EHN Personal Thought · Travel

Antara Mudik, Balik Kampong dan Balik Bayan

Seperti biasa, setiap tahunnya menjelang Hari Raya Idul Fitri, bangsa Indonesia digeluti dengan ritual liburan. Selain libur sekolah, para pekerja pun menjalani libur. Selain libur Cuti Bersama sebelum dan setelah 1 Syawal, beberapa juga menambahkan dengan mengambil jatah cuti tahunannya.

Indonesia dengan kemajemukannya, menyebabkan terjadinya migrasi penduduk dari satu kota ke kota lain. Satu pulau ke pulau lainnya. Ada yang sudah beberapa generasi “terpisah” dari tanah leluhurnya, ada pula generasi baru yang “terpisah” dengan orang tuanya.

Alhasil, sebagian besar penduduk yang migrasi tadi memanfaatkan libur panjang untuk kembali ke tanah leluhur atau kembali ke tempat dimana orang tuanya. Istilah yang populer digunakan adalah “mudik”, yang secara literasi artinya kembali ke udik (kampung). Istilah lainnya ” pulang kampung”.

Kalau saya tidak salah kutip, estimasi total perputaran dana menjelang dan selama mudik, mencapai IDR 110 triliun. Angka ini, berupa zakat, infaq, shadaqah, kiriman dana ke kampung halaman, biaya liburan, biaya transportasi (tol, bensin), biaya kuliner, biaya akomodasi dsj.

Mudik ini ternyata bukan hanya ada di Indonesia. Dari pengalaman menjelajah kawasan, saya “turut merasakan” suasana mudik di Malaysia dan Filipina. Mudik di Malaysia, hampir mirip dengan di Indonesia. Di kota utama, seperti Kuala Lumpur, momentum Idul Fitri digunakan penduduk Muslim di sana untuk “balik kampong”. KL serasa kota mati, sebagian besar toko-toko tutup karena tidak ada pekerja yang masuk di Hari Raya Aidil Fitr. Walaupun di Malayaia tidak dikenal Cuti Bersama, tetapi dengan jatah Cuti Tahunan berkisar 12-28 hari mereka bisa memanfaatkannya di Aidil Fitr.

Lain lagi di Filipina, pengalaman saya melakukan dinas di penghujung tahun dari Jakarta juga mulai terasa dari sulitnya mendapatkan jadwal penerbangan ke Manila. Seingat saya waktu itu, karena dinas, “terpaksa” merasakan duduk di kelas utama. Alhamdulillah. Pesawat yang transit di Singapura dipenuhi oleh “overseas workers” yang hendak melakukan “balik bayan” (balik kampung, pulang kampung – red).

Saya sendiri bukan berasal dari keluarga yang mudik. Walaupun ayah kami berasal adalah produk migrasi dari pulau seberang, tetapi beliau sendiri tidak mengkhususkan diri kembali ke kampungnya setiap tahun. Tentunya dengan berbagai alasan dan kondisi yang dialami sepertinya memang agak sulit bila setiap tahun menempuh 2 jam penerbangan ditambah 8 jam menerobos kebun sawit dan hutan, sebelum tiba di kampung yang (sampai 10 tahun lalu) belum dialiri listrik.

Alhasil, setiap tiba momentum Idul Fitri, kami menjalaninya di ibukota dengan ritual berkumpul di rumah orang tua dan berkeliling ke rumah sanak saudara dan handai taulan serta kerabat.

Pengalaman ketika mencoba “mudik” di hari kedua Syawal kami rasakan kurang menyenangkan. Rencana mengisi waktu liburan ke luar kota yang hanya berjarak 200 KM, pun kami nikmati dengan belasan jam di dalam kendaraan saja, ihiks (baca: macet total). Setibanya di kota tujuan pun, tidak dapat kami nikmati sepenuhnya karena jalanan yang padat, sehingga kami memilih menikmati wisata air yang memang tersedia di hotel. Walau demikian, anak-anak kami, tetap menikmati masa liburannya dan turut merasakan mudik.

EHN Personal Thought

1 Syawal

Setiap momentum Idul Fitri, sebagian diri saya merasakan kegembiraan dengan masuknya bulan Syawal. Setiap Muslim di seluruh belahan dunia pun mengumandangkan takbir sebagai tanda kemenangan. Kemenangan dalam melewati ujian shaum Ramadhan selama sebulan penuh.

Di sisi lain, sebagian diri saya justru merasakan kesedihan. Sedih, karena telah meninggalkan bulan maghfirah, Ramadhan nan suci. Sedih, karena telah berlalu kesempatan mendapatkan pahala berlipat yang tidak bisa didapatkan di bulan-bulan lainnya.

Terbersit pula rasa takut dan khawatir, bagaimana bila seandainya Ramadhan yang baru saja berlalu, ternyata adalah Ramadhan terkakhir. Sungguh tidak ada satu mahkluk pun yang mampu menghindari maut.

Karenanya, saya pun tiada henti-henti berdoa dan memohon kepada Allah azza wa jalla, agar semua amalan ibadah Ramadhan diterima disisi-Nya. Memohon agar ibadah seluruh kaum Mukminin diterima oleh Allah. Memohon agar kita semua masih diberikan kesempatan untuj berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun yang akan datang.

Aamiin, ya rabbal alamin

image

EHN Personal Thought · Syariah / sharia · Syiar

Ekonomi Kerakyatan ala Indonesia

Ekonomi Kerakyatan ala Indonesia
————————————————
Erwin Noekman
@erwin_noekman
Praktisi Asuransi Syariah

Umat Muslim di Indonesia baru saja melalui dua “event” besar. Pemilihan umum sudah berlalu. Ramadhan karim pun sudah meninggalkan kita. Kedua momentum tersebut sebenarnya bisa kita kaitkan satu sama lain. Penulis tidak ingin membahas lebih dalam mengenai politik praktis, tetapi lebih ingin mendalami esensi dan pelajaran yang bisa kita petik bersama dari Ramadhan dan kaitannya dengan masyarakat  Indonesia ke depannya.

Selama masa kampanye, kedua calon presiden menjual ide mengenai “ekonomi kerakyatan”. Isi dan penjelasan dari ekonomi kerakyatan yang diusung oleh masing-masing kubu itu sendiri memang belum pernah dijabarkan secara khusus. Sehingga tidak salah apabila para pengidam ekonomi kerakyatan itu sendiri menjadi penasaran dan berharap banyak dari pemerintahan yang akan datang.

Secara mendasar sebenarnya prinsip, pengertian ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memberikan menguntungkan bagi seluruh lapisan masyakarat.

Sebagai bagian dari masyarakat umum, penulis memberikan masukan kepada pemerintahan yang akan datang, ekonomi kerakyatan yang sangat layak dijual bagi masyakat Indonesia adalah “recycle” dari sistem ekonomi yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia, gotong royong. Bangsa Indonesia dikenal sejak lama sebagai bangsa yang ramah, santun, saling menolong satu-sama-lain (taawun) dan saling melindungi (takafuli).

Hal-hal ini sebenarnya merupakan penjelasan dari sistem ekonomi syariáh.

Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Dengan mengambil pareto 85% penduduk Indonesia adalah muslim, secara matematis, sudah akan menyokong sistem tersebut.

Apabila memang benar pemerintah akan mendorong ekonomi kerakyatan, hal ini tentunya akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar. Sistem ini bisa menjadi “alternatif” di antara sistem-sistem ekonomi yang sudah ada dan terhantam badai krisis di berbagai belahan dunia.

Keluhuran nilai bangsa Indonesia yang terkenal dengan sikap gotong-royongnya, merupakan modal kuat dalam pengembangan ekonomi yang berkesinambungan.

Ekonomi syariáh terbukti mampu melewati badai krisis di berbagai belahan dunia. Sementara ekonomi yang “kurang beretika” rontok di perjalanannya.

Saat ini ekonomi syariah baru mempunyai porsi relatif kecil bila dibandingkan dengan total perekonomian nasional. Namun demikian, tingkat pertumbuhan industri syariáh relatif lebih baik bila dibandingkan dengan industri sejenis di lahan konvensional.

Ekonomi syariah itu sendiri dengan prinsip dan asas saling tolong menolong dan saling melindungi di antara sesama peserta selayaknya diyakini sebagai sebuah sistem ekonomi yang sustainable terhadap perubahan jaman. Hal ini akan menjadi tantangan bagi kita semua untuk terus meyakini dan mengembangkan ekonomi syariah.

Ekonomi syariah sebenarnya merupakan sistem ekonomi saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Bagi pelaku industri syariáh keuntungan diperoleh dengan memperoleh bagian atas pengelolaan bisnisnya. Pihak perantara yang terlibat dalam proses transaksi syariáh berhak atas ujrah (fee) dari jerih payahnya. Para nasabah pun turut memperoleh bagian atas keuntungan apabila transaksi tersebut memberikan nilai lebih (surplus). Bahkan, lebih jauh lagi, pihak-pihak yang tidak terlibat (misalnya masyarakat faqir, miskin, dhuafa) dalam transaksi bisnis syariah pun bisa merasakan manfaat dari transaksi non-ribawi ini semisal dalam bentuk zakat, infak, shaqadah atau jariyah. Sistem “ekonomi kerakyatan” inilah merupakan esensi dari keluhuran nilai masyarakat Indonesia yang diusung sejak lama, yaitu prinsip gotong-royong.

Ekonomi syariah sendiri sesuai dengan prinsip yang dianutnya, akan terus menjalankan operasional dengan penuh kepatuhan terhadap nilai-nilai good corporate governance, dan menjalan bisnis dengan penuh etika dan moral yang tinggi. Transparansi akan menjadi kata kunci, karena perusahaan berbasis syariah merupakan pihak yang mendapat amanah dari nasabah dalam pengelokaan dana atau assetnya.

Sesuai momentumnya, adalah kesempatan bagi kita untuk lebih mencermati secara cerdas sistem ekonomi yang digunakan dalam ekonomi syariah. Secara financial, ekonomi syariah memberikan keuntungan lebih seperti digambarkan di atas. Secara sosial, ekonomi syariah turut membantu sesama, baik yang terlibat dalam transaksi maupun yang tidak. Secara religi, ekonomi syariah dengan pengawasan Dewan Pengawas Syariah, memberikan ketentraman bagi nasabahnya dari sisi ibadah duniawi dan akhirat. Secara governance, ekonomi syariah dimotori oleh organisasi yang menjalankan roda usahanya dengan norma-norma kesantunan, etika, empati, simpati dan transparansi.

Kembali menghayati esensi dan semangat dan Ramadhan semestinya tetap terjaga hingga sebelas bulan ke depan. Salah satunya adalah sikap wara (hati-hati). Sepanjang Ramadhan, kita sudah teruji untuk bersikap hati-hati dan menuruti perintah Allah. Jangan yang haram, sepanjang shaum Ramadhan, yang halal pun kita jauhi karena iman kita.

Semestinya, sikap hati-hati ini pun tetap terjaga. Kaitannya dengan muamalah, seyogyanya umat muslim meningkatkan kehati-hatiannya. Kalau sebelumnya kita terbiasa memakan riba, setelah Ramadhan ini mari kita jauhi. Ekonomi syariáh dengan pengawasan Dewan Pengawas Syariáh menjadi sistem ekonomi non-ribawi, yang akan mengantar masyarakat menjadi jauh lebih bermartabat, lebih bersyukur dan menjadi lebih berkah.

Sebagai pelengkap dari kekuatan ekonomi kerakyatan adalah kebijakan pemerintah yang pro terhadap ekonomi kerakyatan itu sendiri. Sejauh ini belum ada lembaga keuangan syariáh yang dimiliki oleh pemerintah. Kalaupun ada, unit syariáh atau lembaga keuangan syariáh merupakan anak perusahaan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sekiranya saja, pemerintah dengan political will yang dimilikinya, sedikit mengarahkan ke arah ini, tentunya akan semakin marak ekonomi syariáh di negeri ini. Kembali diingat, BUMN selain berperan sebagai penghasil dividen bagi negara juga (bisa) mempunyai misi kemanusiaan. Sangat tepat bila ekonomi kerakyatan ini didukung oleh BUMN yang tangguh.

Bentuk lain political will yang bisa digerakkan oleh pemerintah adalah social responsible investment (SRI). Selain corporate social responcibility (CSR), SRI akan sangat membantu para pelaku usaha kecil, menengah dan mikro (UMKM). Tanpa harus terbebani dengan jeratan riba yang bukan hanya menyulitkan secara duniawi tetapi juga menjerat pelakunya dalam hukum akhirat.

Ujungnya adalah tujuan pembangunan yaitu menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Kekayaan akan diperoleh dari sikap bersyukur dan saling membantu.

Dengan keyakinan tinggi, setelah tempaan selama Ramadhan dan harapan berjumpa kembali ke Ramadhan yang akan datang, kita semua bisa meyakini bahwa ekonomi syariah akan semakin maju dan berkembang dan membawa keberkahan bagi semua pihak dan demi Indonesia yang jauh lebih baik lagi.

– personal thought with disclaimer on for a much better Indonesia, my home, my country –