EHN Personal Thought · Family

Ayah Kami – Bagian 1

Kisah seorang Ayah yang menjadi sosok pahlawan bagi keluarganya

– Bagian 1 –

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kisah tentang sosok ayah kami. Ayah kami sebenarnya adalah sosok orang biasa tetapi merupakan pahlawan bagi kami, ke-enam anak dan satu orang istrinya.

Beliau adalah tipikal pekerja yang mengabdi bagi perusahaan tempatnya bekerja. Beliau bukanlah tipikal kutu loncat. Tidak pula “berpolitik”. Pastinya bukan (maaf) butt kisser.

Puluhan tahun beliau mengabdi di industri asuransi nasional. Sempat pula menduduki jabatan di Dewan Asuransi Indonesia di era 80an.

Pertemanan dan bersosialisasi dengan pihak (re)asuransi asing, sepertinya membuka mata dan wawasannya bahwa masih ada “sisi baik” orang dan negara asing.

Sepertinya, itulah yang menjadi fundamental “investasi” ayah kami kepada anak-anaknya. Alhamdulillaah, semua putera-nya mengenyam pendidikan dan pernah tinggal di negeri-negeri dan benua-benua yang tersebar. Mungkin, jikalau mungkin, Kakak tertua kami masih hidup, bisa jadi beliau juga berkesempatan melanjutkan studi di luar negeri. Wallahu’alam bish shawab.

Ayah kami berinvestasi pendidikan bagi putera-puetranya. Saya sendiri kelak baru menyadari, bahwa “investasi” ayah kami pun ter-diversifikasi dan tersebar di seluruh belakan dunia. Ada yang mengenyam pendidikan di Amerika, Inggris, Hong Kong, Singapore dan Australia. Jadi hampir di seluruh benua ada jejak investasi beliau.

Kami sendiri bukan keluarga yang hidup bermewah-mewah. Bahkan boleh dibilang, keluarga biasa, yang terkadang ayah kami pun masih merasakan kesulitan likuiditas di penghujung bulan. Tetapi untuk satu hal, pendidikan, ayah kami akan melakukan yang terbaik bagi putera-puteranya.

Ayah kami juga bukanlah tipikal yang memanjakan anak-anaknya dengan kemewahan. Mungkin itu juga yang mendidik kami menjadi survivor dan fighter.

Saya sendiri masih ingat, setelah lulus kuliah dan sebelum kerusuhan melanda Indonesia, saya sempat “nge-tes” ayah kami dengan meminta mobil. Tetapi ayah kami, tidak bergeming. Malah ketika saya berhasil mendapatkan bea siswa (partial) British Council Jakarta, beliau mendorong keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di Inggris. Padahal beberapa tahun sebelumnya, Abang di atas saya, sudah tinggal di negeri Paman Sam selepas SMA.

Di akhir hayatnya, beliau pun masih memikirkan nasib perusahaan yang dipimpinnya. Saya ulangi, ayah kami adalah tipikal pekerja dan pengabdi. Beliau bukan pemegang saham dan tidak punya kepentingan akan perusahaan, kecuali menjalankan dengan sebaik-baiknya.

Dalam usia senja dan keadaan dimana seluruh anak-anaknya (boleh dikatakan) sudah mandiri, beliau masih ingin terus bekerja. Di usia 70an pun beliau masih menyetir sendiri mobilnya ke kantor.

Kami semua puteranya sudah memberikan saran, sudah waktunya beliau beristirahat. Beliau sudah waktunya menikmati waktu lebih banyak di rumah.

Tetapi tidak bagi beliau. Ketika aturan regulasi “memaksa” perusahaan asuransi kecil memenuhi modal minimum, beliau termasuk yang paling keras berupaya mencari solusi bagi perusahaannya. Kami sangat yakin, upaya tersebut dilakukan beliau semata karena memikirkan nasib karyawan. Semisal, perusahaan gagal memenuhi aturan minimum modal, tentunya perusahaan akan tutup.

Kami semua dengan “ego” kami sempat berucap, “Sudahlah yah, biarin aja, ayah pun ga’ dapet apa-apa dari situ.” Pernyataan sikap kami, semata karena kami “kasihan” bahwa ayah kami berjuang mati-matian membela nasib karyawannya. Sementara kami merasa, bahwa karyawannya pun sebenarnya “cuek” saja, atau mungkin pasrah pada keadaan.

Namun bukan ayah kami, bila ia menyerah setengah jalan. Alhasil beliau berhasil, memasukkan investor baru. Ujungnya malah didepak oleh pemilik baru (* tepok jidat).

Tapi itulah kehidupan, ayah kami tidak hitung-hitungan soal itu. Yang penting adalah beliau berupaya semaksimal yang bisa dilakukannya.

End of Part 1 :
To be continued ~

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~

Family · Health · Syiar

[26:80]

… dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku … [26:80]

Menyambung tulisan saya tentang mahalnya kesehatan dan tips kesehatan ala Rasulullah, kali ini saya ingin mengulas sedikit tentang sakit dan bagaimana kita bisa “menikmati” dan “mensyukuri” sakit.

Di antara fenomena kehidupan yang akan dan pasti dirasakan oleh setiap manusia adalah sakit. Sakit merupakan lawan dari sehat. Dan merupakan sunatullah bahwa sakit akan dirasakan oleh siapa saja, dimana saja.

Mungkin yang membedakan sakit yang diderita oleh masing-masing orang berbeda dari sisi durasi dan tingkat rasa sakit itu. Ada yang merasakan sakit kepala sejenak dan bisa hilang rasa sakit itu dengan beristirahat atau tidur. Namun, ada juga yang merasakan sakit kepala yang terasa sangat nyeri sehingga membutuhkan pengobatan.

Soal ajal, memang hanya Allah azza wa jalla semata yang mengetahui. Ada orang yang tidak merasakan sakit atau hanya sebentar sakit dan Allah mentakdirkan kematian baginya. Namun, ada pula sudah sakit menahun namun kehendak Allah mengatakan lain, sehingga orang tersebut masih tetap hidup dengan penyakit yang dideritanya.

Tergantung bagaimana kita melihatnya. Sesuai dasar sifat manusia yang selalu berkeluh kesah, sebagian besar kita ketika merasakan sakit, akan bersumpah serapah, mengumpat. Bahkan saya sendiri pernah mendengar sampai ada orang yang kehilangan imannya hanya karena sakit.

Padahal, sakit merupakan “kesempatan” bagi tubuh kita untuk istirahat. Mungkin tidak kita sadari, tubuh kita mengirimkan “sinyal” ketika pemiliknya seakan mengabaikan perlunya istirahat.

Belum lama kita dengar kisah seorang perempuan muda yang meninggal dunia dikarenakan memaksakan dirinya bekerja terus-menerus tanpa istirahat. Sakit yang dirasakan itulah sebenarnya “kesempatan” bagi pemiliknya untuk melakukan recovery. Bila dipaksakan, ibarat sebuah mesin, bila terus dipaksakan maka akan overheat.

Tidak layak bagi kita, untuk merasa sebagai yang paling kuat, paling hebat, merasa bahwa diri kita tidak akan pernah sakit sekalipun. Patut kita sadari, bahwa setiap kita akan merasakan sakit. Bahkan Allah sudah mentakdirkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Sebagai seorang yang beriman, kita harus meyakini bahwa sakit sesungguhnya adalah takdir dari Allah azza wa jalla. Tentunya dalam setiap putusan Allah, terdapat hikmah bagi semesta alam. Setiap putusan Allah, tentunya merupakan yang terbaik bag semua. Karenanya, sebagai seorang yang beriman, ketika kita merasakan sakit, kita kembalikan ini semua sebagai sebuah putusan terbaik dan kita harus menerimanya dengan ikhlas dan ridha.

Dalam al Qur’an disebutkan, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [57: 22-23]

Sebagai pengikut Rasulullah, kita pun mengetahui bahwa manusia terbaik, kekasih Allah, Muhammad bin Abdullah, manusia yang sudah terjamin masuk syurga pun pernah merasakan sakit.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Muhammad), sekali-kali tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.” [9:51]

Sakit merupakan media, bagi tiap manusia untuk melakukan introspeksi diri. Sakit merupakan waktunya kita menyadari kekeliruan dan kesalahan yang pernah kita lakukan. Sakit menjadi jembatan bagi orang beriman untuk bertaubat.

Sakit mengajarkan kita sebagai mahkluk yang lemah. Sakit mengingatkan kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan bantuan manusia lainnya. Sakit mendidik kita untuk tidak berlaku sombong dan angkuh.

Manusia yang tidak pernah merasakan sakit, hatinya akan membatu dan sombong. Dikisahkan bahwa Firaun seumur hidupnya tidak pernah merasakan sakit. Akibatnya ia menjadi sombong melampaui batas. Sampai-sampai Firaun mengakukan dirinya sebagai Tuhan.

Karenanya, kita wajib bersyukur ketika Allah menimpakan sakit kepada kita, itu tandanya Allah SWT masih sayang kepada kita dan mengirimkan “peringatan” kepada kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah pernah bersabda “Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” Artinya sakit yang kita derita merupakan pengurang dosa kita di yaumil akhir nanti.

Kalau mau jujur, ketika kita dirawat di Rumah Sakit, sebenarnya itulah kita mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mengingat Allah. Baik terpaksa ataupun karena kesadaran sendiri, setiap tubuh merasakan sakit, maka asma Allah akan disebut berulang-ulang. Segala doa pun dipanjatkan. Kitab suci al Qur’an pun (baru kembali) dibuka dan dibaca ~ sembari berwasiat bagi diri sendiri.

Cobaan ini yang patut menjadi perhatian kita. Apakah kita menerimanya dengan lapang dada, atau dengan bersempit dada.

Rasulullah pernah bersabda, “… dan sesungguhnya salah seorang mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang mereka merasa senang karena memperoleh kelapangan.” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim)

“Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Apabila kita ridha dengan ujian Allah, Insya Allah keberkahan akan menyertai kita.

Apapun dan bagaimanapun kita menjalani ujian sakit itu, saya mengucapkan syafakallah / syafakillah bagi yang sedang menjalani ujian Allah. Semoga Allah mengangkat penyakit yang diderita, memberikan kesembuhan, dan menjauhkan kita semua dari dari malapetaka, dan Allah masih memberikan kesempatan kembali berkumpul dengan sanak saudara dan kerabat dalam keadaan sehat wal afiat.

Aamiin –

Family

Survei Biaya Hidup Indonesia 2012

image

Melihat hasil Survei Biaya Hidup (SBH) Indonesia tahun 2012 menunjukkan dominasi biaya rumah tangga (perumahan, air, listrik, bahan bakar). Bahkan bila ditambah biaya makan dan pakaian, gabungan kategori (basic) itu sudah melebihi separuh dari total biaya hidup di Indonesia.

Dari catatan di atas, saya merasa prihatin, dari hasil survei tersebut tidak ada satupun kategori terkait investasi (tabungan, dsj) dan ibadah sosial (sedekah, zakat, infak, dsj)

Saya kurang paham, apakah investasi tidak / belum masuk kategori “biaya” atau memang tidak ada responden yang mengeluarkan uang untuk kategori investasi atau ibadah sosial tadi.

Wallahu’alam bishshawab

Family · Travel

Inviting you all to (dangerously beautiful) Indonesia

Batu Tapak | Desa Cidahu | Sukabumi | West Java ~ at the foot of Mount Halimun National Park

What can you find here?
• (family) camping ground
• praying room (mushalla)
• clean (fixed) toilet
• hot water shower
• activities (out bond, gathering)
• 24-hour cafeteria

Find details on their website: http://www.batutapak.com

Some information from their website:

Entrance fee:
• Camping area IDR 20K / pax
• Cidahu village IDR 2K / pax
• National Water Fall IDR 2.5K /pax

Choice of VIP tents (including breakfast):
• 3 beds for 6 pax IDR 800K / tent / night
• 2 beds for 4 pax IDR 600K / tent / night
• 1 bed for 2 pax IDR 400K / tent / night

Choice of Platoon tend (excluding breakfast) for 2 night / 3 days:
• New tent IDR 1.25Mio / tent
• Standard tent IDR 1Mio / tent
• Semi platoon tent IDR 750K / tent
• Charly type 7 pax IDR 400K / tent
• Dome tent 4 pax IDR 150K / tent
+ for this type you may need additional equipment (electricity, neon lamp, mattress, pillow, sleeping bag, etc)

• Breakfast IDR 50K / pax

• Set lunch / dinner IDR 20K~50K / pax

• Fun games IDR 60K / pax (flying fox, spider web, cross line, high rope)
* for group only (advance booking)

Hopefully you’d have your most enjoyable (family) holiday

Cheers –

– disclaimer on –