Health · Insurance · Takaful

Mahalnya (Biaya) Kesehatan

Menghargai Kesehatan

“Lebih baik mencegah daripada mengobati.”

Peribahasa itu sudah sejak kecil saya dengar. Intinya mengajarkan kita semua untuk selalu menjaga kesehatan.

Tanpa kita sadari, peribahasa itu banyak benarnya. Terlebih sekarang ini. Bicara soal kesehatan berarti bicara soal (kemampuan) keuangan.

“Sehat itu mahal.”

Sampai-sampai, kita sering mendengar istilah bahwa hanya orang kaya yang boleh sakit. Karena hampir mustahil orang miskin bisa berobat, baik ke dokter apalagi kalau sampai dirawat di rumah sakit.

Itu juga mungkin yang melandasi “kesadaran” Pemerintah untuk memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Program jaminan ini sedikit melegakan masyarakat kalangan tidak mampu untuk “berani” memeriksakan kesehatana atau penyakitnya ke dokter atau rumah sakit.

Tidak jarang kita mendengar, membaca dan menonton berita yang menyebutkan adanya RS yang menolak pasien. Jangankan sampai dirawat, untuk diperiksa saja, apabila pasien (kecelakaan) tidak mampu memberikan jaminan, niscaya tidak akan diterima.

Sewaktu masih remaja (tahun 90-an ~ ups… age detected :P), saya pernah melihat langsung kejadian kecelakaan di dekat exit tol Kebon Jeruk. Masyarakat sekitar sana serta merta membawa korban (saat itu masih bernyawa) ke RS terdekat (baca: tidak sampai 50m dari lokasi kejadian).

Berita itu pun langsung ramai disorot oleh stasiun TV dekat sana, yang memang lokasinya kurang lebih bersebelahan. Kalau saat itu tidak diliput media, mungkin masyarakat umum tidak mengetahui “sebegitunya” pelayanan di RS tsb.

Dulu pun, orang tua saya beberapa mendapatkan perawatan di RS tsb. Namun, mungkin karena perawatannya dilakukan di lantai “khusus (kalau tidak salah saat itu merupakan lantai 6) sehingga secara umum, semua tenaga medis di sana terlihat begitu ramah, penuh senyum dan helpful.

“Memang merupakan sebuah ironi.”

Kalau saya tidak mendengar berita tentang kecelakaan yang berujung kematian korban karena tidak adanya tindakan medis sama sekali oleh tim di RS tsb, mungkin mata saya masih tertutup kenyataan.

Itu kejadian ± 15 tahunan lalu, kalau tidak salah, manajemen RS itu sudah berganti (atau setidaknya namanya sudah berganti). Tapi, entah apakah “pelayanan” dan “sumbangsih” bagi masyarakat (sesuai kodrat hakiki sebuah RS) dijalani dengan baik atau tidak, saya tidak tahu dengan pasti.

“Begitu pahitnya fakta.”

Ternyata memang uang begitu berkuasanya. Tanpa uang, tiada perawatan. Tanpa uang tidak ada pemeriksaan medis. Tanpa uang nyawa melayang.

“Sungguh… Oh sungguh tragis…”

“Memang mahal sekali kesehatan.”

Sayangnya, kita sebagai manusia biasa tidak bisa mengelak dari taqdir. Bila Tuhan berkehendak, tiada daya dan upaya manusia menghindari malapetaka, apakah itu penyakit maupun maut.

Namun, ikhtiar kita adalah berusaha menjaga kesehatan. Cara paling mudah, selalu mencuci tangan, misalnya selepas beraktifitas di luar rumah. Menutup hidung ketika bersin. Menutup hidung ketika batuk. Membuang sampah pada tempatnya. Daaan banyak hal kecil lainnya yang berdampak besar bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang lain.

Nah, mumpung sekalian ngomongin kesehatan, ini saya co-pas lagi, tulisan saya tentang cara sehat ala rasulullah Muhammad bin Abdullah.

1) Selalu bangun sebelum Shubuh
• Badan sehat
• Otak cerdas
• Penghidupan yg lapang
• Kebaikan dunia & akhirat

2) Aktif menjaga kebersihan
• Pakaian tetap bersih & rapih
• Gosok gigi (siwak)

3) Tak pernah makan banyak
• Menjaga kesehatan tubuh
• Detox

4) Gemar berjalan kaki
• Manfaat bagi kesehatan

5) Mengendalikan marah
• Mengubah gerakan (jika sedang berdiri segera duduk)
• Segera ber-wudhu
• Mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat

6) Selalu optimis
• Melalui berbagai kesulitan & hambatan

7) Tak pernah iri hati
• Kecuali kepada orang kaya yg menggunakan kekayaan untuk menegakkan yg haq
• Kecuali kepda orang pintar yg rajin menyebarkan pengetahuannya kepada orang banyak

Jadiii…. sebenarnya mudah dan murah ya cara menjaga kesehatan.

Bagi anda yang juga memiliki perlindungan asuransi, jangan beranggapan bahwa anda tidak akan terkena penyakit loh (termasuk maut).

Asuransi hanyalah sebuah risk transfer mechanism. Kaitannya dengan kesehatan, asuransi hanya “melindungi” anda dari risiko “kerugian” ~ biaya perawatan, pengobatan, tindakan medis, dsj. Tetapi asuransi tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa sakit (atau maut). Asuransi tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa pahitnya obat. Asuransi tidak akan pernah bisa mengganti kenikmatan yang semestinya anda bisa rasakan ketika sehat.

Memang betul, kalau tidak punya asuransi, anda akan “rugi dua kali”, sudah sakit, habis pula uang 😛

Jadi ingat saja, selain menjaga kesehatan, tetap punya asuransi ya!

Semoga bermanfaat!

Salaam –

Family · Health · Travel

What a Great Ad!

The “ad” is written in Bahasa literally means “Remember, there is no such thing as spare life!” or “Remember, you only once!”

The ad was meant to all drivers (especially bikers) to safely drive and follow rules on road.

Sooo…
Be careful on the road!

It is very very dangerous out there!
Read: it’s jungle out there

Cheers and safe drive!

Uncategorized

Jum’at Mulia

Selamat datang di Jum’at pertama di tahun 2014 ini. Alhamdulillah kita masih punya kesempatan untuk memperbanyak dan menabung amal di tahun ini.

Apa yang disunahkan di hari ini (Jum’at):

• Memperbanyak membaca shalawat (allahumma shalli ‘alaa muhammad)

“Barang siapa yg bershalawat untuk-ku tiap2 hari Jum’at empat puluh kali, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya seluruhnya”
[HR Muslim]

• Membaca surat al-Kahfi

“Barang siapa yg membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Allah akan menerangi baginya di antara dua Jum’at”
[HR Baihaqi]

• Membaca surat ad-Dukhan

“Barang siapa yg membaca surat as-Dukhan pada tiap malam Jum’at atau tiap hari Jum’at, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah di surga baginya”
[HR Aththabrani]

Semoga kita bisa melaksanakan semua amalan di atas dengan hati ikhlas.

Wallaahu a’lam bishawab

EHN Personal Thought · Family

Lelaki Kerja di Rumahan…. What’s wrong with that?

Lelaki kerja di rumahan…. What’s wrong with that?

Secara umum dan demi alasan budaya dan sebagainya, prototype seorang suami (baca: lelaki) digambarkan sebagai tokoh yang kuat, pencari nafkah, penopang kehidupan keluarga dan menjadi role model bagi para anak (lelaki). Sementara, tokoh seorang ibu (baca: perempuan) lebih digambarkan sebagai sesorang yang lemah lembut, tinggal di rumah, mengayomi keluarga, mengasuh anak dan ujung-ujungnya…. sebagai tukang bersih-bersih di rumah.

Kayaknya, hari gini, prototype kayak gitu udah ngga laku lagi dech…

Begitu banyak perempuan yang bekerja di kantoran. Karirnya pun banyak yang lebih tinggi dari para lelaki. Bahkan sekarang ini perusahaan (swasta?) lebih banyak melakukan recruitment tenaga perempuan, karena dimata perusahaan biaya mereka relatif lebih murah (tidak ada dependant, potongan pajak lebih kecil, medical expenses, umumnya ditanggung suami, dsb). Lebih jauh, secara psikologis (dan juga kembali secara prototype) sosok perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tidak mungkin melakukan kecurangan (korupsi, abusive of power, dsb). Sehingga kalau mau jujur, ke depan, kesempatan karir para perempuan justru lebih terbuka lebar dibandingkan dengan para lelaki. Kalau mau jujur juga…. penjahat sich ngga melihat jenis kelamin… artinya…. lelaki atau perempuan, kalo mau korupsi, kalo mau selingkuh, kalo mau kejam… sama aja koq. Bahkan, umumnya perempuan lebih banyak “bermasalah” di lingkungan kantor karena menggunakan perasaan, jadinya timbullah kecemburuan, sentiment pribadi, dsb, dsb….

Tetapi, keberadaan seorang perempuan di lingkungan kerja dianggap sebagai hal yang biasa. Alasan emansipasi lah dijadikan perisai untuk menjadikan mereka mendapatkan privilege….

Kembali ke topik di atas….

Kalau perempuan berada di kantor dianggap biasa – padahal tidak sesuai dengan prototype awal – bagaimana dengan sosok pria yang tinggal di rumah…..

Saya cukup yakin, tulisan saya ke bawah ini akan mengundang komentar-komentar, most likely, menentang….

Mari kita mulai…

Bila seorang lelaki, karena tinggal di rumah apa yang akan terjadi?

Lingkungan sosial (baca: lingkungan pencemooh, gossiper, dsb) akan menjadi pihak pertama yang berteriak. Lelaki itu akan dianggap sebagai seseorang yang “gagal”. Lelaki itu akan dicemooh, dicaci, dimaki, dihina, dsb, dsb….

Regardless, alasan lelaki tadi berada di rumah… what’s wrong with that?

Tidakkah orang percaya kepada takdir?

Seperti yang saya gambarkan di atas, kesempatan kerja untuk lelaki akan semakin sempit. Dampaknya…. yah pastinya akan semakin banyak lelaki yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan…

Bila kondisi di atas terjadi, seorang lelaki yang percaya kepada Tuhan dan bertawakal tentunya akan membuka matanya, mengesampingkan ego kelelakiannya dan bersikap reasonable. Bila ia sudah menikah, sementara istri-nya mempunyai kesempatan untuk terus bekerja, mengapa tidak saling terbuka?

Sang lelaki di rumah menjaga dan mengasuh keluarga, sementara sang perempuan beralih menjadi bread winner. Harus ada kerelaan dari masing-masing pihak. Kalau ego lelaki tetap tinggi, ia akan memaksa istrinya juga tetap di rumah. Bila ego perempuan tinggi, ia juga bisa menuntut pisah dari lelaki yang dianggapnya “loyo”.

Padahal kalau dipikirkan, pasangan sudah bersama sejak awal, sejak sama-sama merintis. Kadang di tengah jalan ada saja “gangguan”, sesutu yang terlihat mengkilat hingga menyilaukan mata… Padahal bisa jadi, gangguan ini hanya melihat sosok yang dianggapnya sukses… tanpa melihat ke belakang, bagaimana susahnya di masa-masa awal….

Bila itu sudah terjadi… apakah kebersamaan yang sudah dibangun sejak titik nol ditinggal begitu saja… so unfair… so unfair…

Situasi di atas, saya gambarkan bila seorang lelaki terkena dampak downsizing atau rasionalisasi…

Bagaimana bila seorang lelaki berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, sementara ia tetap ke kantor… for me… he is a real super man… bisa digambarkan sebagai sosok yang mempunyai delapan tangan yang mampu meng-handle dan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan di kantor dan kehidupan di rumah.

Mungkin bagi para lelaki lain, melihat seorang petinggi mencuci piring, menyapu halaman, mengepel, atau menyuapi anaknya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang absurd.

Entah bagaimana pandangan perempuan melihat itu… mungkin ada yang mengacungkan jempol, melihat empati seorang lelaki membantu perempuan – tanpa rasa canggung.

Atau mungkin ada pula yang mencibir…. ich mau aja disuruh-suruh istri… pasti tuch lelaki ISTI (ikatan suami takut istri)… Padahal sich mungkin cibiran itu keluar, karena suami dari perempuan itu tidak mau melakuakn hal yang sama 😀

Sungguh aneh, bahkan seorang kerabat – yang katanya mendalami ilmu agama. Berkomentar sinis bila melihat seorang lelaki berada di dapur, apalagi kalau melihat lelaki itu menyapu halaman rumah ya… wah bisa-bisa keluar fatwa haram kali ya… 😀

Padahal sich, singkat saja – ilmu agama saya sich ngga dalem-dalem banget – yang penting bagi saya, ilmu itu diamalkan, bukan dipelajari terus dipendem sendirian. Bagi saya, melakukan hal-hal seperti di atas, bukanlah sesuatu yang taboo, apalagi kalau menganggap hal ini menurunkan derajat lelaki.

Ngga lah.

Derajat seseorang (doesn’t matter men or women) bukan dilihat dari pakaian, bukan dari mobil, bukan dari rumah, bukan dari harta, bukan dari pendidikan, bukan dari jabatan…. Semua itu tidak akan ada artinya, kalau kelakuannya tidak mencerminkan dirinya sendiri…

Muhammad bin Abdullah – salam sejahtera bagi dirinya, keluarga serta umatnya – manusia terhebat sepanjang sejarah alam, yang pada masanya sebagai penguasa jazirah Arab, pemimpin tertinggi umat, manusia tersuci di mata sang pencipta… dalam riwayatnya diceritakan bahwa beliau tidak membiarkan istrinya menyapu halaman rumahnya, melainkan beliau sendiri yang melakukannya.

Apakah taboo seorang rasul melakukan hal itu?

Apakah taboo bagi seorang atasan melayani anak buahnya?

Apakah taboo ketika CEO Walt Disney menyapu playground theme park-nya?

Apakah taboo ketika CEO McDonalds turun ke gerainya membersihkan bekas makanan pelanggannya?

Apakah taboo ketika seorang Pimpinan menyapu halaman rumahnya sendiri? Mengepel rumahnya sendiri? Menyuapi anaknya? Menggantikan diaper?

What’s wrong with that???

Realistis aja dech, kalo bisa dan mau membantu – ngga usah mikirin orang lain.

Inget aja cerita Luqman, anaknya dan seekor keledai. Singkat kata – apapun yang kita lakukan, tidak akan lepas dari “omongan” orang lain….

Makanya ada peribahasa, anjing menggonggong, khafilah berlalu….

Intinya… asal ikhlas, ber-empati dan berusaha menyenangan hati orang lain… everything’s gonna be alright…

Life is already complicated, don’t make it even worse.

[Jakarta, 22.06.2009]

Salaam –

Travel

On a Day Like Today

On a Day Like Today

Lagu Bryan Adams ini sebenarnya okelah….. just “okay”.

Tapi sesuai yang lain terasa begitu saya dengar di pesawat menjelang mendarat di Dubai.

Wow, perfect, pas banget.

Apalagi itu merupakan pengalaman pertama saya mampir ke negeri ini.
Liriknya benar2 bisa sesuai dengan teriknya mentari di jazirah arab ini. Benar, disana, kita tidak akan pernah mau melihat matahari terbenam

… on a day like today…. you’ll never want to see the sun go down …

Walaupun biaya hidup di sana relatif muahal, tapi tetap menarik bagi pendatang asing. Tercatat lebih dari 90% penduduk Dubai adalah warna negara asing, yang didominasi oleh warga Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, lanjut diikuti oleh orang2 berkulit putih (Eropa, Amerika).

Dubai, seperti juga kota2 lain di jazirah Arab, memang menjadi gerbang ekonomi dunia yang masih menjanjikan. Luapan dana dari daerah ini masih “menguasai” perputaran uang dunia.

Masihkah negeri ini akan tetap menarik…
[Dubai 26/08/2012]
burj