan sepakbola itu sendiri. Dari situ timbullah sebuah jargon soccernomics. Bahkan di almamater saya dulu ada sebuah program MBA in Football Industries, karena memang sepakbola adalah industri (global).
Kemenangan beruntun yang diraih oleh Timnas Indonesia dalam ajang AFF Cup 2010, bisa menjadi momen yang tepat untuk membahas hal di atas.
Kemenangan-kemenangan (yang jarang kita nikmati) ini menimbulkan euphoria bagi para pendukung Timnas, baik yang loyal maupun yang “cuma” tidak mau ketinggalan trend saja. Siapa pun, kini memburu aksesoris Timnas. Siapapun berani berseragam merah/putih dan dengan bangganya dipakai kemana pun ia berjalan.
* saya juga loh
Sebuah jersey yang harganya pada kisaran IDR 600 ribuan (USD 65) — padahal masih tergolong mahal bagi sebagian besar penduduk Indonesia — pun habis terjual. Alhasil, produk palsu dengan harga “hanya” IDR 50 ribu (USD 6) juga laris dimana-mana.
Seperti layaknya loyal customer yang sudah sangat mencintai produk-nya, ketika panitia menaikkan harga tiket 2x lipat pun, para calon pembeli tiket tetap rela. Dan tiket tetap luder terjual. Bahkan tidak jarang calon pembeli tiket yang rela merogoh kantong lebih dalam demi mendapatkan tiket yang lebih mahal dari tangan para calo.
Selain penjualan tiket yang selalu sold-out, para pedagang kaki lima pun kebagian rejeki. Puluhan bahkan ratusan ribu orang yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pun turut menikmatinya. Sebut saja, para penjual bendera, makanan, minuman, trompet dan tidak ketinggalan pencopet (well, that’s the fact).
Terlihat adanya hubungan simetris antara prestasi sepakbola suatu negara dengan pergerakan perekonomian di negara tersebut.
Contohnya Brasil. Walaupun perekonomian negara tersebut tidaklah terlalu maju, namun gaji yang diperoleh oleh para pemain sepakbola yang merumput di negara-negara Eropa, turut memberikan kontribusi besar sebagai invisible earnings dalam perhitungan GDP/GNP negara tersebut.
Belum lagi, “ketenaran” asal sukses Tim Samba pun turut menjadi icon bagi pariwisata Brazil.
Kondisi yang sama juga bisa dirasakan di Indonesia. Saat ini, Indonesia sedang berada dalam euphoria akibat kemenangan beruntun di ajang pertandingan sepakbola se-Asia Tenggara. Walaupun bukanlah sebuah pertandingan tertinggi, namun tetap saja, Piala ini menjadi bergengsi (setidaknya) di wilayah Asia Tenggara ini.
Well, kalo boleh jujur, sepakbola pun kini sudah menjadi lahan karir yang sangat menjanjikan. Seorang pemain sepakbola profesional di tanah air saja bisa mengantongi lebih dari IDR 1 milyar (USD 110.000) per tahun. Belum lagi tambahan pundi-pundi dari iklan dan sponsor.
Bandingkan dengan penghasilan tetap bila bekerja sebagai karyawan asuransi BUMN
*curcol 😛
Kembali pada kaitannya antara perekonomian dan sepakbola. Terlihat bahwa (kemenangan) sepakbola mampu menggeliatkan kembali semangat suatu bangsa dan berujung pada pergerakan ekonomi yang lebih positif.
Dalam kaitannya dengan aktifitas ekonomi suatu negara, tidak bisa kita pungkiri bahwa asuransi pun turut mempunyai peran.
Lalu, apa kaitan antara sepakbola, perekonomian dan asuransi?
Akan saya bahas pada postingan berikutnya.
Sekarang, saya mau tidur dulu sambil memimpikan Timnas Indonesia di final World Cup 2018. Saat itu Perisai Zidane akan mencetak gol kemenangan bagi Indonesia.
* kalo mengkhayal jangan nanggung2 😛
* demi sepakbola Indonesia *
“Ya Allah, berikanlah kemudahan baginya | Berikan kemudahan rezeki bagi sang supir Bajaj dan keluarganya | Berikan ketenangan hati bagi Istri & keluarga-nya, yang mungkin sedang was-was menantikan kembalinya sang mujahid ke rumahnya”
Sekelibat, terlintas begitu saja do’a di atas ketika aku melihat sebuah bajaj yang mogok di tepi jalan raya. Aku yang hampir saja menggerutu karena jalan yang kulalui terhambat, seketika sirna dan tercurahlah do’a di atas, ketika aku melihat sang sopir bajaj yang sedang sibuk meng-utak-atik bajaj-nya agar bisa hidup kembali.
Memang tak lebih dari sekedar doa yang mampu aku haturkan. Kondisi jalan yang padat tak memungkinkan bagiku untuk menepi di jalan dan bertindak lebih.
Rasa syukur kupanjatkan ke Sang Pencipta yang memberiku kesempatan untuk menikmati perjalanan dengan kesejukan AC atau mendengarkan suara merdu dari radio cassette. Aku tidak perlu berpanas-panas-an atau bersimbah keringat.
Ah, begitu Maha Murah hati-nya Sang Pencipta, yang memberikan umatnya (termasuk diriku)berkesempatan untuk mendapatkan ladang amal.
Semoga do’a yang kusampaikan itu di-ijabah oleh Yang Maha Kuasa.
Amin –