Category: Syiar
Hijrah ke Jalan Allah [4:100]
Sebagian Kita Hanya Mengamalkan Sebagian Isi Ayat Ini
Panutan
Tergerak saya untuk menulis tema di atas, sepertinya ada salah dalam penyampaian maksud ke rekan-rekan saya atau bisa jadi kerabat saya yang salah mengartikan ucapan saya.
Menjadi panutan bagi anak, tidak melulu harus sukses di karir, begitu pendapat seorang teman yang menerjemahkan perkataan saya.
Bukan bermaksud membela diri, tetapi mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu memberi pemahaman yang sesungguhnya dari maksud saya.
Yang saya maksud dari penyampaian saya adalah bahwa setiap orang, utamanya laki-laki, ketika keluar rumah, mempunyai kewajiban ber-ikhtiar dan melakukan yang terbaik.
Ketika berada di tempat kerja, adalah kewajibannya melakukan yang terbaik. Bagi saya sendiri, tempat kerja adalah media belajar yang bisa memberikan kita kecerdasan, baik mental maupun spiritual. Ketika pekerjaan menuntut tingkat pengetahuan dan kompetensi tertentu, menjadi kewajiban kita untuk memenuhinya.
Yang sebenarnya saya maksudkan adalah bahwa setiap orang berkewajiban menjadi lebih baik (baca: bedakan dengan sukses). Lebih baik disini artinya lebih baik dalam pelayanan, lebih baik dalam pekerjaan, lebih baik dari sisi pengetahuan, lebih baik dalam berkomunikasi, lebih baik dalam menerima keadaan, lebih baik dalam menangani case, lebih baik dalam menjaga hubungan antar-manusia, lebih baik dalam beribadah, dan lain-lain lebih baik.
Kewajiban manusia adalah berbuat lebih baik. Soal rezeki, itu semua domain Allah azza wa jalla. Tetapi pastinya, Allah sudah berfirman, nasib seseorang hanya akan berubah atas ikhtiarnya sendiri [QS.13:11].
Kita pun diwajibkan untuk berbuat lebih baik, dari hari ke hari. Karena apabila kondisi kita di hari ini sama dengan kemarin, kita termasuk orang merugi. Celakanya lagi bila kondisi kita hari ini lebih buruk dari kemarin.
Maksud penyampaian saya sebenarnya adalah mengambil kisah nyata yang saya alami sendiri. Kisah almarhum ayah kami, benar-benar menjadi inspirasi hidup saya. Sebagai informasi buat semua, kami bukan berasal dari keluarga tajir.
Saya, sebagai seorang anak, menjadikan ayah kami sebagai panutan. Kembali, bukan karena “sukses” beliau, melainkan semangat dan kemauan beliau untuk terus menjadi lebih baik.
Beliau memang memulai dari (sangat) bawah. Awal perjuangan merantau sejak usia belasan tahun beliau hijrah dari tanah asalnya di tengah hutan Sumatera, menuju ibu kota. Kerja apapun dilalui beliau sepanjang legal dan halal. Beliau pun menghidupi dirinya sendiri dan biaya sekolah dengan menjadi kuli. Ya kuli, K-U-L-I. Saya lebih “bangga” menyebut pekerjaan beliau kuli ketimbang “diperhalus” dengan istilah buruh.
He started from the scratch. From zero to hero.
Belajar dan memperbaiki diri tidak memandang usia. Jujur, saya tidak melihat “sukses” ayah kami sebagai inspirasi saya. Tapi tekad dan semangat beliau lah yang menjadi inspirasi saya. Ayah kami menjadi inspirasi (baca: panutan) karena beliau sendiri tidak malu dan tidak sungkan untuk belajar. Saya masih ingat, bahwa ketika saya masih kelas 3 SD, kami masih menjemput ayah kami di malam hari karena baru pulang belajar bahasa Inggris. Artinya ketika itu, ayah kami sudah berusia ½ abad. Di usia “sepuh” seperti itu beliau tetap berusaha memperbaiki diri, menambah kompetensi dan pengetahuan. Inspirasi ini yang saya jadikan panutan.
Saya sendiri, bukan serta merta bekerja mendapatkan posisi enak dan nyaman. Di awal-awal saya bekerja pun, saya naik-turun angkot. Bahkan untuk berhemat, saya pun membawa “bontot” (bekal makan siang) ketimbang membeli makan siang di kantor. Rekan-rekan kantor dulu pun (mungkin) terkaget-kaget melihat sikap saya seperti itu.
Malu, tidak ada di kamus saya. Selama halal, saya kerjakan dan lakukan semua upaya.
Pernah pula saya ke kantor kala itu di Tangerang, membawa barang jualan berupa dompet pria dan wanita sekitar 70 buah. Saya masih ingat, saya membawa 1 travel bag khusus buat barang dagangan. Alhamdulillaahirabbil áálamiin, ludes semua dibeli rekan-rekan kantor waktu itu. Padahal saat itu, saya meyakini bahwa saya bukanlah marketer. Tetapi setelah habis semua barang dagangan itu dalam sehari jualan, saya bersyukur, bahwa saya dipercaya.
Satu hal yang saya catat dari berdagang, seperti kisah Rasulullah, dibutuhkan kepercayaan bagi pembeli untuk membeli barang atau jasa kita.
Kembali ke laptop.
Nah, kisah ini yang sebenarnya ingin saya sampaikan ke rekan-rekan saya di kantor. Bahwa kita (termasuk saya sendiri) mempunyai kewajiban memperbaiki diri, selebihnya (rezeki, jodoh, ajal) biarlah Allah yang mengaturnya.
Jadi, yuk kita sama-sama berbuat lebih baik lagi, buat kita sendiri, buat keluarga, buat sesama dan buat alam.
Wallahu’alam bish shawab ~
Memaknai Shaum Ramadhan
Alhamdulillaahirabbil áálamiin, Råmadhån tiba kembali. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah azza wa jalla yang masih memberikan kita kesempatan menikmati hidangan illahi, shaum Råmadhån.
Sungguh, kenikmatan Råmadhån merupakan sesuatu yang tidak bisa kita dapati di bulan-bulan lain. Tak lain dan tak bukan, berkah dan karunia pahala yang melimpah ruah. Beragam ladang pahala disediakan Allah bagi umat-Nya.
Khusus di bulan Råmadhån, Allah memberikan kemudahan dan pahala berlipat. Yang sifatnya sunah mendapatkan pahala seakan wajib. Yang wajib, nilainya akan berlipat-lipat.
Dan jangan salah, bisa melakukan kesalahan atau maksiat, tentunya dosa dan ganjarannya pun akan berlipat ganda.
Adil kan? Subhanallah ~
Berikut beberapa amalan yang bisa kita laksanakan selama ramadahan:
1) Shalat Tahajud
Mungkin di hari-hari biasa, shalat sunah ini menjadi sangat berat. Kita harus terbangun di tengah malam agar bisa berdialog langsung dengan sang khalik. Padahal manfaat Shalat Tahajud bagi yang melaksanakannya, Insya Allah akan membuka pintu kebaikan.
Selama Råmadhån, sesungguhnya mengerjakan shalat sunah ini akan menjadi lebih mudah. Kita akan terbangun jauh lebih awal, misalnya jam 03:00. Sebelum sahur, kita bisa mengerjakan shalat Tahajud terlebih dahulu.
2) Sahur
Sahur selain berguna bagi kita yang berpuasa, sebagai asupan dan penambah tenaga sepanjang hari, juga mengandung unsur íbadah. Begitu Allah sangat menyayangi umat-Nya, bahkan yang sifatnya dibutuhkan manusia seperti bersahur mendapat pahala. Bahkan mengakhiri sahur pun mendapatkan hitungan pahala pula. Subhanallah.
3) Shalat Dhuha
Shalat sunah ini Insya Allah akan membuka pintu rizki bagi manusia. Amalan ini di bulan Råmadhån akan semakin afdhal bila kita laksanakan.
Bagi para pekerja (karyawan) íbadah ini sesungguhnya bisa dilaksanakan sebelum masuk jam kerja. Waktu dhuha (Jakarta dsk) sudah masuk ± 06:30. Jadi bisa kita sempatkan sebelum beraktifitas di kantor, namun manfaatnya sangat dahsyat bagi yang meyakini.
4) Tilawah
Tidak bisa tidak, tilawah merupakan aktifitas rutin yang mendampingi shaum. Kita perhatikan ada yang bisa meng-khatam-kan Qurán sehari sekali. Ada pula yang hanya mampu meng-khatam Qurán sekali selama sebulan.
Apapun itu, bukan hanya kuantitas yang menjadi persoalan, melainkan kualitas dan kesungguhan kita dalam membaca, memahami arti dan maknanya dan yang terlebih penting adalah mengamalkannya.
Saran penulis adalah bagi kita yang faqir dan awam, pastikan Qurán yang kita baca berisikan terjemah (bahkan lebih baik lagi bila berbentuk tafsir), sehingga pemahaman kita akan isi Qurán akan lebih optimal.
5) Zakat
Khusus bulan Råmadhån, umat Muslim mempunyai suatu kewajiban yang tidak ada di waktu yang lain, yaitu zakat fitrah. Sesuai namanya, zakat ini ditujukan agar umat Muslim bisa kembali ke fitrahnya, menjadi manusia yang suci tanpa dosa.
Setiap orang berjiwa (yang wajib zakat) diharuskan menunaikannya. Bentuknya beras atau setara beras 3,5 liter atau kira-kira seberat 2,5 – 2,7 kg. Nilainya sesuai dengan gaya hidup masing-masing. Kurang lebih Rp. 18.000 – Rp. 35.000.
Apabila ada yang keberatan atas kewajiban itu, sebenarnya sangat mudah. Bila bukan wajib zakat, maka ia adalah masuk kategori penerima zakat.
6) Infaq dan Shadaqah
Selain zakat, umat Muslim juga dianjurkan untuk menyisihkan sebagian dananya sebagai bagian dari tanggung-jawab sosial. Pemberi infaq dan shadaqah, apalagi selama Råmadhån, sepanjang niatnya suci dan ikhlas, Insya Allah akan menjadi ladang amal jariyah, yang Insya Allah pahalanya akan terus mengalir walaupun kita sudah wafat.
7) Qiyamul Lail (Tarwih)
Shalat sunah yang ini memang hanya ada di bulan Råmadhån. Bisa dilaksanakan secara berjamaáh, ataupun sendiri-sendiri. Ada yang melaksanakan 8 rakaát, ada pula yang 20 rakaát.
Kembali, sepanjang niatnya suci dan ikhlas, Insya Allah akan berbuah pahala bagi yang melaksanakannya.
8) Ikhtiar
Bekerja sendiri merupakan bagian dan rangkaian íbadah selama Råmadhån yang tidak bisa ditinggalkan. Sangatnya naif apabila masih saja ada alasan kinerja dan ikhtiar kita berkurang dengan alasan shaum. Justru seharusnya, shaum semakin meningkatkan semangat kerja.
Shaum sesungguhnya menolong kita untuk bekerja dengan niat dan hati yang lurus dan ikhlas. Bila di hari-hari biasa, bisa saja ada gangguan dan godaan, misalnya risywah, selama kita shaum, hal ini pasti kita hindari.
Begitu pula, penggunaan waktu kerja. Bila di hari-hari biasa, bekerja diselingi dengan ghibah, namun selama kita shaum, waktu senggang bisa lebih di-optimalkan.
9) Ítikaf (Menetap di Masjid)
Ítikaf merupakah kegiatan yang disunahkan bagi (laki-laki), utamanya di 10 hari terakhir Råmadhån. Dengan menetap di Masjid, seyogyanya umat Muslim, sejenak “melupakan” dunia, fokus hanya untuk urusan akhirat.
Satu catatan yang saya peroleh dari KH Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, beliau menganjurkan bahwa orang yang ingin melaksanakan ítikaf agar tetap bisa mematuhi aturan yang ada, seperti menjaga kebersihan dan ketertiban selama di Masjid. Ítikaf bukan berarti “pindah tidur” dari rumah ke Masjid. Beliau juga menganjurkan agar selama di Masjid sepenuhnya beribadah, bukan sekedar “numpang tidur”.
~
Lain-lain masih banyak lagi amal íbadah yang bisa kita kerjakan.
Insya Allah, sepanjang kita melakukannya dengan ikhlas dan bukan riya, kita akan mendapatkan kebaikan.
Wallahu’alam bish shawab,
Jazakumullah khairan katsira
~ posted by @erwin_noekman erwin@noekman.com for erwin-noekman.com with disclaimer on ~













