EHN Personal Thought · Syiar

Persuasif

Ketika ingin menjaga hubungan profesional maupun sosial,berikut beberapa tips yang saya rangkum dari berbagai sumber:

• Ketika kita hendak mengutarakan pendapat atau argumen, sangat penting bagi kita untuk terlebih dahulu mendapatkan kepercayaan lawan bicara atau audiens

• Ketika kita terlibat dalam diskusi, pastikan tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman bersama (win-win solution), untuk itu selalu siapkan plan-B dari rencana anda

• Lakukan diskusi dengan terstruktur, siapkan apa-apa yang ingin anda sampaikan atau tidak ingin anda sampaikan

• Tampilkan semua sisi dari pendapat atau argumen anda, baik positif dan negatif, pro dan kontra, plus dan minus, manfaat dan mudharatnya

• Anda harus mampu menarik perhatian lawan biacara atau audiens anda, kebanyakan orang (asing) akan sangat memperhatikan moment of truth yaitu 3 detik pertama pertemuan dengan anda

• Puaskan ego lawan biacara atau audiens dengan memberikan pujian atau sanjungan yang sewajarnya, tidak berlebihan dan tidak mengada-ada

• Kebanyakan orang lebih mempercayai omongan atau pendapat dari orang yang dianggap “senior” (pakar, ahli, tokoh ternama, dsj),untuk itu pastikan anda juga mendapatkan referensi yang bisa disebutkan guna meyakinkan orang lain

• Buat konsensus sehingga seseorang akan terpengaruh oleh apa yang orang lain lakukan

• Atur waktu yang tepat untuk mengutarakan pendapat atau konklusi anda

• Jadilah unik, scarcity makes precious

• Berkeyakinan tinggi atas ide anda sendiri

• Tampil menarik, terlihat antusias dan penuh passion

• Bersikap wajar jangan berlebihan

• Gunakan “jika-maka” sehingga lawan bicara atau audiense bisa membayangkan sebab-akibat dari pendapat-pendapat yang ada

• Bersikap diplomatis, jaga intonasi suara dan gesture tubuh

• Bersikap sederhana dan gunakan bahasa yang “membumi”, hindari penggunaan jargon atau istilah-istilah yang belum tentu lawan bicara atau audiens anda mengerti

Sekarang, saya ingin menyandingkan “teori-teori” di atas dengan meng-analog-kan dengan fakta yang (pernah) ada, sikap pertama ini sangat dan paling penting. Yang saya maksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah, manusia dengan contoh akhlak terbaik yang pernah hidup.

Sebelum beliau menyampaikan wahyu illahi, sebelum beliau meminta orang lain mengikutinya, terlebih dulu sudah mendapat kepercayaan tingkat tinggi. Orang lain sudah mengenal (pribadi) dan sudah mempercayai beliau. Sehingga apapun yang dikatakan beliau, orang-orang pun percaya dan bersedia mengikutinya.

Jadi sangat penting, diulang, sangat penting memperoleh kepercayaan sebelum anda mengeluarkan kata-kata dari mulut anda.

Walk the talk.

Lakukan apa yang anda katakan, katakan apa yang anda lakukan.

Dalam bahasa manajemen, itulah komitmen atau integritas. Pastikan anda mempunyai komitmen atau integritas tinggi, sehingga orang lain atau audiens akan percaya dan mendengar anda, bahkan mengikuti apa(pun) kata anda.

Semoga bermanfaat bagi kita semua (utamanya buat saya pribadi – mengingatkan diri sendiri).

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~

Syiar

[Renungan Fajar] Sifat-sifat Maksiat Manusia

Secara umum sikap seorang manusia semenjak kecil hingga menjelang ajalnya akan diuji dengan sifat maksiat.

Yang pertama adalah sifat bahimiyyah. Maksiat jenis ini merupakan sifat rakus dan sangat obsesif dalam memenuhi syahwat dan perutnya. Dari sifat ini timbullah keinginan mencuri, korupsi, memakan harta anak yatim, zina dan melakukan hal-hal haram guna memenuhi keinginan dan nafsunya.

Seiring dirinya semakin besar dan bertambah banyak keinginannya, seorang manusia akan tiba ujian berupa sifat sabu’iyyah, yaitu sifat amarah dan dendam.

Apabila telah kuat pemikirannya, tetapi tidak mendapatkan Taufik, maka sifat syaithaniyyah akan mulai merasukinya. Akal dan ilmu yang dimilikinya akan digunakan untuk berbuat makar, menipu, licik, munafik, menyerukan kemaksiatan, bid’ah, sewenang-wenang dan sesat.

Di penghujungnya, ujian sifat rububiyyah, dimana manusia merasa dirinya yang terhebat dan sebagai penguasa. Tidak sedikit kita ketahui manusia yang merasa dirinya sebagai Tuhan, yang bisa mengatur sesuai kehendaknya, sombong dan angkuh. Kisah tentang Fir’aun dan Namrud menunjukkan sikap “mengaku Tuhan” (megalomania) seorang manusia yang meng-aku-kan dirinya sebagai yang paling hebat dibanding mahkluk lainnya.

Naudzubillah summa naudzubillah.

Syiar

Manusia merasa lebih malu di hadapan manusia lainnya ketimbang di hadapan Tuhannya

Kisah singkat tentang Thawus al-Yamani yang kala itu menetap di kota Makkah.

Suatu ketika ia dirayu oleh seorang perempuan nakal. Perempuan ini tidak henti-hentinya menggoda Thawus. Segala daya upaya, godaan, rayuan dilakukan oleh perempuan ini.

Perempuan ini pun, terus mengikuti kemana Thawus pergi. Hingga akhirnya keduanya tiba di depan Masjid al-Haram yang dipenuhi kerumuman orang.

Thawus pun berkata kepada perempuan itu, “Lakukanlah apa yang kamu inginkan dariku!”

Perempuan itu pun menjawab,”Bagaimana mungkin, di sini banyak orang yang melihat kita.”

Sejurus kemudian, Thawus pun berkata, “Seharusnya kamu lebih malu dilihat oleh Allah.”

Seketika itu pula, perempuan itu langsung bertobat dan bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah azza wa jalla.

Ia menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan Allah, sekalipun perkara ghaib.

EHN Personal Thought · Syiar

Renungan Pagi: Dunia dan Akhirat

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qur’an Surat Al Qasas ayat 77 | QS.28:77]

Ayat di atas mengingatkan kita agar sebagai manusia kita wajib menjaga keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud adalah antara tujuan dunia dan tujuan akhirat. Artinya dalam mencapai akhirat, manusia juga agar tidak melupakan dunia.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk 100% mengabdikan diri bagi tujuan akhirat (tanpa memikirkan dunia).

Ajaran illahi ini pun melaknat orang yang hanya memikirkan dunia saja (tanpa memikirkan akhirat).

Di dalam ayat-ayat Qur’an pun selalu bersanding antara ibadah “akhirat” dan “dunia”.

“Dirikan shalat dan tunaikan zakat”.
“Dirikan shalat dan tunaikan zakat”.
“Dirikan shalat dan tunaikan zakat”.
….

Kalimat di atas disebutkan berulang-ulang di dalam Qur’an.

Shalat identik dengan ibadah akhirat. Shalat merupakan ibadah individual (walaupun bisa dilakukan berjama’ah). Manfaatnya akan terasa di alam kubur dan akhirat nanti.

Zakat merupakan ibadah dunia. Yang dilakukan bagi alam sekitar. Yang manfaatnya langsung dirasakan bagi umat lain di semasa di dunia.

Allah menyandingkan kedua ibadah tadi dan disebutkan berulang-ulang, tentunya bukan tanpa maksud dan makna. Bagi seorang muslim, dianjurkan untuk menjaga kedua ibadah tsb.

Sebenarnya sudah ada contoh abadi bagi umat muslim untuk menjaga keseimbangan tsb. Nabi besar Muhammad SAW adalah role model terbaik, yang mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Beliau tidak tertandingi dalam hal ibadah. Shalatnya terjaga. Shaum terjaga. Bahkan wudhu’ pun terjaga. Beliau yang sudah terjamin masuk syurga pun, tetap tak tertandingi dalam beribadah.

Untuk hal keduniawian pun beliau tidak tertandingi. Sikap ke-“duniawi”-an beliau lah yang justru menjadikan Nabi Muhammad didapuk sebagai sebagai manusia paling berpengaruh di dunia.

Jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, masyarakat sekelilingnya sudah memberikan gelar al-amin (yang dapat dipercaya).

Akhlak mulia beliau-lah yang membuat kawan dan lawan menaruh rasa hormat dan sungkan. Dan akhlak ini menjadi begitu pentingnya, karena sesuai dgn hadits beliau pun, disebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah yang (bisa) memberikan manfaat bagi orang lain.

Beberapa kisah sukses beliau sebagai “manusia biasa” bisa kita lihat dalam beberapa riwayat.

Pertama, beliau adalah pedagang ulung. Sejak kecil beliau sudah bekerja dan berdagang. Dengan cerdas beliau membuka jalur perdagangan internasional (kala itu) dengan melakukan export-import. Sifat kejujuran yang melekat pada diri Muhammad bin Abdullah ini merupakan modal dasar sebagai seorang pedagang sukses. Kalau saja, semua pedagang saat ini, berperilaku seperti beliau, dijamin, tidak akan ada orang miskin di dunia ini. Tidak akan ada keserakahan dan sikap zalim kepada sesama atau kepada alam.

Kedua, beliau ada pemimpin yang dikenal sangat bijaksana. Bila dibandingkan dengan masa kini, beliau sudah lebih dari seorang presiden, perdana menteri atau raja bila digabung sekaligus. Wilayah kekuasan beliau saat itu sudah melintasi jazirah Arab.

Ketiga, sebagai seorang panglima perang yang disegani kawan dan lawan. Tercatat dalam sejarah, beberapa kali beliau maju memimpin peperangan melawan kaum kafir. Pola dan strategi yang diterapkan beliau pun sangat jitu sehingga di akhir peperangan adalah umat Muslim yang mampu mengibarkan panji-panji illahi.

Keempat, sebagai suami, ayah dan kakek yang sangat menyayangi keluarga. Kisah kasih beliau dengan istri-istri beliau merupakan roman klasik yang tak akan pernah terlupakan. Dari riwayat hadits tergambarkan keadilan beliau terhadap para istrinya. Tergambar pula bagaimana kecintaan beliau terhadap anak dan cucunya.

Kelima dan seterusnya, masih teramat banyak bisa diteruskan.

Sungguh, beliau adalah “manusia biasa”. Manusia yang mampu menunjukkan akhlak, keseimbangan dan keunggulan.

Patutlah, hanya beliau sebagai uswatun hasanah. Role model yang sesungguhnya.

Ikuti dan patuhi. Insya Allah, berkah dunia dan akhirat.

Wallaahu a’lam bishawab

EHN Personal Thought · Syiar

Renungan Jum’at | Sedekah Tanpa Harta

Sedekah Tanpa Harta

Tanpa kita sadari, sebenarnya banyak cara bagi kita untuk beramal. Hari Jum’at ini merupakan hari baik untuk beramal.

Kebanyakan orang (termasuk mengingatkan diri sendiri) cenderung berpikir bahwa beramal itu berarti mengeluarkan sejumlah uang (harta).

Beramal di hari Jum’at, banyak diartikan mengisi tromol Jum’at.

Walaupun menurut saya, itu masih lebih baik lah, setidaknya seminggu sekali masuk ke masjid, daripada tidak pernah sama sekali 😛

Namun, lebih dari amal tersebut ternyata masih banyak lagi sedekah yang bisa kita lakukan tanpa perlu keluar uang sedikit pun.

Dari catatan yang saya punya, sedekah tanpa harta bisa kita lakukan misalnya:
• Memberikan senyum
• Menyambut kerabat dengan wajah ceria
• Perkataan yang baik
• Memberikan pendapat dan bermusyawarah
• Menolong orang (tua / buta) menyeberang jalan
• Mengucap salaam ketika bertemu dan berpisah
• Mengumandangkan tahmid, takbir dan tahlil
• Berbuat baik kepada sesama
• Berbuat baik kepada alam (menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya)
• Berlaku adil di antara orang yang berselisih
• Bersikap bijaksana
• Memberikan nasihat yang baik
• Menemani orang yang sakit
• Mengantar jenazah ke kubur
• Berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman
• Berjalan untuk shalat
• Menyelamatkan orang lain (mencegah bahaya)
• Mendonorkan darah

Kebaikan-kebaikan di atas, bisa kita lakukan. Sederhana dan tanpa biaya.

Kita mulai dari yang kecil, kita mulai dari diri kita sendiri, kita mulai sekarang.

Selamat menikmati karunia Allah di hari Jum’at yang mulia ini.