Seorang Kopites, antara Khamr dan Riba

Saya adalah seorang Kopites, begitu sebutan bagi pendukung klub sepakbola Liverpool asal Inggris. Sering juga disebut sebagai Liverpudlian atau Merseysider. Dukungan terhadap tim ini sudah ada sejak zaman old.

Kalau penggemar-penggemar millenial mengenal nama-nama populer seperti Salah, Firminho atau Mané, saya sudah kenal nama-nama zaman old seperti King Kenny, John Barnes atau Ian Rush. Semasa kuliah dulu di sana, nama Michael Owen yang paling berkibar.

Salah satu bentuk dukungan yang saya berikan kepada tim saya adalah kepemilikan kaos bola, atau yang biasa disebut jersey. Sebagai sebuah industri yang menjanjikan, tim-tim sepakbola justru menghasilkan laba dari penjualan jersey ini di seluruh pelosok dunia. Bahkan di almamater saya ada jurusan MBA in Football Industry.

Kembali ke soal jersey, saya beberapa kali mengadakan social experiment kepada rekan dan kerabat. Koleksi jersey yang saya punya beragam, termasuk salah satunya yang merupakan kebanggaan saya yaitu berlogo Garuda Indonesia.

Experiment yang saya buat sebenarnya sangat sederhana. Di beberapa hari, saya menggunakan jersey berbeda warna, ada yang merah, hitam atau putih dengan logo sebuah Bank internasional (inisial SC). Pada hari-hari tersebut ketika saya mengenakan jersey, tidak satu pun komentar negatif dari kerabat. Beberapa malah memberikan pujian.

Selang hari berikutnya, saya meggunakan jersey dengan logo sebuah produk bir (inisial C). Kontan, reaksi kerabat pun beragam. Salah satunya bahkan menyinyir… masa sih seorang EHN pakai kaos merk bir.

Saya hanya tersenyum, dan menganggap social experiment saya berhasil.

Berhasil?

Iya, saya anggap berhasil.

Setidaknya saya berhasil membuktikan bahwa tingkat literasi dan pemahaman di kerabat saya adalah minim. Mereka menganggap bahwa bir dianggap lebih berbahaya dibanding Bank (konvensional). Mereka menganggap bahwa khamr lebih “berdosa” dibandingkan riba. Sebuah ironi, bahwa tidak banyak yang faham bahwa bahaya riba sesungguhnya jauuuh lebih berat dan lebih berdosa dibandingkan “sekedar” khamr.

Ketika saya jelaskan, salah satu bahaya riba, bahwa dosa riba jauh lebih besar dari berzinah, sebagian malah tidak menanggapinya. Mereka masih tetap merasa bahwa bir lebih berbahaya, dan lebih tidak pantas “dipromosikan” oleh seorang EHN ketimbang Bank internasional tadi.

Naah, bagaimana menurut anda antara khamr dan riba di atas?

#YNWA

#LFC

#BigRedsIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s