EHN Personal Thought · Indonesia · Insurance · Syariah / sharia · Syiar · Takaful

MENILAI SEBUAH PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH YANG BAIK (#1)

MENILAI SEBUAH PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH YANG BAIK (#1)

 

 

Seseorang pernah bertanya kepada saya, “Bagaimana sebenarnya menilai sebuah perusahaan asuransi syariah yang baik di industri?” Beliau menambahkan, “Saya awam akan hal ini (mengenai asuransi syariah). Saya cuma tahu kalau di asuransi syariah itu ada dana tabarru dan dana perusahaan.”

 

Begitu lah kira-kira pertanyaan yang dilontarkan kepada saya. Alhamdulillah, kembali saya meyakini tingginya ilmu pengetahuan, semakin kita pelajari akan semakin kita merasa banyak tidak tahunya.

 

Saya pribadi melihat bahwa sebuah perusahaan asuransi syariah (PAS) akan berhasil menjalankan amanatnya yaitu melakukan pengelolaan risiko, apabila pengelolaan risiko tersebut “berhasil”. Pengelolaan risiko di PAS terihat apakah hasil pengelolaannya meghasilkan surplus atau malah defisit.

 

Pengelolaan risiko di PAS, ditunjukkan dalam laporan keuangan, yaitu surplus/deficit underwriting. Surplus underwriting berarti menandakan bahwa penerimaan dana tabarru lebih besar daripada pemberian manfaat/santunan (klaim). Surplus ini mengindikasikan bahwa kontribusi (premi syariah) dan pencadangannya ditetapkan secara adequate (memadai).

 

Sebaliknya, apabila hasilnya deficit, maka dapat diindikasikan bahwa penerapan tarif kontribusi dan cadangan, tidak/kurang memadai untuk menutupi besaran pemberian manfaat/santunan kepada Peserta (pemegang polis).

 

ehn - ilustrasi surplus uw

 

Mengapa saya menganggap hal ini penting?

 

Fungsi dan keberadaan PAS dalam pengelolaan asuransi syariah adalah sebagai wakil dari para Peserta. Seluruh dana yang terkumpul sebenarnya adalah dari dan milik para Peserta secara kolektif. Kembali, PAS hanyalah sebagai pengelola risiko, bukan sebagai pemilik dana.

 

Hal ini berbeda dengan skema yang ada di perusahaan asuransi (konvensional). PAK merupakan pemilik dana yang dikumpulkan dari nasabahnya (Tertanggung). Maka indikator keberhasilan adalah, bagaimana PAK mampu memberikan nilai lebih bagi pemegang sahamnya, dalam bentuk laba perusahaan.

 

Di PAS, kondisi yang sama, yaitu memberikan nilai lebih kepada pemilik sebenarnya, yaitu para Peserta. Untuk itulah, keberhasilan PAS menghasilkan surplus dana tabarru menjadi faktor penilai utama.

 

Sangat ironis, apabila pengelolaan dana tabarru menjadi terbengkalai, sementara PAS memperoleh laba yang sedemikian besarnya. Atau barangkali kata yang tepat adalah dzulm (sesuatu yang tidak pada tempatnya ~ inappropriate). Seidealnya, kedua pihak mendapatkan nilai lebih. Peserta mendapatkan keuntungan dari pengelolaan dana tabarru, PAS juga memperoleh keuntungan dari laba perusahaan. Sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan.

 

Secara pribadi saya menilai bahwa tujuan dari keberadaan PAS, sebagai sebuah lembaga keuangan syariah — yang merupakan representasi dari value keislaman, maka keberadaannya harus memberikan manfaat dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Tujuan dunia dan akhirat harus tertanam dengan baik sejak awal.

 

Lalu, apa kriteria lain untuk menilai sebuah PAS yang baik? To be continued

 

 

– wallahu’alam bish shawab –

 

 

EHN Personal Thought

What’s so special about today?

Winning is everything, fair play is beyond everything. Menang adalah segalanya, tetapi kejujuran ada di atas segalanya. 
– 
Hari ini Rabu, 19 April 2017, sebanyak 7.218.254 warga Jakarta akan melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) putaran kedua untuk menentukan Gubernur periode 2017-2022. 
Hangatnya suhu politik di ibukota, ternyata berimbas ke rekan bisnis saya dari luar negeri yg menunda kedatangannya ke Jakarta.
Beberapa pertanyaan pun melintas di pikiran saya, salah satunya apakah memang “sebegitunya” keadaan Jakarta mencekam hingga ada kekhawatiran tersendiri bagi warga asing? —- walaupun saya merasa “ge-er” juga, ternyata situasi di Jakarta mendapat perhatian di belahan dunia lain. 
Dugaan saya, murni pribadi, penyelenggaraan pilkada ini adalah yang paling banyak mengeluarkan effort, baik dari sisi waktu, tenaga, apalagi dana. 
Hampir di setiap chat selalu kita temui pembahasan pilkada turut memberikan warna, baik di lingkungan masyarakat, kantor, pertemanan bahkan di group-group media sosial. 
Bagi yang mempunyai hak pilih, silakan gunakan hak anda. Bagi yang tidak mempunyai hak pilih, silakan menjadi penonton yang baik. 
Apapun hasilnya, siapa pun pemenangnya, saya mengajak kita semua untuk menghargainya.
– ehn 20170419 –

EHN Personal Thought

Nasihat Luqman kepada Anaknya

Luqman mengingatkan anaknya untuk senantiasa:

1. Mendirikan shalat

2. Menganjurkan oranglain mengerjakan kebaikan

3. Mencegah orang lain melakukan kemungkaran

4. Senantiasa bersabar atas ujian yang dialami

5. Tidak sombong

6. Tidak boleh angkuh

7. Berlaku sederhana 

8. Melembutkan suara (berkata santun)
Semoga nasihat di atas bisa menjadi perhatian dan pengingat bagi kita semua.

Wallahu’alam bishshawab

EHN Personal Thought

Catatan Kecil Khutbah Shalat Jum’at

​Catatan kecil khutbah shalat Jum’at

Kebon Melati, Jakarta Pusat

24 Maret 2017
Tidaklah manusia dan jin diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah semata. Perintah tersebut disampaikan kepada “manusia” yang artinya tidak bermakna luas bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi ustadz, bagi santri, bagi orang Islam, tetapi juga bagi seluruh manusia.
Ibadah mahdho merupakan ibadah yang sifat dasarnya haram, kecuali ada perintah dan tuntunan dari Rasulullah. 
“Siapa saja yang melakukan amal ibadah yang tidak kami ajarkan, maka amal ibadah tersebut adalah amal ibadah yang tertolak.” 

(HR. Muslim, no. 4590)
Ibadah ghairu mahdho mencakup ibadah secara luas.
Untuk itu, marilah kita jadikan setiap aktivitas kita bernilai ibadah. kerja kita, senyum, bahkan tidur kita pun bisa bernilai agama, selama kita niatkan hanya karena Allah semata.
Kaitannya dengan bekerja, Khatib mengutip hadits riwayat Thabrani sbb:

“Sesungguhnya di antara dosa yang tidak bisa ditebus dengan pahala shalat, sedekah atau haji, maka bisa ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.”
Khatib juga mengajak umat untuk memanfaatkan waktu 1 (satu) detik yang bisa bernilai investasi ibadah untuk masa lima tahun ke depan.
Sebaliknya, 1 (satu) detik yang kita lakukan pun bisa berakibat salah untuk lima tahun ke depan. 
Wallahu’alam bishshawab

24 Maret 2017