Renungan Pagi: Dunia dan Akhirat

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qur’an Surat Al Qasas ayat 77 | QS.28:77]

Ayat di atas mengingatkan kita agar sebagai manusia kita wajib menjaga keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud adalah antara tujuan dunia dan tujuan akhirat. Artinya dalam mencapai akhirat, manusia juga agar tidak melupakan dunia.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk 100% mengabdikan diri bagi tujuan akhirat (tanpa memikirkan dunia).

Ajaran illahi ini pun melaknat orang yang hanya memikirkan dunia saja (tanpa memikirkan akhirat).

Di dalam ayat-ayat Qur’an pun selalu bersanding antara ibadah “akhirat” dan “dunia”.

“Dirikan shalat dan tunaikan zakat”.
“Dirikan shalat dan tunaikan zakat”.
“Dirikan shalat dan tunaikan zakat”.
….

Kalimat di atas disebutkan berulang-ulang di dalam Qur’an.

Shalat identik dengan ibadah akhirat. Shalat merupakan ibadah individual (walaupun bisa dilakukan berjama’ah). Manfaatnya akan terasa di alam kubur dan akhirat nanti.

Zakat merupakan ibadah dunia. Yang dilakukan bagi alam sekitar. Yang manfaatnya langsung dirasakan bagi umat lain di semasa di dunia.

Allah menyandingkan kedua ibadah tadi dan disebutkan berulang-ulang, tentunya bukan tanpa maksud dan makna. Bagi seorang muslim, dianjurkan untuk menjaga kedua ibadah tsb.

Sebenarnya sudah ada contoh abadi bagi umat muslim untuk menjaga keseimbangan tsb. Nabi besar Muhammad SAW adalah role model terbaik, yang mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Beliau tidak tertandingi dalam hal ibadah. Shalatnya terjaga. Shaum terjaga. Bahkan wudhu’ pun terjaga. Beliau yang sudah terjamin masuk syurga pun, tetap tak tertandingi dalam beribadah.

Untuk hal keduniawian pun beliau tidak tertandingi. Sikap ke-“duniawi”-an beliau lah yang justru menjadikan Nabi Muhammad didapuk sebagai sebagai manusia paling berpengaruh di dunia.

Jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, masyarakat sekelilingnya sudah memberikan gelar al-amin (yang dapat dipercaya).

Akhlak mulia beliau-lah yang membuat kawan dan lawan menaruh rasa hormat dan sungkan. Dan akhlak ini menjadi begitu pentingnya, karena sesuai dgn hadits beliau pun, disebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah yang (bisa) memberikan manfaat bagi orang lain.

Beberapa kisah sukses beliau sebagai “manusia biasa” bisa kita lihat dalam beberapa riwayat.

Pertama, beliau adalah pedagang ulung. Sejak kecil beliau sudah bekerja dan berdagang. Dengan cerdas beliau membuka jalur perdagangan internasional (kala itu) dengan melakukan export-import. Sifat kejujuran yang melekat pada diri Muhammad bin Abdullah ini merupakan modal dasar sebagai seorang pedagang sukses. Kalau saja, semua pedagang saat ini, berperilaku seperti beliau, dijamin, tidak akan ada orang miskin di dunia ini. Tidak akan ada keserakahan dan sikap zalim kepada sesama atau kepada alam.

Kedua, beliau ada pemimpin yang dikenal sangat bijaksana. Bila dibandingkan dengan masa kini, beliau sudah lebih dari seorang presiden, perdana menteri atau raja bila digabung sekaligus. Wilayah kekuasan beliau saat itu sudah melintasi jazirah Arab.

Ketiga, sebagai seorang panglima perang yang disegani kawan dan lawan. Tercatat dalam sejarah, beberapa kali beliau maju memimpin peperangan melawan kaum kafir. Pola dan strategi yang diterapkan beliau pun sangat jitu sehingga di akhir peperangan adalah umat Muslim yang mampu mengibarkan panji-panji illahi.

Keempat, sebagai suami, ayah dan kakek yang sangat menyayangi keluarga. Kisah kasih beliau dengan istri-istri beliau merupakan roman klasik yang tak akan pernah terlupakan. Dari riwayat hadits tergambarkan keadilan beliau terhadap para istrinya. Tergambar pula bagaimana kecintaan beliau terhadap anak dan cucunya.

Kelima dan seterusnya, masih teramat banyak bisa diteruskan.

Sungguh, beliau adalah “manusia biasa”. Manusia yang mampu menunjukkan akhlak, keseimbangan dan keunggulan.

Patutlah, hanya beliau sebagai uswatun hasanah. Role model yang sesungguhnya.

Ikuti dan patuhi. Insya Allah, berkah dunia dan akhirat.

Wallaahu a’lam bishawab

Advertisements

Renungan Jum’at | Sedekah Tanpa Harta

Sedekah Tanpa Harta

Tanpa kita sadari, sebenarnya banyak cara bagi kita untuk beramal. Hari Jum’at ini merupakan hari baik untuk beramal.

Kebanyakan orang (termasuk mengingatkan diri sendiri) cenderung berpikir bahwa beramal itu berarti mengeluarkan sejumlah uang (harta).

Beramal di hari Jum’at, banyak diartikan mengisi tromol Jum’at.

Walaupun menurut saya, itu masih lebih baik lah, setidaknya seminggu sekali masuk ke masjid, daripada tidak pernah sama sekali 😛

Namun, lebih dari amal tersebut ternyata masih banyak lagi sedekah yang bisa kita lakukan tanpa perlu keluar uang sedikit pun.

Dari catatan yang saya punya, sedekah tanpa harta bisa kita lakukan misalnya:
• Memberikan senyum
• Menyambut kerabat dengan wajah ceria
• Perkataan yang baik
• Memberikan pendapat dan bermusyawarah
• Menolong orang (tua / buta) menyeberang jalan
• Mengucap salaam ketika bertemu dan berpisah
• Mengumandangkan tahmid, takbir dan tahlil
• Berbuat baik kepada sesama
• Berbuat baik kepada alam (menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya)
• Berlaku adil di antara orang yang berselisih
• Bersikap bijaksana
• Memberikan nasihat yang baik
• Menemani orang yang sakit
• Mengantar jenazah ke kubur
• Berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman
• Berjalan untuk shalat
• Menyelamatkan orang lain (mencegah bahaya)
• Mendonorkan darah

Kebaikan-kebaikan di atas, bisa kita lakukan. Sederhana dan tanpa biaya.

Kita mulai dari yang kecil, kita mulai dari diri kita sendiri, kita mulai sekarang.

Selamat menikmati karunia Allah di hari Jum’at yang mulia ini.