#LabaTanpaMemperdaya

Pagi ini sembari menunggu boarding, sambil membuka-buka device, alhamdulillah saya mendapatkan inspirasi dari status sahabat saya. Jujur saya menilai itu sangat dahsyat. Sederhana tetapi sangat dalam maknanya.

#LabaTanpaMemperdaya
Laba Tanpa Memperdaya
@akhsinmu

Langsung saya kirim message kepada sahabat saya itu menanyakan sekiranya itu merupakan tagline perusahaan atau organisasi karena saya ingin co-pas di status saya bahkan menjadi tulisan ini.

Beliau ternyata sangat welcome dan menyebutkan itu “karya” pribadi beliau dan menjadi tekadnya dalam berikhtiar di sebuah lembaga keuangan syariáh (LKS).

Dari sudut pandang saya pribadi, tagline itu sungguh mengena dan sesuai dengan prinsip syariáh.

Kita semua sebagai seorang makhluk universal (muslim maupun non-muslim) diajarkan untuk ber-ikhtiar dan memperoleh penghidupan terbaik di dunia.

Sepengetahuan saya, sesuai syariáh, tujuan hidup seorang muslim sesungguhnya adalah akhirat yang baik, sedangkan dunia hanyalah sebagai perantara untuk menuju kehidupan akhirat yang abadi. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina azabbannaar.

Celaka, sungguh celaka, apabila kehidupan dunia tidak mampu membawa manusia ke kehidupan akhirat yang baik. Sungguh lebih celaka lagi bila di dunia saja sudah tidak baik, di akhirat juga tidak baik.

Kembali ke tagline tadi, setiap kali kita beraktifitas harus diniatkan demi kebaikan bagi orang lain. Junjungan Rasulullah pernah mengajarkan kepada umatnya “Khairunnas anfa’uhum linnas” yang artinya kurang-lebih “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” [riwayat imam Bukhari dan imam Muslim]

Mencari laba, tentunya sangat dianjurkan. Aturan muamalah dalam Islam mempunyai beberapa prinsip utama, salah satunya adalah tidak menzalimi dan tidak dizalimi alias tidak merugikan dan tidak dirugikan.

Tentunya tagline #LabaTanpaMemperdaya sangat sesuai dengan salah satu prinsip muamalah tsb. Kita boleh memperoleh keuntungan tanpa membohongi orang lain. Jangan mentang-mentang bertujuan memperoleh keuntungan, segala cara diambil.

Saya pun ingin menyelaraskan tagline kerabat saya tsb dengan salah satu prinsip utama saya:
“winning is everything, fair play is beyond everything”.

Menang itu segalanya, tetapi kejujuran itu di atas segalanya | meraih untung itu segalanya, tetapi cara memperoleh keuntungan itu, yang lebih penting.

Hal ini cukup kontradiksi dengan pendapat rekan saya lainnya. Beberapa waktu lalu, teman saya berpendapat bahwa walaupun kita bekerja di LKS, terap saja kita dituntut untuk mendapatkan profit. Pemilik pasti menuntut pekerja untuk memperoleh laba sebesar-besarnya.

Saya sendiri sempat berpandangan bahwa ketika kita bermuamalah (dalam setiap kesempatan), baik di LKS maupun non-LKS, seyogyanya tidak melulu mengedepankan laba dan laba saja. Terlebih bagi pejuang syariáh di LKS, kita semua punya kewajiban men-syiar-kan bahwa ajaran luhur Islam adalah rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan cuma menjadi rahmat bagi diri sendiri, bukan cuma bagi keluarga, bukan cuma bagi perusahaan, bukan cuma bagi nasabah, bukan cuma bagi pemilik modal, tetapi juga bisa menjadi rahmat bagi masyarakat sekitar yang tidak terlibat dalam aktifitas kita bahkan menjadi rahmat bagi alam (dan benda mati) lainnya. Resource belong to society.

Di dalam hati dan pikiran saya masih bergejolak, secara etika, apakah layak bila sebuah perusahaan memperoleh laba yang sangat besar sementara alam sekitarnya tidak memperoleh manfaat dari keberadaan perusahaan tsb.

Karena saya berpegang kepada ajaran yang menyuruh kita menjauhi yang tidak berguna, saya sendiri merasa tidak banyak gunanya berdebat (kusir) tentang permasalahan itu dengan rekan saya itu.

Saya hanya bisa mendoakan orang yang berani mengatakan bahwa memperoleh yang haram saja sulit, apalagi yang halal…

Nauzubillah, summa nauzubillah

Apakah saya terlalu kolot? Old fashion? Masuk kategori “garis keras”? Apakah hanya saya sendirian yang punya pemikiran seperti itu?

Hare geeneee…

Well, with faith in your heart, you’ll never walk alone. Saya meyakini dengan iman di hati, saya tidak akan pernah sendirian.

Semoga berguna bagi kita semua.

Wallahu’alam ~

#demiINDONESIAyanglebihbaiklagi

Advertisements

Happy Anniversary Honey!

Waktu-waktu jam segini, empat belas tahun yang lalu, merupakan saat yang tak akan pernah terlupakan. Saat itu rasanya bagaikan tubuh yang kehilangab ruh-nya. Waktu itu, pikiran secara kosong dan pandangan terasa hampa.

Saya masih ingat rasanya keringat dingin mengucur deras di tubuh ini. Bukan karena tebalnya jas Betawi warna putih yang saya pakai, tetapi memang karena faktor non teknis 😀 Alhamdulillah semua berjalan lancar. Ijab terucap dengan tegas dan lancar.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Kini dengan ditemani tiga makhluk sempurna penerus generasi, kenangan itu masih tetap manis dan takkan bisa terlupakan.

Aku sungguh beruntung mendapat pendamping hidup yang selalu mendampingi, membimbing dan mendukung setiap gerak langkahku. Sejak awal kehidupan bersama kami yang sangat sederhana pun ia sudah mengorbankan waktu dan tenaganya demi mengurus sang jabang bayi. Ia tinggalkan posisi terbaik di pekerjaan demi mendapatkan jabatan terbaik yang bisa diperoleh oleh seorang wanita, ibu rumah tangga. Salut. Sungguh saya sangat salut kepadanya.

Kini, seiring dengan lika-liku kehidupan. Naik-turun. Gelombang pasang maupun surut. Semuanya kami lalui bersama. Sungguh, sangat beruntung mendapatkanmu.

Happy anniversary honey!

Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya buat kita sekeluarga. Ámiin ~

Asuransi Indonesia – Bagian 3

Salah satu point yang penting terkait perasuransian syariáh adalah akan disahkan operasional asuransi syariáh secara full-fledged (operasi penuh, bukan lagi melalui windows atau unit syariah).

Dalam kurun waktu 6 bulan sejak diundangkan, setiap perusahaan yang memiliki unit syariáh wajib sudah menyampaikan business plan mengenai portofolio syariah-nya. Akan dibawa kemana, akan dijadikan apa.

Apabila tidak ada perubahan isi sesuai Draft RUU Perasuransian – Pasal 67, adalah sbb:

(1) Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang telah memiliki izin unit syariáh pada saat ditetapkannya undang-undang ini wajib:

A) mengalihkan seluruh portofolio asuransi syariahnya kepada Perusahaan Asuransi Syariáh atau Perusahaan Reasuransi Syariáh yang memiliki kegiatan usaha yang sejenis

B) mengembalikan hak pemegang polis / peserta yang menolak untuk dialihkan kepesertaannya

C) mengembalikan izin usaha unit syariahnya

Paling lama 3 (tiga)* tahun sejak ditetapkannya Undang-Undang ini

(2) Untuk memenuhi ketentuan pada ayat (1), Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi wajib menyampaikan rencana kerja kepada Otoritas Jasa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya Undang-Undang ini

* informasi terakhir hingga tulisan ini disusun, bahwa angka tersebut disetujui DPR menjadi 10 (sepuluh) tahun.

Apabila RUU tersebut benar akan disahkan dan berlaku dalam waktu dekat, kondisi ini akan banyak menentukan arah masa depan usaha perasuransian di Indonesia.

Ke depan, tidak bisa lagi perusahaan asuransi (konvensional) menjual produk asuransi syariáh ke nasabahnya. Begitu pun, agen (utamanya di asuransi jiwa) tidak bisa lagi menjual dua produk bersamaan, karena akan terbentur aturan bahwa seorang agen hanya boleh bekerja mewakili sebuah perusahaan.

Contoh kasus, semisal perusahaan asuransi PT ABC, selain beroperasi secara konvensional, ia juga mempunyai unit syariáh. XYZ adalah sebuah perusahaan asuransi syariáh (full-fledged).

Bila RUU diterapkan maka ABC harus memilih di antara 3 opsi tersedia.

ABC bisa memilih opsi 1 sesuai pasal RUU tsb, yaitu mengalihkan portofolio syariahnya ke perusahaan asuransi syariáh (full-fledged). Untuk menyikapinya, ABC mempunyai beberapa opsi turunan, yaitu:
i/ Mengalihkan ke existing perusahaan full-fledged (XYZ)
ii/ Mengakuisisi perusahaan full-fledged (XYZ)
iii/ Mendirikan perusahaan full-fledged baru (RST)

Masing-masing pilihan tersebut tentunya mempunyai sisi positif dan negatif yang akan kita bahas dalam tulisan selanjutnya.

~ bersambung ~

Scotland – the Referendum

Today, 18th September 2014, people of Scotland will vote for their future, whether they stay with United Kingdom or become an independent state.

What ever the result, wish for the best for Scott and the rest of the world.

I personally love and enjoy Scotland. I always friends and colleague, Indonesia’s motorway (Tol Cipularang) for me, is quite similar to M6. The highland, Loch Ness, Ben Nevis, Edinburgh castle, Celts, bagpipe, Tartan, all remains in my wonderful memories.

Hope some day, I can be there again.

Asuransi Indonesia – Bagian 2

★★★★ Bagian 2 ★★★★

Perhatian yang dituangkan Pemerintah terkait usaha perasuransian ditujukan bagi perlindungan konsumen, yaitu masyarakat umum pembeli polis asuransi.

Pengawasan itu pun dimulai dengan aturan penguatan permodalan. Penerapan modal minimum pun berhasil memangkas jumlah pemain perasuransian di Indonesia. Pemerintah menengarai faktor modal turut berpengaruh dalam kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya manakala terjadi klaim (besar) dari nasabah.

Walaupun kurang mengena dengan tujuan awal penerapan aturan modal ini, yaitu terjadinya merger di antara pemain, namun peraturan modal minimum ini berujung pencabutan ijin usaha bagi perusahaan bermodal cekak, utamanya di perusahaan asuransi umum.

Saya pribadi melihat aturan modal minimum ini kurang mengena, karena tidak berhasil mendatangkan pemodal baru. Aturan itu sendiri, menurut pandangan saya menjadi ambigu, karena yang diatur adalah modal sendiri (ekuitas), bukan modal disetor. Ekuitas dibaca dalam laporan keuangan, baik publikasi maupun interim.

Sebagai bagian dari langkah perlindungan konsumen dan membuat iklim usaha yang lebih fair, regulator pun mengatur tata kelola (governance) perusahaan perasuransian, termasuk organisasi perusahaan perasuransian, proses fit and proper manajemen, aturan mengenai tenaga ahli, dsj.

Selanjutnya diatur pula mengenai kesehatan keuangan perusahaan perasuransian, seperti penerapan risk based capital (RBC), pencadangan premi, pencadangan klaim, format pelaporan keuangan, dan penggunaan perhitungan aktuaria.

Belakangan, regulator pun mengeluarkan aturan mengenai penerapan tarif yang ditentukan bagi lini usaha kendaraan bermotor (motor vehicle insurance) dan harta benda (fire insurance).

Sayangnya, aturan perasuransian dalam bentuk Undang-Undang itu sendiri sudah berumur cukup lama. Setelah lewat dari dua dekade, beberapa aturan awal sudah tidak tepat lagi diterapkan. Walaupun ditimpali dengan aturan-aturan di bawahnya, alhasil Undang-Undang tersebut menjadi tambal sulam.

Sejak beberapa waktu terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator usaha perasuransian, mewakili pemerintah sudah membawa revisi Undang-Undang Perasuransian ini ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun setelah cukup lama, belum juga disahkan di parlemen.

Informasinya Rancangan Undang-Undang (RUU) revisi UU No.2 tentang Usaha Perasuransian itu, Insya Allah akan segera disahkan di akhir September atau awal Oktober ini oleh DPR.

~ bersambung ~