EHN Personal Thought

Argumen Logis tentang Kebangkitan (kembali) Manusia

Tafsir surat Al-Waqi’ah ayat 62 menegaskan kuasa Allah dalam menghidupkan kembali manusia (kebangkitan) dengan merujuk pada penciptaan pertama.

Ayat ini menegur manusia yang mengingkari hari kiamat dengan argumen logis: jika Allah mampu menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, tentu lebih mudah bagi-Nya untuk membangkitkan kembali manusia yang sudah mati. 

Tafsir dan Poin Penting Ayat 62:

• Bunyi Ayat:Wa laqad ‘alimtumun-nasy’atal-ūlā falau lā tadzakkarūn (“Dan sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”).

• Logika Penciptaan Kedua: Manusia diperintahkan merenungkan bahwa penciptaan pertama (dari sperma/tidak ada) adalah bukti nyata kekuasaan Allah. Maka, tidak ada alasan logis untuk meragukan kekuasaan-Nya dalam menciptakan kembali manusia pada hari kebangkitan.

• Teguran atas Kelalaian: Ayat ini merupakan teguran halus agar manusia menggunakan akalnya untuk “mengambil pelajaran” (tadzakkarūn) dari fakta penciptaan diri mereka sendiri.

• Koneksi Ayat: Ayat ini berurutan dengan pembahasan kematian dan penciptaan bentuk baru, menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan transisi ke bentuk kehidupan yang dikehendaki Allah. 

Secara ringkas, ayat ini mengajarkan bahwa pengingkaran terhadap hari kebangkitan adalah bentuk kebodohan karena penciptaan pertama yang disaksikan manusia adalah bukti mutlak atas penciptaan kedua (kebangkitan). 

Wallahu a’lam

EHN Personal Thought

Contemplation Room

Allah telah menciptakan Bumi bagi manusia untuk dijelajah. Dengan mengadakan perjalanan, kita bisa belajar dan mengambil hikmah.

Di antara perjalanan, kita dapati waktunya untuk melakukan kontemplasi. Bagi yang beragama Islam, ada kewajiban meluangkan waktu sejenak di 5 waktu yang sudah ditentukan.

#travel

#UK

#Bicester

EHN Personal Thought · Syiar

Bicara tentang Amanah dan Khianat

Amanah, adalah sebuah kata sederhana yang mudah diucapkan tetapi (mungkin) sulit dijalankan.

Banyak kita dengar orang dengan mudah mengucap amanah, bahkan berani bersumpah untuk amanah tersebut. Seperti di Indonesia, semua pejabat publik pun menjalani sumpah ketika akan memegang (amanah) (jabatan publik).

Bagi profesional, (biasanya) dalam kontrak kerja pun tertuang perjanjian tertulis dimana seseorang mempunyai kewajiban menjalankan amanah (jabatan) dengan sungguh-sungguh, dengan segenap kemampuan dan keahlian yang dimilikinya untuk menjalankan amanah (jabatan) tersebut.

Jadi, bagi siapapun, amanah (jabatan) yang dititipkan kepadanya sebenarnya sudah terikat dalam sebuah perjanjian (hukum) yang mengikatnya.

Karena amanah, bukanlah suatu hal yang bisa diabaikan, karena memang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh dan dengan bekal kemampuan yang memadai.

Bagi umat Islam, ajaran tentang amanah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah yang bersabda,

“Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancuran. Seorang sahabat bertanya, “Apa indikasi menyia-nyiakan amanah itu, ya Rasul? Beliau menjawab, “Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR Bukhari).

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Dari Abu Hurairah radhilayyahu’anhu mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; bagaimana maksud amanat disia-siakan? Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari No. 6015)

Kalifah Umar bin Khattab juga pernah berkata:

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Jangan ada yang bertransaksi di pasar kami kecuali orang yang telah paham agama”. (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad hasan).

Sebagai landasan utama, erintah untuk menunaikan amanah secara umum juga sudah ditegaskan dalam al Quran, sbb:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah itu memerintahkan kepada engkau semua supaya engkau semua menunaikan (memberikan) amanat kepada ahlinya  (pemiliknya).” (QS. An-Nisa’: 58)

Berlawanan dengan amanah, kita kenal istilah khianat. Orang yang tidak menjalankan amanah dengan baik atau tidak dengan bersungguh-sungguh, termasuk dalam khianat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-(Nya) dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui. (QS.Al-Anfal :27)

Demikian sekilas kajian kita di hari Jumat berkah, semoga menambah wawasan dan menjadi kebaikan buat kita semua.

EHN Personal Thought · Syiar

Orang Kaya

Orang yang kaya adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan rasa syukur.

* * *

… “Kaya bukanlah diukur dengan limpahan kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup”…
[HR Bukhari & Muslim]

… “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup” …
[HR Bukhari & Muslim]

* * *

Rasa syukur ini bisa diwujudkan dalam bentuk bersyukur pada dirinya sendiri, kepada keluarga, kepada lingkungan, kepada alam sekitar dan pastinya kepada Allah azza wa jalla.

Rasa syukur pada diri sendiri bisa berupa penghargaan bagi tubuh dan pikirannya. Orang yang memberikan waktu bagi tubuhnya beristirahat di malam hari bisa dikatakan memberikan hadiah bagi tubuhnya yang sudah bekerja seharian penuh. Itu pun merupakan bentuk rasa syukur.

Rasa syukur kepada keluarga bisa berupa penghargaan kepada orang tua. Orang tua yang sejak sebelum kita lahir sudah mengupayakan yang terbaik bagi kita (sang jabang bayi). Iringan doá bagi orang tua, baik yang masih hidup apalagi yang sudah wafat, merupakan hadiah terbaik yang bisa kita berikan. Bentuk materi mungkin menolong, tetapi doá anak shaleh/ah merupakan yang terbaik. Itu pun merupakan bentuk rasa syukur.

Rasa syukur kepada lingkungan bisa berupa penghargaan kepada rekan-rekan kerja atau tetangga yang dengan keberadaan mereka, kehidupan kita menjadi lebih baik. Tidak mungkian manusia bisa hidup seorang diri. Ucapan sederhana seperti “terima kasih” pun sudah menunjukkan rasa pengakuan kita akan bantuan mereka. Itu pun merupakan bentuk rasa syukur.

Rasa syukur kepada alam bisa berbentuk upaya kita menjaga kebersihan. Dengan membuang sampah pada tempatnya saja sudah membantu menjaga alam dari kerusakan lebih besar. Itu pun merupakan bentuk rasa syukur.

Rasa syukur kepada Allah, Tuhan Sang Pencipta, bisa kita lakukan dengan beribadah. Beribadah vertikal dan beribadah horizontal. Wujud syukur kita kepada illahi adalah dengan lebih meningkatkan kepatuhan kita menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Allah SWT sudah memperingati umat manusia bahwa barang siapa yang bersyukur atas segala rahmat dan nikmat-Nya, maka Allah akan membalasnya dengan menambah rahmat dan kenikmatan.

Tetapi jangan lupa, Allah SWT juga sudah menyampaikan ancaman, bahwa barangsiapa yang kufur dan lalai bersyukur, siksa-Nya sangatlah pedih.

Fair and square. Reward and punishment.

Semoga bermanfaat ~