Uncategorized

Surat Terbuka buat Kalian

Jikalau memang benar kalian adalah (mengaku) Muslim, kemana saja kalian saat riba menggurita?

Dimana kalian saat maksiat menjamur?

Apa yang kalian lakukan saat korupsi merajalela?

Dimana kalian saat penista agama berkeliaran?

Dimana saat agama dilecehkan?

Apa yang kalian lakukan untuk mengentaskan kemiskinan?

Dimana?
Dimana kalian?

Jikalau memang benar kalian adalah (mengaku) Muslim, kemana saja kalian selama ini?

Kenapa baru sekarang tampil dan mencari panggung di berita dengan perbuatan pengecut kalian?

Katakanlah…. Jawablah… mengapa?

– EHN –

Jakarta, 13.05.2018

Sebagai bentuk keprihatinan atas kelakuan para pengecut di luar sana.

Uncategorized

212 The Power of Love

Film karya Bunda Asma Nadia ini mengisahkan tentang aksi damai yang dilakukan jutaan warga Indonesia pada tanggal 2 Desember 2016.

Alhamdulillah, berkesempatan untuk menyaksikan Gala Premiere di hari pertama tayang di ibukota.

Film diawali dengan scene dialog di redaksi sebuah majalah yang akan menampilkan artikel tentang aksi 4 November 2016 dimana seorang Penulis yang memberikan statement bahwa agama yang didegradasi sebagai bahan politik. Penulis yang merupakan lulusan terbaik Harvard University mengancam mundur jika artikelnya dicabut.

Tujuan film ini tergambar sejak awal untuk mengembalikan fakta bahwa Islam bukan radikal. Islam sesunguhnya adalah rahmatan lil alamin.

Hikmah yang bisa diambil dari film adalah diperlukannya sebuah perjuangan dengan cara yang arif dan damai, untuk membuka mata orang-orang yang berseberangan dengan kita.

Walaupun sedikit out of topic, tetapi saya ingin mengaitkannya dengan fenomena seorang pesepakbola Liverpool FC asal Mesir, Mo Salah, (Mohamed Salah ~ Muhammad Shalat).

Kehebatan Salah menjadi sebuah anomali tersendiri. Menjadi Muslim tentunya sudah menjadi tantangan tersendiri. Hingga kini, ia masih menjadi top scorer di Liga Primer Inggris. Gol demi gol yang disarangkannya ke gawang lawan membuat para supporter-nya terkesima, bahkan berani menyatakan kesediaan mengikuti keyakinan Salah.

Semua semata karena sikap dan attitude yang ditunjukkan Salah, baik di lapangan maupun di luar lapangan.

Contoh baik yang ditunjukkan Salah, membuka mata umat lain, bahwa seperti itulah layaknya seorang Muslim berperilaku. Kalau selama ini mereka terperangkap dalam stereotype bahwa seorang Muslim adalah orang yang ekstrimis, keras kepala, keukeuh, ngeyel, bahkan disebut mabuk agama… Ada baiknya melihat apa yang dilakukan seorang Salah.

Nah, di film 212 ini, contoh yang sama pun ditunjukkan. Muslim yang sesungguhnya adalah seorang yang menjaga sikap, berperilaku adil dan arif.

Film ini sendiri mampu membangkitkan romantisme bagi diri saya. Scene yang paling memorable yaitu footage dimana jutaan manusia, termasuk saya salah satunya, tetap khusyuk walau didera hujan deras. Semua hadir karena cinta. Cinta kepada agama dan Tuhan yang menciptakannya.

Semoga film ini mampu membuka mata dan pikiran semua pihak yang berpandangan sempit terhadap Islam dan Muslim. Sebagai penutup, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh semua kalangan, namun harap diperhatian batas usia 13 tahun sesuai rekomendasi Badan Sensor Film. Film ini layak disaksikan oleh remaja, dewasa, sepuh, eksekutif, karyawan, ibu rumah tangga atau siapapun anda, Muslim maupun Non-Muslim.

Epicentrum – Jakarta, May Day 2018

#212

#PowerOfLove

Indonesia · Syariah / sharia · Uncategorized

Tidak / Belum Syariahnya Lembaga Keuangan Syariah (?)

Di kalangan masyarakat umum saat ini banyak beredar pandangan dan opini, bahwa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dianggap “sama saja” dengan lembaga keuangan konvensional. Bahkan terdapat pula yang menyatakan haramnya LKS.

LKS bisa berupa Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pergadaian Syariah, Pembiayaan Syariah, Modal Ventura Syariah, Pasar Modal Syariah, Koperasi Syariah, dsj.

Saya sendiri melihat kondisi ini sebagai sebuah upaya menuju kesempurnaan. Tidak bisa dipungkiri, praktik yang dijalankan para pelaku dan praktisi LKS masih jauh dari kesesuain syariah sebagaimana diharapkan.

Sepakat, apa yang belum murni, perlu usaha bersama-sama untuk memurnikannya. Yang belum sempurna, jangan kita tinggalkan. Pilihannya, bersama-sama membantu mencari solusi untuk memurnikannya, atau membiarkannya menjadi sangat tidak syariah.

Di saat yg sama, perlu juga sama-sama introspeksi dan muhasabah…

Di LKS itu sendiri diperlukan langkah ke depan umtuk berpraktik, apakah “berani” menunjukkan kesyariahannya atau malah menjurus ke sekuler.

Saya sendiri, mengamati banyak di praktik.nya… para pelaku (junior?) yg tidak/belum memahami esensi dari keberadaan LKS itu sendiri.

Yang sederhana… Pelaku LKS masih menggunakan jargon atau istilah konvensional,…

Sehingga saat moment of truth seorang pelaku LKS bertemu dengan calon nasabah atau mystery guest penjelasan jasa atau produk yang disampaikan, tidak jauh dari konvensional, sehingga bukan tidak mungkin langsung diberikan label… “sama saja dengan konvensional”

Wallahu’alam bish shawab