EHN Personal Thought · Insurance · Syariah / sharia · Syiar

Musibah antara Asuransi dan Sedekah

[Inspirasi Pagi]

Asuransi memberikan kompensasi atas kerugian (finansial) yang diderita seseorang akibat sebuah musibah yang menimpanya.

Catat, tidak sekali-sekali asuransi akan mampu mencegah atau menghindarkan manusia dari bencana, musibah atau malapetaka.

Hanya satu, sesuai janji Allah azza wa jalla, sedekah, yang mampu mencegah musibah dan musibah yang lebih besar.

Wallahu’alam bishshawab ~

EHN Personal Thought

adalah

[my side of story] adalah penting bagi setiap diri untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain

[my side of story] adalah penting bagi setiap diri untuk mendahulukan umat daripada keinginan dirinya sendiri

[my side of story] adalah penting bagi setiap orang berperilaku seperti layaknya seorang peminpin karena dirinya adalah memang pemimpin setidaknya bagi dirinya sendiri

[my side of story] adalah utama menjalankan aktifitas sehari-hari dengan menjadikannya ladang amal íbadah

[my side of story] adalah salah bila manusia menganggap limpahan kemewahan dunia sebagai sebuah kekayaan

[my side of story] adalah hati yang selalu bersyukur dan selalu merasa cukup sebagai sebuah kekayaan

[my side of story] adalah utama menjaga segumpal darah untuk tetap berbaik sangka dan tidak berburuk sangka, segumpal darah berupa hati

[my side of story] adalah wajib bagi seseorang bila ia memimpin untuk menjadi contoh teladan yang baik (uswatun hasanah)

[my side of story] adalah absurb bila seseorang yang memimpin, ia berkata lain dengan apa yang ia kerjakan

[my side of story] adalah tidak pantas seseorang yang menjadi panutan melakukan hal-hal yang tidak terpuji

[my side of story] adalah sifat manusia berkeluh kesah manakala ia mendapatkan sedikit kesulitan saja

[my side of story] adalah sifat manusia kikir manakala ia memperoleh rizki yang berlimpah

[my side of story] adalah sifat manusia mengagungkan kesementaraan di dunia

[my side of story] adalah sifat manusia yang mengabaikan keabadiaan di akhirat

[my side of story] adalah manusia yang sering terlupa bahwa ucapan menyakitkan bisa menjerumuskannya ke api neraka

[my side of story] adalah manusia yang tidak sadar bahwa ucapan tidak baik tidak akan membuat dirinya di terima di taman firdaus

[my side of story] adalah penting menjaga keyakinan di dalam hati agar diri tidak pernah merasa kesepian

[my side of story] adalah penting meraih kemenangan tetapi jauh lebih penting bila kemenangan itu diraih dengan cara yang baik, santun, beretika dan penuh moral

[my side of story] adalah lebih penting melakukan perbuatan baik daripada hanya sekedar membicarakannya tanpa hasil

[my side of story] adalah lebih penting melakukan hal kecil yang dimulai dari diri kita sendiri

[my side of story] adalah penting berbaik sangka dan menangkap semua pandangan dengan cara yang bijak

[my side of story] adalah cerdas bagi orang yang mengetahui semua jawaban atas semua permasalahan

[my side of story] adalah bijaksana bilamana setiap diri tahu kapan waktunya ia harus berbicara dan kapan waktunya ia harus diam

[my side of story] adalah penting bagi setiap diri berkontemplasi dan mengingat sang pencipta

[my side of story] adalah penting mensyukuri jutaan rizki yang ia miliki ketimbang mengeluhkan sedikit kesusahan yang ia alami

[my side of story] adalah penting bagi tiap manusia untuk sejenak merenungi semua lika-liku kehidupan yang telah ia lewati

[my side of story] adalah penting bekerja dalam koridor ketuhanan (god corporate governance) bukan sekedar tertata baik (good corporate governance)

[my side of story] adalah Allah yang telah memberikan jaminan rizki yang melimpah bagi umatnya yang berhijrah di jalan-Nya

[my side of story] adalah Allah yang memberikan jalan keluar dari setiap urusan umat-Nya

[my side of story] adalah Allah yang memberikan rizki kepada umat-Nya dari arah yang tak terduga

[my side of story] adalah Allah yang telah memberikan jaminan bagi umat-Nya yang bertawakal akan tercukupi segala kebutuhannya

[my side of story] adalah Allah yang akan menyembuhkan segala penyakit yang diderita umat-Nya

[my side of story] adalah Allah yang telah mengajarkan manusia untuk “membaca”

[my side of story] adalah manusia yang lemah imannya sehingga masih meragukan ayat-ayat illahi

[my side of story] adalah manusia yang suka menghindar dan mencari celah dari aturan illahi

[my side of story] adalah manusia yang mencari keuntungan dari ayat-ayat dan aturan illahi

[my side of story] adalah celaka manusia yang tidak beriman kepada hari akhir

[my side of story] adalah celaka bagi manusia yang membekukan hati dan pikirannya dari mendengar ayat-ayat illahi

[my side of story] adalah kematian yang sangat dekat bagi setiap yang bernyawa

EHN Personal Thought · Syariah / sharia · Syiar

#LabaTanpaMemperdaya

Pagi ini sembari menunggu boarding, sambil membuka-buka device, alhamdulillah saya mendapatkan inspirasi dari status sahabat saya. Jujur saya menilai itu sangat dahsyat. Sederhana tetapi sangat dalam maknanya.

#LabaTanpaMemperdaya
Laba Tanpa Memperdaya
@akhsinmu

Langsung saya kirim message kepada sahabat saya itu menanyakan sekiranya itu merupakan tagline perusahaan atau organisasi karena saya ingin co-pas di status saya bahkan menjadi tulisan ini.

Beliau ternyata sangat welcome dan menyebutkan itu “karya” pribadi beliau dan menjadi tekadnya dalam berikhtiar di sebuah lembaga keuangan syariáh (LKS).

Dari sudut pandang saya pribadi, tagline itu sungguh mengena dan sesuai dengan prinsip syariáh.

Kita semua sebagai seorang makhluk universal (muslim maupun non-muslim) diajarkan untuk ber-ikhtiar dan memperoleh penghidupan terbaik di dunia.

Sepengetahuan saya, sesuai syariáh, tujuan hidup seorang muslim sesungguhnya adalah akhirat yang baik, sedangkan dunia hanyalah sebagai perantara untuk menuju kehidupan akhirat yang abadi. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina azabbannaar.

Celaka, sungguh celaka, apabila kehidupan dunia tidak mampu membawa manusia ke kehidupan akhirat yang baik. Sungguh lebih celaka lagi bila di dunia saja sudah tidak baik, di akhirat juga tidak baik.

Kembali ke tagline tadi, setiap kali kita beraktifitas harus diniatkan demi kebaikan bagi orang lain. Junjungan Rasulullah pernah mengajarkan kepada umatnya “Khairunnas anfa’uhum linnas” yang artinya kurang-lebih “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” [riwayat imam Bukhari dan imam Muslim]

Mencari laba, tentunya sangat dianjurkan. Aturan muamalah dalam Islam mempunyai beberapa prinsip utama, salah satunya adalah tidak menzalimi dan tidak dizalimi alias tidak merugikan dan tidak dirugikan.

Tentunya tagline #LabaTanpaMemperdaya sangat sesuai dengan salah satu prinsip muamalah tsb. Kita boleh memperoleh keuntungan tanpa membohongi orang lain. Jangan mentang-mentang bertujuan memperoleh keuntungan, segala cara diambil.

Saya pun ingin menyelaraskan tagline kerabat saya tsb dengan salah satu prinsip utama saya:
“winning is everything, fair play is beyond everything”.

Menang itu segalanya, tetapi kejujuran itu di atas segalanya | meraih untung itu segalanya, tetapi cara memperoleh keuntungan itu, yang lebih penting.

Hal ini cukup kontradiksi dengan pendapat rekan saya lainnya. Beberapa waktu lalu, teman saya berpendapat bahwa walaupun kita bekerja di LKS, terap saja kita dituntut untuk mendapatkan profit. Pemilik pasti menuntut pekerja untuk memperoleh laba sebesar-besarnya.

Saya sendiri sempat berpandangan bahwa ketika kita bermuamalah (dalam setiap kesempatan), baik di LKS maupun non-LKS, seyogyanya tidak melulu mengedepankan laba dan laba saja. Terlebih bagi pejuang syariáh di LKS, kita semua punya kewajiban men-syiar-kan bahwa ajaran luhur Islam adalah rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan cuma menjadi rahmat bagi diri sendiri, bukan cuma bagi keluarga, bukan cuma bagi perusahaan, bukan cuma bagi nasabah, bukan cuma bagi pemilik modal, tetapi juga bisa menjadi rahmat bagi masyarakat sekitar yang tidak terlibat dalam aktifitas kita bahkan menjadi rahmat bagi alam (dan benda mati) lainnya. Resource belong to society.

Di dalam hati dan pikiran saya masih bergejolak, secara etika, apakah layak bila sebuah perusahaan memperoleh laba yang sangat besar sementara alam sekitarnya tidak memperoleh manfaat dari keberadaan perusahaan tsb.

Karena saya berpegang kepada ajaran yang menyuruh kita menjauhi yang tidak berguna, saya sendiri merasa tidak banyak gunanya berdebat (kusir) tentang permasalahan itu dengan rekan saya itu.

Saya hanya bisa mendoakan orang yang berani mengatakan bahwa memperoleh yang haram saja sulit, apalagi yang halal…

Nauzubillah, summa nauzubillah

Apakah saya terlalu kolot? Old fashion? Masuk kategori “garis keras”? Apakah hanya saya sendirian yang punya pemikiran seperti itu?

Hare geeneee…

Well, with faith in your heart, you’ll never walk alone. Saya meyakini dengan iman di hati, saya tidak akan pernah sendirian.

Semoga berguna bagi kita semua.

Wallahu’alam ~

#demiINDONESIAyanglebihbaiklagi

EHN Personal Thought · Family

Happy Anniversary Honey!

Waktu-waktu jam segini, empat belas tahun yang lalu, merupakan saat yang tak akan pernah terlupakan. Saat itu rasanya bagaikan tubuh yang kehilangab ruh-nya. Waktu itu, pikiran secara kosong dan pandangan terasa hampa.

Saya masih ingat rasanya keringat dingin mengucur deras di tubuh ini. Bukan karena tebalnya jas Betawi warna putih yang saya pakai, tetapi memang karena faktor non teknis 😀 Alhamdulillah semua berjalan lancar. Ijab terucap dengan tegas dan lancar.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Kini dengan ditemani tiga makhluk sempurna penerus generasi, kenangan itu masih tetap manis dan takkan bisa terlupakan.

Aku sungguh beruntung mendapat pendamping hidup yang selalu mendampingi, membimbing dan mendukung setiap gerak langkahku. Sejak awal kehidupan bersama kami yang sangat sederhana pun ia sudah mengorbankan waktu dan tenaganya demi mengurus sang jabang bayi. Ia tinggalkan posisi terbaik di pekerjaan demi mendapatkan jabatan terbaik yang bisa diperoleh oleh seorang wanita, ibu rumah tangga. Salut. Sungguh saya sangat salut kepadanya.

Kini, seiring dengan lika-liku kehidupan. Naik-turun. Gelombang pasang maupun surut. Semuanya kami lalui bersama. Sungguh, sangat beruntung mendapatkanmu.

Happy anniversary honey!

Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya buat kita sekeluarga. Ámiin ~

EHN Personal Thought · Indonesia · Insurance · Syariah / sharia · Takaful

Asuransi Indonesia – Bagian 3

Salah satu point yang penting terkait perasuransian syariáh adalah akan disahkan operasional asuransi syariáh secara full-fledged (operasi penuh, bukan lagi melalui windows atau unit syariah).

Dalam kurun waktu 6 bulan sejak diundangkan, setiap perusahaan yang memiliki unit syariáh wajib sudah menyampaikan business plan mengenai portofolio syariah-nya. Akan dibawa kemana, akan dijadikan apa.

Apabila tidak ada perubahan isi sesuai Draft RUU Perasuransian – Pasal 67, adalah sbb:

(1) Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang telah memiliki izin unit syariáh pada saat ditetapkannya undang-undang ini wajib:

A) mengalihkan seluruh portofolio asuransi syariahnya kepada Perusahaan Asuransi Syariáh atau Perusahaan Reasuransi Syariáh yang memiliki kegiatan usaha yang sejenis

B) mengembalikan hak pemegang polis / peserta yang menolak untuk dialihkan kepesertaannya

C) mengembalikan izin usaha unit syariahnya

Paling lama 3 (tiga)* tahun sejak ditetapkannya Undang-Undang ini

(2) Untuk memenuhi ketentuan pada ayat (1), Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi wajib menyampaikan rencana kerja kepada Otoritas Jasa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya Undang-Undang ini

* informasi terakhir hingga tulisan ini disusun, bahwa angka tersebut disetujui DPR menjadi 10 (sepuluh) tahun.

Apabila RUU tersebut benar akan disahkan dan berlaku dalam waktu dekat, kondisi ini akan banyak menentukan arah masa depan usaha perasuransian di Indonesia.

Ke depan, tidak bisa lagi perusahaan asuransi (konvensional) menjual produk asuransi syariáh ke nasabahnya. Begitu pun, agen (utamanya di asuransi jiwa) tidak bisa lagi menjual dua produk bersamaan, karena akan terbentur aturan bahwa seorang agen hanya boleh bekerja mewakili sebuah perusahaan.

Contoh kasus, semisal perusahaan asuransi PT ABC, selain beroperasi secara konvensional, ia juga mempunyai unit syariáh. XYZ adalah sebuah perusahaan asuransi syariáh (full-fledged).

Bila RUU diterapkan maka ABC harus memilih di antara 3 opsi tersedia.

ABC bisa memilih opsi 1 sesuai pasal RUU tsb, yaitu mengalihkan portofolio syariahnya ke perusahaan asuransi syariáh (full-fledged). Untuk menyikapinya, ABC mempunyai beberapa opsi turunan, yaitu:
i/ Mengalihkan ke existing perusahaan full-fledged (XYZ)
ii/ Mengakuisisi perusahaan full-fledged (XYZ)
iii/ Mendirikan perusahaan full-fledged baru (RST)

Masing-masing pilihan tersebut tentunya mempunyai sisi positif dan negatif yang akan kita bahas dalam tulisan selanjutnya.

~ bersambung ~