Author: Erwin Noekman
Objektif Materialistik
Apabila jumlah harta sudah menjadi ukuran kesuksesan hidup seseorang, maka seseorang yang sudah mampu mengumpulkan harta akan mengakuinya sebagai catatan prestasi kesuksesan dan akan menganggap dirinya berada satu tingkat di atas orang lain.
Kondisi sebaliknya, bagi seseorang yang tidak mempunyai atau kekurangan harta, niscaya ia pun akan menganggapnya sebagai sebuah kegagalan, bahkan bisa jadi merupakan sebuah kehinaan.
Hal ini sebenarnya merupakan keyakinan dan warisan budaya kuno. Para Raja dan bangsawan di negeri tersebut, ketika wafat, akan membawa seluruh harta kekayaan mereka ke dalam kubur, sebagai bekal kehidupan di alam berikutnya.
Itulah aspek kekayaan secara materiil yang mereka anut yang merupakan cerminan cara pandang manusia objektif-materialistik atas harta dan kehidupan.
Disarikan dari:
Tasfir Salman
Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma
Oktober 2014
ISBN 978-602-97633-8-6
Syawal
Bercampur aduk rasa di hati ini. Ada rasa sedih, ada rasa gembira.
Rasa gembira terasa di hati karena telah (merasa) berhasil melewati ujian selama satu bulan di Ramadhan. Ujian kesabaran, sebagai bukti keimanan seorang Muslim, telah terlalui. Di akhiri dengan rasa kemenangan menaklukkan syahwat, nafsu dan amarah.
Di sisi lain, rasa sedih tetap menggeluti hati. Sedih karena bulan Ramadhan telah berlalu. Sedih, karena masa pengampunan telah berlalu. Sedih karena lewat sudah masa dimana semua amalan diperhitungkan berlipat ganda. Terbersit rasa khawatir bila ajal mendahului sebelum berjumpa kembali dengan Ramadhan berikutnya.
Ramadhan berlalu, Syawal tiba.
1 Syawal ditandai dengan ajang silaturrahim. Kala setiap Muslim (berusaha) menyempatkan waktu untuk berjumpa sanak saudara. Tidak jarang, upaya perjumpaan ini pun harus dilalui dengan upaya dan rencana serta persiapan, baik secara fisik maupun finansial. “Mudik” adalah salah satunya. Lainnya adalah berkunjung ke orang tua atau saudara (bagi yang masih hidup) atau berziarah ke makam (bagi yang sudah mendahului).
Alhamdulillah, kami melalui Syawal kali ini dengan kunjungan dan pertemuan dengan hampir seluruh sanak saudara yang memungkinkan. Rute perjalanan sejak awal pagi dari kawasan Tebet, menuju kawasan Pejaten, lanjut ke Pamulang, Tanjung Barat dan terakhir di daerah Bantar Gebang. Cukup menyita tenaga. Perjalanan yang dipenuhi dengan padatnya jalanan. Namun, kembali alhamdulillah, semua itu terbayar dengan perjumpaan dengan orang-orang yang kita kasihi.
Larut malam, tetapi kembali bersiap untuk kembali terbangun pagi untuk sahur dan melanjutkan puasa di awal Syawal.
Bismillah…
The Economics of Ramadan (in Indonesia)
Idul Fitri adalah momentum (perekonomian). Momen dimana ratusan juta penduduk Indonesia teribat, baik secara langsung (merayakan) maupun tidak secara langsung (tidak merayakan tetapi tetap terpapar akan kegiatan ini).
Di masa ini, sebagian lainnya memilih melakukan silaturrahim dengan sanak kerabatnya yang berada di tempat lain. Setiap tahunnya terjadi migrasi singkat puluhan juta penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan ke daerah lain, dalam rangka “mudik”.
Apabila mengambil catatan dari kegiatan mudik di atas, terbayang sudah berapa besar perputaran roda ekonomi negara hanya dari sebuah momentum, Idul Fitri. Informasi yang diperoleh dari sebuah lembaga riset, IDEA, menyebutkan bahwa tahun 2017 ini terdapat 33 juta penduduk Indonesia yang melakukan mudik. Dari jumlah tersebut, diperkirakan terjadi perputaran uang mencapai 241 triliun. Wow, jumlah yang fantastis ya?
Bila dibandingkan dengan total GDP negara di bulan Maret 2017 sebesar 3.071 triliun, satu aktivitas mudik saja sudah hampir berkontribusi hampir 8 persen. Luar biasa. Dengan kondisi ini, suka-tidak-suka, mau-tidak-mau, siap-tidak-siap, menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah. Hitungan di atas, baru meliputi kegiatan mudik saja, belum termasuk hitungan perputaran uang selama Ramadhan. Pasti angkanya akan jauh lebih besar karena meliputi jumlah penduduk yang terlibat, yaitu mencapai 200 juta. Bisa jadi, setidaknya 20% GDP Indonesia, terkontribusi dari kegiatan Muslim sepanjang Ramadhan.

Bila kita telaah lebih jauh, walaupun tanpa menggunakan data maupun survei, namun secara nalar dan kasat mata, akan terpapar dengan gamblang besaran roda perekonomian terkait Ramadhan ini.
Pertama, mayoritas Muslim Indonesia menggunakan momentum Ramadhan untuk menyalurkan zakat, infaq dan shadaqahnya di bulan ini. Potensi zakat saja di Indonesia sudah mencapai kisaran 70 triliun, itu di luar infaq dan shaqadah.
Yang kedua, belanja bukaan sepanjang Ramadhan (sering disebut sebagai ta’jil… walaupun makna sebenarnya kurang tepat). Dengan pasar sebanyak 200 juta penduduk Muslim, silakan diperkirakan jumlahnya sendiri.
Yang ketiga, belanja keperluan Idul Fitri. Masih melekat di kalangan Muslim tanah air, bahwa momentum “hari kemenangan” turut diwarnai dengan pakaian (serba) baru. Kembali, silakan dihitung berapa besaran jumlahnya. Silakan ditambah dengan konsumsi kue dan makanan hidangan bagi para tamu di hari-hari Idul Fitri. Bagi para pedagang, momentum ini merupakan titik penjualan terbaik mereka sepanjang tahun. Bila tidak percaya, silakan cek di toko sebelah 😛
Yang keempat, dan seterusnya silakan ditambahkan sendiri, bisa jadi masih banyak pengeluaran lainnya yang belum saya sebutkan di atas.
Alhasil, roda perekonomian Indonesia masih bertumpu pada aktivitas Ramadhan. Sayangnya, momentum Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk “menahan diri” justru menjadi ajang “pengeluaran ekstra” atau bahkan “pemborosan”.
Apa jadinya bila umat Muslim Indonesia, berpikir untuk memakmurkan masjid ketimbang melakukan kegiatan-kegiatan duniawi di atas ya? Penuhi masjid atau mushalla untuk beribadah, ketimbang berdesakan di pasar, mall, pertokoan, supermarket atau tempat belanja lainnya.
Salaam hemat, merdeka!
Kutipan khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438
Kutipan khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, siang tadi saya diberikan kemudahan dan kesempatan untuk mencapai Masjid. Sang Mentari sepertinya “ingin tampil” dan memancarkan sinarnya hingga terik terasa di kulit. Beruntung saya, walau tidak saya ketahui sebelumnya, khatib Jum’at kali ini adalah KH Didin Hafidhudin.
Siang tadi beliau menyampaikan ceramah seputar semangat umat Islam di bulan Ramadhan yang seyogyanya terus dipertahankan. Setidaknya ada 3 kegiatan baik di bulan Ramadhan yg diharapkan terus dijaga oleh kaum Muslimin.
Hal yang pertama adalah kegiatan memakmurkan masjid. Beliau menyebutkan bahwa umat Islam adalah umat Masjid. Tidak mungkin kegiatan umat Islam itu jauh dari Masjid. Masjid menjadi tempat berkumpul dan menjaga ukhuwah islamiyah. Di Masjid, semua Muslim berkumpul dan melakukan shalat berjamaah.
Abah Didin menyampaikan bahwa seandainya kebiasaan berjamaah ini dipertahankan, maka dampaknya akan sangat signifikan bagi kemajuan bangsa dan umat. Kegiatan berjamaah ini diharapkan bukan hanya di bidang ibadah, tetapi meluas ke sektor ekonomi dan muamalah. Beliau menyebutkan bahwa salah satu ciri orang yang mempertahankan berjamaah adalah orang yang memilih bertransaksi dengan sesama umat, walaupun di sekelilingnya ada pedagang dari umat lain. Ia tidak mau bertransaksi dengan umat lain.
Beliau mengutip ayat al Qur’an di surat an Nisa (4) ayat 29 dan salah satu hadits yang intinya adalah perdagangan dilakukan atas dasar ridha dan dilakukan oleh sesama orang yang bertakwa. Beliau menghimbau kepada jamaah agar meniru kegiatan tsb, dengan bertransaksi kepada sesama umat.
Beliau sempat mengambil contoh waralaba milik non-muslim yang luar biasa menghasilkan keuntungan, tetapi keuntungan tersebut tidak dinikmati demi kemajuan Islam. Khatib kembali mengingatkan potongan ayat tadi yang menyebutkan bahwa sama saja kita bunuh diri jika kita tidak melepaskan diri dari kebiasaan bertransaksi bukan dengan sesama Muslim.
Hal kedua yang beliau sampaikan adalah tentang kebiasan membaca Qur’an. Khatib mengingatkan bahwa pada suatu masa terdapat peradaban mulia, itu karena umatnya menyandarkan kepada Qur’an. Mereka menjadikan al Qur’an sebagai pedoman hidup mereka untuk segala urusan, ibadah, ekonomi, sosial, politik dan lain-lain. Apabila menginginkan kembalinya peradaban mulia, maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke tuntunan al Qur’an dan Hadits.
Lalu, hal ketiga yang disinggung adalah tentang semangat berbagi. Apabila semangat ini dipertahankan, maka umat Islam akan memiliki izzah, kemuliaan kaum Muslimin. Bila terlaksana, umat Muslim akan menjadi golongan “tangan di atas” bukan menjadi “tangan di bawah” alias meminta-minta.
– rangkuman khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1438 (16 Juni 2017) di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta Pusat dengan khatib KH Didin Hafidhudin –
wallahu’alam bishshawab semoga terhindar dari kesalahan mengutip isi khutbah
@erwin_noekman


