[OPINI] Analisa Industri Asuransi Umum Syariáh di Indonesia Tahun 2013

[OPINI] Analisa Industri Asuransi Umum Syariáh di Indonesia Tahun 2013

Industri asuransi umum syariáh masih dikuasai oleh unit syariáh perusahaan asuransi umum yang mempunyai captive market.

Seperti halnya di conventional, di peringkat pertama (kontribusi ~ premi) juga didominasi oleh Astra Syariáh, unit syariáh dari PT Asuransi Astra Buana. Kondisi ini diyakini bersumber dari group Astra yang merupakan captive dari Astra Syariáh.

Di posisi kedua (kontribusi ~ premi) dipegang oleh Adira Syariáh, unit syariáh dari PT Asuransi Adira Dinamika. Hampir serupa, sumber utama perolehan bisnis juga berasal dari groupnya, Adira.

Diyakini, sebenarnya performa kedua perusahaan asuransi umum syariáh (kontribusi ~ premi) turun dikarenakan di tahun 2013 yang lalu, leverage aturan minimum down payment (DP) di pembiayaan syariáh sudah tidak lagi berlaku. Sehingga nasabah yang di tahun sebelumnya “hijrah” dari leasing konvensional ke pembiayaan syariáh, di tahun 2013 “belok” kembali ke konvensional.

Berdasarkan fenomena itu bisa kita ambil hipotesa singkat bahwa market based asuransi umum syariáh di Indonesia masih sangat lemah. Nasabah masih (sangat) mudah beralih dari satu produk ke produk lain. Harga masih menjadi nomor satu. Halal dan syariáh menjadi nomor kesekian.

Saya pribadi khawatir bahwa niat awal pendirian dan pembentukan bisnis syariáh tidak terimplementasi dengan baik. Pengelolaan keuangan secara syariáh yang harusnya dipahami semua pihak (nasabah, perusahaan asuransi syariáh dan mitra kerjanya). Artinya, (semestinya) semua sepakat bahwa dalam sistem ekonomi syariáh, yang harus dikedepankan adalah prinsip syariáh itu sendiri, termasuk di dalamnya penerapan bisnis yang beretika.

Di peringkat ketiga (kontribusi ~ premi) dipegang oleh perusahaan asuransi syariáh murni (full fledge) yaitu PT Asuransi Takaful Umum Indonesia. Perusahaan yang dikenal dengan sebutan ATU ini mengalami sedikit penurunan produksi, namun dari sisi laba, sangat jauh dari ekspektasi dan mengalami penurunan yang sangat signifikan. Entah apa karena kondisi ini atau bukan, tetapi ramai dibicarakan bahwa pemodal asal Malaysia yang menguasai perusahaan ini pun berniat angkat kaki. Ujungnya pun, di tengah tahun 2014, dilakukan perubahan pucuk pimpinan.

Saya pribadi, sungguh menyayangkan, bahwa perusahaan yang menjadi pioneer dan pembuka jalan asuransi syariáh di Indonesia mengalami pasang-surut yang turut mempengaruhi citra perusahaan di mata nasabah dan mitra kerjanya. Mari kita doakan bersama, semoga perusahaan ini bisa terus istiqamah berjihad dalam mengembangkan ekonomi syariáh di Bumi Nusantara. Ámiin ~

Fenomena penurunan produksi (kontribusi ~ premi) juga terjadi di Jasindo Takaful, unit syariáh dari PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero). Perusahaan yang 100% sahamnya milik Negara Republik Indonesia ini juga mengalami koreksi hingga 20%. Walaupun tidak mempunyai captive market, penyebab koreksi pun sama, bersumber dari turunnya perolehan kontribusi dari pembiayaan syariáh.

Namun demikian, manajemen perusahaan ini justru mengambil momentum ini sebagai bahan evaluasi dan melakukan “check-up”, baik portofolio bisnis dan sustainability-nya, struktur organisasi, kompetensi serta potensi pasar syariáh. Alhasil, walaupun mengalami stagnansi, unit syariáh ini justru mendapat dukungan berupa tambahan modal disetor menjadi Rp. 100 miliar. Diyakini, modal ini masih yang terbesar di asuransi syariáh umum dibanding unit syariáh bahkan bila dibanding dengan perusahaan asuransi syariáh sekalipun. Bahkan organisasi “kantor pusat” syariáh pun dibenahi dan diperbesar serta mempunyai fleksibilitas yang semakin tinggi.

Secara de facto, unit yang semi-independen ini sudah siap bila beleid aturan spin-off meluncur.

Sinarmas Syariáh, unit syariáh dari PT Asuransi Sinarmas, juga stabil di peringkat ke lima industri dari sisi kontribusi. Sama seperti para juara, unit ini juga mempunyai captive market dari group Sinarmas. Sementara secara nasional terjadi market shrink, Sinarmas Syariáh justru tumbuh hingga 155%.

Dari kelompok 5 besar itu terlihat bahwa perusahaan yang mempunyai captive market mendominasi pasar asuransi syariáh. Hanya Takaful Umum dan Jasindo Takaful yang non-captive yang mampu bertahan di persaingan papan atas.

Terlepas dari itu semua, semoga ke depannya, semakin berkibar (di arah yang benar) bisnis asuransi syariáh di tanah Indonesia. Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, seyogyanya kita bisa menjadi pemain di negeri kita sendiri.

Informasi yang saya peroleh, sudah ada beberapa pemodal asing yang sudah mengincar perusahaan asuransi umum syariáh (termasuk unit syariah?). Mereka sudah memasang kuda-kuda dan siap menguasai ketika pintu dibuka.

Sementara, para pelaku dan pejuang ekonomi syariáh masih menantikan para Anggota Dewan yang terhormat, untuk bisa menuntaskan pe-er mereka, yaitu mensahkan RUU Perasuransian, sebagai revisi UU No.2 tentang Perasuransian tahun 1992.

Semoga bermanfaat!

Demi Indonesia yang jauh lebih baik lagi.

~ disclaimer on ~
S.E.&O.

.

~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s