Market Share Asuransi Syariah yang (selalu) Rendah

 

Tergelitik oleh pertanyaan seorang rekan yang menanyakan tentang market share asuransi syariah yang masih rendah, terlontar beberapa pertanyaan mengapa masyarakat tidak memilih produk syariah tetapi malah pilih yang konvensional, lalu apa saja kendala asuransi syariah untuk meningkatkan market share, lalu strategi apa saja untuk meningkatkan market share, dst, dst…

 

Pertanyaan “standar” yang rutin da selalu menajdi bahan pembahasan di kalangan para praktisi asuransi syariah. Beberapa rekan lain sebelumnya pernah memberikan opini dan tanggapan yang beragam, bahkan bertentangan satu-sama-lain.

 

Kalau saya, secara pribadi sangat ingin memberikan penjabaran yang lebih sistematis dan realistis ketimbang sekedar jawaban normatif atau sekedar menyenangkan hati buat sang penanya.

 

Jawaban pertama dan utama dari saya, murni pendapat saya pribadi, memangnya apa yang salah bila market share syariah hanya kecil atau segitu-gitu saja? Apakah syariah maka harus mempunyai porsi yang sebesar-besarnya (di lingkungan masyarakat yang mayoritas muslim)?

 

Saya sebenarnya ingin bertanya balik, apa sich sebenarnya tujuan dari keberadaan sebuah lembaga keuangan syariah (baca: asuransi syariah)?

 

Mencari untung? Mencari untung dunia?

Mencari laba? Mencari laba perusahaan?

 

Kalau pertanyaan mendasar di atas belum terjawab, menurut saya pribadi, akan sangat sulit meluruskan pemikiran dan pemahaman yang “bengkok”.

 

Dari pemahaman saya, keberaaan sebuah perusahaan asuransi syariah (lembaga keuangan syariah) merupakan representasi dari nilai dan value ajaran luhur keislaman, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam. Maka tujuan utamanya adalah memberikan keberkahan bagi seluruh alam. Bukan melulu keuntungan (baca: laba perusahaan).

 

Tambahan lagi, sebuah perusahaan asuransi syariah, hanyalah sebagai wakil dari para Pemegang Polis (Peserta) asuransi syariah). Kepemilikan sesungguhnya dari dana kelolaan di sebuah perusahaan asuransi syariah adalah para Peserta itu sendiri.

 

Yang terjadi adalah distorsi pencapaian tujuan utama di atas dengan vested interest dari perusahaan asuransi syariah (baca: pemegang saham). Kelihatannya, karena bentuk perusahaan asuransi syariah adalah sebuah perseroan terbatas, maka tujuan utamanya adalah profit (laba). Cara singkat yang dipikirkan adalah penerapan hipotesa bahwa semakin besar revenue (baca: market share) maka akan semakin memperbesar pula laba (bagi pemegang saham).

 

Tetapi, terlepas dari opini di atas, dari hasil pengamatan saya, yang terjadi di masyarakat saat ini adalah (with disclaimer on):

 

  • Pemahaman masyarakat masih sangat minim mengenai asuransi syariah

 

  • Pemahaman para pelaku usaha perasuransian syariah juga masih belum memadai

 

  • Belum terlihat political will yang sangat kuat untuk mendorong asuransi syariah

 

  • Belum berjalannya sinergi dan inklusi keuangan syariah secara menyeluruh (baca: belum ada captive market)

 

  • Nilai ekonomi/harga masih lebih dominan di mata para nasabah ketimbang sosial/religi

 

  • Orientasi laba/bisnis masih mendominasi perusahaan ketimbang niat “tolong-menolong”

 

Sekedar mengingatkan, asuransi syariah adalah kerjasama di antara para Peserta untuk saling menolong dan saling melindungi (taawuun), bukan perjanjian ganti-rugi antara Peserta dengan Perusahaan Asuransi Syariah. Sangat berbeda dengan skema yang ada di konvensional yang menggunakan pendekatan kedua (transaksional/ganti-rugi).

 

Kembali untuk menjawab pertanyaan langkah atau strategi apa yang harus ditempuh untuk mengatasi kondisi di atas, saya mencoba mengupas secara singkat bahwa sangat diperlukan political will yang sangat kuat. Sangat diperlukan aturan top-down yang “memaksa” semua kalangan untuk “menghargai”, “memahami”, kemudian “menggunakan” asuransi syariah.

 

Semisal, ditentukan bahwa semua aktivitas keuangan yang ada kaitannya dengan syariah diwajibkan menggunakan asuransi syariah, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat, akan terjadi pertumbuhan market share asuransi syariah. Misalnya, pembiayaan syariah, wajib menggunakan asuransi syariah, pelaksanaan ibadah syariah wajib menggunakan asuransi syariah, produk halal harus menggunakan asuransi syariah, dst, dst… kembali dengan segera saya meyakini angka-angka pertumbuhan akan melinjak tinggi.

 

Barangkali inehn-1.jpgilah salah satu kenikmatan yang saya rasakan sebagai non-afiliasi dan non-praktisi sehingga dari kejauhan bisa memberikan pandangan dan opini tanpa adanya irisan kepentingan.

 

Mengutip seorang teman, seorang pelatih tidak harus bisa bermain bola. Bila ia dipaksakan menjadi pemain bola, belum tentu ia bisa bermain dengan baik. Tetapi sebagai seorang pelatih, ia bisa/mampu memberikan arahan kepada tim untuk menjadi pemenang.

 

Pertanyaan sederhana saya, apakah aktivitas dan operasional di Kementrian Agama, Lembaga Pendidikan Islam (Sekolah, Kampus), Penyelenggaraan Umrah/Haji, Restoran/Hotel Halal, Produk Makanan/kosmetik Halal — apakah semuanya sudah menggunakan asuransi syariah?

 

 

– wallahu’alam bish shawab –

Jakarta, 2 Sya’ban 1438H | 29 April 2017M

@erwin_noekman

 

 

# dengan permohonan maaf, tulisan kali ini agak berantakan dikarenakan safar tetapi tetap diupayakan mengejar tanggapan bagi penanya

 

– with disclaimer on –

 

 

 

Advertisements

MENILAI SEBUAH PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH YANG BAIK (#1)

MENILAI SEBUAH PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH YANG BAIK (#1)

 

 

Seseorang pernah bertanya kepada saya, “Bagaimana sebenarnya menilai sebuah perusahaan asuransi syariah yang baik di industri?” Beliau menambahkan, “Saya awam akan hal ini (mengenai asuransi syariah). Saya cuma tahu kalau di asuransi syariah itu ada dana tabarru dan dana perusahaan.”

 

Begitu lah kira-kira pertanyaan yang dilontarkan kepada saya. Alhamdulillah, kembali saya meyakini tingginya ilmu pengetahuan, semakin kita pelajari akan semakin kita merasa banyak tidak tahunya.

 

Saya pribadi melihat bahwa sebuah perusahaan asuransi syariah (PAS) akan berhasil menjalankan amanatnya yaitu melakukan pengelolaan risiko, apabila pengelolaan risiko tersebut “berhasil”. Pengelolaan risiko di PAS terihat apakah hasil pengelolaannya meghasilkan surplus atau malah defisit.

 

Pengelolaan risiko di PAS, ditunjukkan dalam laporan keuangan, yaitu surplus/deficit underwriting. Surplus underwriting berarti menandakan bahwa penerimaan dana tabarru lebih besar daripada pemberian manfaat/santunan (klaim). Surplus ini mengindikasikan bahwa kontribusi (premi syariah) dan pencadangannya ditetapkan secara adequate (memadai).

 

Sebaliknya, apabila hasilnya deficit, maka dapat diindikasikan bahwa penerapan tarif kontribusi dan cadangan, tidak/kurang memadai untuk menutupi besaran pemberian manfaat/santunan kepada Peserta (pemegang polis).

 

ehn - ilustrasi surplus uw

 

Mengapa saya menganggap hal ini penting?

 

Fungsi dan keberadaan PAS dalam pengelolaan asuransi syariah adalah sebagai wakil dari para Peserta. Seluruh dana yang terkumpul sebenarnya adalah dari dan milik para Peserta secara kolektif. Kembali, PAS hanyalah sebagai pengelola risiko, bukan sebagai pemilik dana.

 

Hal ini berbeda dengan skema yang ada di perusahaan asuransi (konvensional). PAK merupakan pemilik dana yang dikumpulkan dari nasabahnya (Tertanggung). Maka indikator keberhasilan adalah, bagaimana PAK mampu memberikan nilai lebih bagi pemegang sahamnya, dalam bentuk laba perusahaan.

 

Di PAS, kondisi yang sama, yaitu memberikan nilai lebih kepada pemilik sebenarnya, yaitu para Peserta. Untuk itulah, keberhasilan PAS menghasilkan surplus dana tabarru menjadi faktor penilai utama.

 

Sangat ironis, apabila pengelolaan dana tabarru menjadi terbengkalai, sementara PAS memperoleh laba yang sedemikian besarnya. Atau barangkali kata yang tepat adalah dzulm (sesuatu yang tidak pada tempatnya ~ inappropriate). Seidealnya, kedua pihak mendapatkan nilai lebih. Peserta mendapatkan keuntungan dari pengelolaan dana tabarru, PAS juga memperoleh keuntungan dari laba perusahaan. Sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan.

 

Secara pribadi saya menilai bahwa tujuan dari keberadaan PAS, sebagai sebuah lembaga keuangan syariah — yang merupakan representasi dari value keislaman, maka keberadaannya harus memberikan manfaat dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Tujuan dunia dan akhirat harus tertanam dengan baik sejak awal.

 

Lalu, apa kriteria lain untuk menilai sebuah PAS yang baik? To be continued

 

 

– wallahu’alam bish shawab –

 

 

What’s so special about today?

Winning is everything, fair play is beyond everything. Menang adalah segalanya, tetapi kejujuran ada di atas segalanya. 
– 
Hari ini Rabu, 19 April 2017, sebanyak 7.218.254 warga Jakarta akan melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) putaran kedua untuk menentukan Gubernur periode 2017-2022. 
Hangatnya suhu politik di ibukota, ternyata berimbas ke rekan bisnis saya dari luar negeri yg menunda kedatangannya ke Jakarta.
Beberapa pertanyaan pun melintas di pikiran saya, salah satunya apakah memang “sebegitunya” keadaan Jakarta mencekam hingga ada kekhawatiran tersendiri bagi warga asing? —- walaupun saya merasa “ge-er” juga, ternyata situasi di Jakarta mendapat perhatian di belahan dunia lain. 
Dugaan saya, murni pribadi, penyelenggaraan pilkada ini adalah yang paling banyak mengeluarkan effort, baik dari sisi waktu, tenaga, apalagi dana. 
Hampir di setiap chat selalu kita temui pembahasan pilkada turut memberikan warna, baik di lingkungan masyarakat, kantor, pertemanan bahkan di group-group media sosial. 
Bagi yang mempunyai hak pilih, silakan gunakan hak anda. Bagi yang tidak mempunyai hak pilih, silakan menjadi penonton yang baik. 
Apapun hasilnya, siapa pun pemenangnya, saya mengajak kita semua untuk menghargainya.
– ehn 20170419 –

Nasihat Luqman kepada Anaknya

Luqman mengingatkan anaknya untuk senantiasa:

1. Mendirikan shalat

2. Menganjurkan oranglain mengerjakan kebaikan

3. Mencegah orang lain melakukan kemungkaran

4. Senantiasa bersabar atas ujian yang dialami

5. Tidak sombong

6. Tidak boleh angkuh

7. Berlaku sederhana 

8. Melembutkan suara (berkata santun)
Semoga nasihat di atas bisa menjadi perhatian dan pengingat bagi kita semua.

Wallahu’alam bishshawab