Menguji Keikhlasan Pemilik Modal dalam Memberikan Qardh ke Dana Tabarru

Menguji Keikhlasan Pemegang Saham selaku Pemilik Modal dalam Memberikan Pinjaman Tanpa Bunga (Qardh) ke Dana Tabarru (milik Peserta Asuransi Syariah). Judul di atas diambil bukan untuk mencari sensasi atau mengundang komentar para pembaca. Tetapi saya selaku (mantan) pelaku industri asuransi syariah nasional, mempunyai pengalaman perihal kondisi tersebut yang mungkin bisa menjadi perhatian kita bersama.

 

Kata pertama yang akan kita uji adalah Qardh. Secara literasi Qardh berarti pinjaman. Dalam terminologi asuransi syariah, Qardh (hasan) adalah pinjaman dana (tanpa bunga)yang diberikan oleh Perusahaan Asuransi Syariah selaku pengelola Dana Tabarru kepada Dana Tabarru untuk untuk menanggulangi ketidakcukupan Aset Dana Tabarru untuk memberikan manfaat (klaim) kepada peserta.

 

Sebelum masuk ke Qardh, kita bahas dulu apa itu dana tabarru dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Syariah. Dana Tabarru adalah milik para peserta Asuransi Syariah (catat: bukan milik Perusahaan Asuransi Syariah). Dana Tabarru hanya boleh digunakan untuk memberikan manfaat bagi peserta yang mengalami kemalangan, keperluan reasuransi syariah dan pengembalian dana Tabarru (bila diperkenankan). Tidak ada bagian dari Dana Tabarru yang diperuntukkan bagi Perusahaan Asuransi Syariah. Karenanya, apapun yang terjadi dengan Dana Tabarru, sesungguhnya tidak berpengaruh bagi Perusahaan Asuransi Syariah. Apabila Dana Tabarru  mengalami kelebihan (surplus underwriting), dimana dana yang tersedia melebihi kebutuhan pemberian manfaat (dan lain-lain), Perusahaan Asuransi Syariah (bisa) mendapatkan bagian dari Surplus tersebut. Namun, apabila Dana Tabarru tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan pemberian manfaat (termasuk cadangan, dan lain-lain), maka Perusahaan Asuransi Syariah, wajib memberikan qardh sebagai dana talangan.

 

Bagaimana Dana Tabarru bisa mengalami Defisit?

 

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kondisi tersebut terjadi, namun secara matematis jelas itu terjadi karena dana tabarru lebih kecil dari dana manfaat (klaim). Berarti terdapat dua kemungkinan disini. Pertama, dana tabarru yang terkumpul tidak cukup banyak dan yang kedua, klaim yang terjadi terlalu banyak (baik dari sisi kuantitas maupun kualitas). Artinya ada dua penyebab potensi disini dan cara penanganan atau antisipasinya pun berbeda satu sama lain.

 

Untuk yang pertama, jelas dana tabarru harus ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan menambah portofolio bisnis (yang sehat), melakukan efisiensi dana tabarru dan meningkatkan porsi (nisbah) dana tabarru dan menekan ujrah pengelola. Menambah portofolio terkesan mudah, tetapi apabila bisnis yang diterima adalah bisnis yang berpotensi klaim besar, hal ini malah akan memperparah kesehatan dana tabarru. Efisiensi biaya reasuransi syariah bisa dilakukan dengan negosiasi yang lebih baik dengan pihak reasuransi syariah (utamanya ujrah reasuransi). Efisiensi juga bisa tetap dilakukan dalam pemberian manfaat (klaim)  tetapi jangan sekali-kali tindakan tersebut menimbulkan mudharat apalagi memakan hak orang lain. Yang juga penting, adalah mengutamakan porsi (nisbah) dana tabarru dibandingkan ujrah perusahaan. Masih bisa kita lihat, ada perusahaan asuransi syariah (tidak saya bahas apakah unit atau full-fledge) yang ujrah perusahaan masih lebih besar dibandingkan porsi dana tabarru. Singkatnya bisa kita lihat sejauh mana ghirah perusahaan tersebut, apabila perusahaan terus mengeruk keuntungan, sementara kesehatan dana tabarrunya dalam kondisi memprihatinkan. Saya pernah mendengar, ada juga nisbah yang mencapai 80:20 dimana 80% dari kontribusi masuk ke kantor Pengelola, sementara Dana Tabarru hanya tersisa 20%. Padahal salah satu prinsip usaha syariah adalah tidak ada yang terzalimi.

 

Nah, sekarang kembali ke Qardh tadi. Terlepas dari penyebab defisit, ketika ini terjadi, Pengelola wajib memberikan Qardh untuk disisipkan ke Dana Tabarru, utamanya untuk pemberian manfaat (klaim).

 

qardh

 

Darimana Pengelola mendapatkan Dana Qardh  ini?

 

Setiap Pengelola (Perusahaan Asuransi Syariah) sejak awal pendirian wajib mempunyai kekayaan yang memang diperuntukkan khusus bagi Qardh. Dana ini bersumber dari modal (kapital) yang disiapkan oleh Pemegang Saham (Pemilik Modal). Dalam perjalanannya bisa bertambah seiring perolehan pendapatan dari pengelolaan kontribusi (misalnya laba ditahan, peningkatan nilai aset, dsj).

 

Apakah Pemegang Saham (Pemilik Modal) menyadari ini semua?

 

Kalaupun iya, apakah Pemegang Saham (Pemilik Modal) menyadari bahwa pinjaman yang diberikan dari kantongnya sendiri untuk membantu Dana Tabarru, bebas dari bunga atau hasil investasi atau bagi hasil (atau apapun namanya), tidak ada tambahan dari pokok). Misalnya Qardh sebesar IDR 10 milyar, namun apabila Qardh baru bisa dikembalikan dalam waktu 10 tahun, jumlahnya akan tetap IDR 10 milyar (tanpa tambahan sedikit pun, walaupun hanya IDR 1).

 

Kalaupun Pemegang Saham (Pemilik Modal) sejak awal sadar dan berkomitmen untuk itu, namun bukan berarti bahwa semua akan berjalan mulus. Bisa saja ada pihak external perusahaan yang tidak paham atau tidak mau memahaminya. Sebut saja, pihak auditor, yang (bisa saja) mempertanyakan budgeting “biaya” qardh ini. Atau ledger mana untuk qardh, dan sebagainya pertanyaan “liar” tanpa sasaran dikarenakan ketidakpahaman akan konsep syariah yang mulia. Hal sama bisa terjadi ke pihak auditor lainnya, seperti lembaga pemeriksa keuangan negara atau pemantau korupsi. Apalagi peraturan perundangan yang berlaku masih menyebutkan bahwa “potensi” kehilangan keuntungan pun bisa masuk katergori korupsi. Bisa runyam kan.

 

Jangan sampai karena niat mulia memberikan Qardh yang tujuannya menyelamatkan kesehatan keuangan Dana Tabarru dianggap kehilangan potensi keuntungan investasi dalam waktu tertentu, dan malah menjadi batu sandungan bagi para Pengelola di Perusahaan Asuransi Syariah.

 

Nah disinilah yang saya sebutkan sejak di awal tulisan, ujian sesungguhnya “keikhlasan” Pemegang Saham (Pemilik Modal) ketika situasi yang tidak diinginkan terjadi. Ikhlaskah apabila investor meminjamkan dana tanpa hasil?

 

Semoga bermanfaat.

 

Wallahu’alam bish shawab –

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s