[Renungan Fajar] Sifat-sifat Maksiat Manusia

Secara umum sikap seorang manusia semenjak kecil hingga menjelang ajalnya akan diuji dengan sifat maksiat.

Yang pertama adalah sifat bahimiyyah. Maksiat jenis ini merupakan sifat rakus dan sangat obsesif dalam memenuhi syahwat dan perutnya. Dari sifat ini timbullah keinginan mencuri, korupsi, memakan harta anak yatim, zina dan melakukan hal-hal haram guna memenuhi keinginan dan nafsunya.

Seiring dirinya semakin besar dan bertambah banyak keinginannya, seorang manusia akan tiba ujian berupa sifat sabu’iyyah, yaitu sifat amarah dan dendam.

Apabila telah kuat pemikirannya, tetapi tidak mendapatkan Taufik, maka sifat syaithaniyyah akan mulai merasukinya. Akal dan ilmu yang dimilikinya akan digunakan untuk berbuat makar, menipu, licik, munafik, menyerukan kemaksiatan, bid’ah, sewenang-wenang dan sesat.

Di penghujungnya, ujian sifat rububiyyah, dimana manusia merasa dirinya yang terhebat dan sebagai penguasa. Tidak sedikit kita ketahui manusia yang merasa dirinya sebagai Tuhan, yang bisa mengatur sesuai kehendaknya, sombong dan angkuh. Kisah tentang Fir’aun dan Namrud menunjukkan sikap “mengaku Tuhan” (megalomania) seorang manusia yang meng-aku-kan dirinya sebagai yang paling hebat dibanding mahkluk lainnya.

Naudzubillah summa naudzubillah.

Advertisements

Manusia merasa lebih malu di hadapan manusia lainnya ketimbang di hadapan Tuhannya

Kisah singkat tentang Thawus al-Yamani yang kala itu menetap di kota Makkah.

Suatu ketika ia dirayu oleh seorang perempuan nakal. Perempuan ini tidak henti-hentinya menggoda Thawus. Segala daya upaya, godaan, rayuan dilakukan oleh perempuan ini.

Perempuan ini pun, terus mengikuti kemana Thawus pergi. Hingga akhirnya keduanya tiba di depan Masjid al-Haram yang dipenuhi kerumuman orang.

Thawus pun berkata kepada perempuan itu, “Lakukanlah apa yang kamu inginkan dariku!”

Perempuan itu pun menjawab,”Bagaimana mungkin, di sini banyak orang yang melihat kita.”

Sejurus kemudian, Thawus pun berkata, “Seharusnya kamu lebih malu dilihat oleh Allah.”

Seketika itu pula, perempuan itu langsung bertobat dan bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah azza wa jalla.

Ia menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan Allah, sekalipun perkara ghaib.