…. kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau ….

Berapa banyak di antara kita terlupa dan lalai memprioritaskan kehidupan kita selama di dunia. Ini tentunya juga saya tujukan bagi diri saya sendiri, sebagai bagian dari muhasabah.

Kehidupan dunia yang sementara telah menyilaukan kita untuk memandang jauh ke depan menuju kehidupan akhirat yang sebenarnya abadi. Bahasa psikologinya, barangkali misorientasi, gagal fokus, bipolar, atau mungkin alzheimer.

Mengapa demikian?

Semata karena kita — berarti meliputi saya sendiri — berjibaku untuk sesuatu yang sementara, sementara kita malah melupakan yang abadi. Fokus kita seharusnya ke yang abadi (akhirat), malah sibuk atau menyibukkan diri ke yang sementara (dunia).

Beberapa dari kita menggunakan dalih bahwa bekerja (di dunia) adalah sebuah kewajiban, sehingga mengalihkan bahwa kewajiban ini harus dipenuhi terlebih dulu. Padahal, kembali ke pembukaan di atas, sebenarnya bekerja sebenarnya adalah alat (tool) kehidupan dunia. Saking parahnya, karena asyik bekerja, beberapa dari kita malah melupakan alat akhirat, misalnya shalat.

Beberapa dari kita, seringkali menunda atau menempatkan alat akhirat (shalat) menjadi prioritas nomor sekian. Beberapa menunda atau bahkan ada yang mengabaikan alat akhirat ini. Ketika panggilan suci berkumandang, berapa banyak dari kita yang masih asyik berkutat dengan dunia, entah itu terkungkung dalam pekerjaannya atau masih asyik ber-gadget ria.

Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawariduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lebih jauh, Allah azza wa jalla, sudah memperingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Peringatan ini bukan hanya disebutkan sekali, melainkan sampai tiga kali di dalam al Quran.

Firman Allah dalam surat al An’am ayat ke 32, artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Lalu dalam surat al Ankabut ayat 64, disebutkan pula firman Allah yang artinya :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dan di surat Muhammad ayat ke 36 diingatkan kembali firman Allah yang artinya :

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Tentunya peringatan di ataa bukan hal kecil, karena disebutkan sampai tiga kali di pedoman hidup kita. Apakah kita masih (berani) melalaikan akhirat kita?

Sungguh…

….kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau….

Wallahu a’alam bish shawab.

22 Ramadhan 1439, menjelang syuruk di Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s