#YNWA

You’ll Never Walk Alone

When you walk through the storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of the lark

Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

 
A very encouraging theme song of Liverpool Football Club.

Advertisements

[26:80]

… dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku … [26:80]

Menyambung tulisan saya tentang mahalnya kesehatan dan tips kesehatan ala Rasulullah, kali ini saya ingin mengulas sedikit tentang sakit dan bagaimana kita bisa “menikmati” dan “mensyukuri” sakit.

Di antara fenomena kehidupan yang akan dan pasti dirasakan oleh setiap manusia adalah sakit. Sakit merupakan lawan dari sehat. Dan merupakan sunatullah bahwa sakit akan dirasakan oleh siapa saja, dimana saja.

Mungkin yang membedakan sakit yang diderita oleh masing-masing orang berbeda dari sisi durasi dan tingkat rasa sakit itu. Ada yang merasakan sakit kepala sejenak dan bisa hilang rasa sakit itu dengan beristirahat atau tidur. Namun, ada juga yang merasakan sakit kepala yang terasa sangat nyeri sehingga membutuhkan pengobatan.

Soal ajal, memang hanya Allah azza wa jalla semata yang mengetahui. Ada orang yang tidak merasakan sakit atau hanya sebentar sakit dan Allah mentakdirkan kematian baginya. Namun, ada pula sudah sakit menahun namun kehendak Allah mengatakan lain, sehingga orang tersebut masih tetap hidup dengan penyakit yang dideritanya.

Tergantung bagaimana kita melihatnya. Sesuai dasar sifat manusia yang selalu berkeluh kesah, sebagian besar kita ketika merasakan sakit, akan bersumpah serapah, mengumpat. Bahkan saya sendiri pernah mendengar sampai ada orang yang kehilangan imannya hanya karena sakit.

Padahal, sakit merupakan “kesempatan” bagi tubuh kita untuk istirahat. Mungkin tidak kita sadari, tubuh kita mengirimkan “sinyal” ketika pemiliknya seakan mengabaikan perlunya istirahat.

Belum lama kita dengar kisah seorang perempuan muda yang meninggal dunia dikarenakan memaksakan dirinya bekerja terus-menerus tanpa istirahat. Sakit yang dirasakan itulah sebenarnya “kesempatan” bagi pemiliknya untuk melakukan recovery. Bila dipaksakan, ibarat sebuah mesin, bila terus dipaksakan maka akan overheat.

Tidak layak bagi kita, untuk merasa sebagai yang paling kuat, paling hebat, merasa bahwa diri kita tidak akan pernah sakit sekalipun. Patut kita sadari, bahwa setiap kita akan merasakan sakit. Bahkan Allah sudah mentakdirkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Sebagai seorang yang beriman, kita harus meyakini bahwa sakit sesungguhnya adalah takdir dari Allah azza wa jalla. Tentunya dalam setiap putusan Allah, terdapat hikmah bagi semesta alam. Setiap putusan Allah, tentunya merupakan yang terbaik bag semua. Karenanya, sebagai seorang yang beriman, ketika kita merasakan sakit, kita kembalikan ini semua sebagai sebuah putusan terbaik dan kita harus menerimanya dengan ikhlas dan ridha.

Dalam al Qur’an disebutkan, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [57: 22-23]

Sebagai pengikut Rasulullah, kita pun mengetahui bahwa manusia terbaik, kekasih Allah, Muhammad bin Abdullah, manusia yang sudah terjamin masuk syurga pun pernah merasakan sakit.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Muhammad), sekali-kali tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.” [9:51]

Sakit merupakan media, bagi tiap manusia untuk melakukan introspeksi diri. Sakit merupakan waktunya kita menyadari kekeliruan dan kesalahan yang pernah kita lakukan. Sakit menjadi jembatan bagi orang beriman untuk bertaubat.

Sakit mengajarkan kita sebagai mahkluk yang lemah. Sakit mengingatkan kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan bantuan manusia lainnya. Sakit mendidik kita untuk tidak berlaku sombong dan angkuh.

Manusia yang tidak pernah merasakan sakit, hatinya akan membatu dan sombong. Dikisahkan bahwa Firaun seumur hidupnya tidak pernah merasakan sakit. Akibatnya ia menjadi sombong melampaui batas. Sampai-sampai Firaun mengakukan dirinya sebagai Tuhan.

Karenanya, kita wajib bersyukur ketika Allah menimpakan sakit kepada kita, itu tandanya Allah SWT masih sayang kepada kita dan mengirimkan “peringatan” kepada kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah pernah bersabda “Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” Artinya sakit yang kita derita merupakan pengurang dosa kita di yaumil akhir nanti.

Kalau mau jujur, ketika kita dirawat di Rumah Sakit, sebenarnya itulah kita mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mengingat Allah. Baik terpaksa ataupun karena kesadaran sendiri, setiap tubuh merasakan sakit, maka asma Allah akan disebut berulang-ulang. Segala doa pun dipanjatkan. Kitab suci al Qur’an pun (baru kembali) dibuka dan dibaca ~ sembari berwasiat bagi diri sendiri.

Cobaan ini yang patut menjadi perhatian kita. Apakah kita menerimanya dengan lapang dada, atau dengan bersempit dada.

Rasulullah pernah bersabda, “… dan sesungguhnya salah seorang mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang mereka merasa senang karena memperoleh kelapangan.” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim)

“Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Apabila kita ridha dengan ujian Allah, Insya Allah keberkahan akan menyertai kita.

Apapun dan bagaimanapun kita menjalani ujian sakit itu, saya mengucapkan syafakallah / syafakillah bagi yang sedang menjalani ujian Allah. Semoga Allah mengangkat penyakit yang diderita, memberikan kesembuhan, dan menjauhkan kita semua dari dari malapetaka, dan Allah masih memberikan kesempatan kembali berkumpul dengan sanak saudara dan kerabat dalam keadaan sehat wal afiat.

Aamiin –

Survei Biaya Hidup Indonesia 2012

image

Melihat hasil Survei Biaya Hidup (SBH) Indonesia tahun 2012 menunjukkan dominasi biaya rumah tangga (perumahan, air, listrik, bahan bakar). Bahkan bila ditambah biaya makan dan pakaian, gabungan kategori (basic) itu sudah melebihi separuh dari total biaya hidup di Indonesia.

Dari catatan di atas, saya merasa prihatin, dari hasil survei tersebut tidak ada satupun kategori terkait investasi (tabungan, dsj) dan ibadah sosial (sedekah, zakat, infak, dsj)

Saya kurang paham, apakah investasi tidak / belum masuk kategori “biaya” atau memang tidak ada responden yang mengeluarkan uang untuk kategori investasi atau ibadah sosial tadi.

Wallahu’alam bishshawab

Karir | Hijrah

Dear all,

Berikut re-post kultwit saya dari akun @erwin_noekman

Semoga bermanfaat!

– – –

Assalaamu’alaikum wr. wb. Hari ini saya ingin sharing opini pribadi tentang #karir #hijrah *disclaimerON

Tentunya ada kalanya setiap diri kita merasakan beban berat manakala terbangun dari tidur untuk bergerak ke kantor #karir

Beberapa dari kita yang mempunyai #passion akan segera terbangun dan sangat bersemangat untuk memulai hari #karir

Tetapi banyak dari kita yang justru berkata (dalam hati) “… duuuh, mengapa sich harus ke kantor pagi ini …” #karir #hijrah

Padahal, dengan bekerja itu bisa jadi lahan amal dirinya di dunia dan kelak di akhirat nanti #karir #hijrah

Seorang pemikir dari India Abdul Kalam pernah mengatakan “Cintai pekerjaanmu, tapi jangan cintai kantor-mu” #karir

Lanjutnya “karena kamu tidak akan pernah tahu, kapan kantormu akan berhenti mencintaimu” #karir #hijrah

Mungkin twit saya ini (lebih banyak) menyasar para #karyawan dibanding para #pengusaha *talktomyself #karir

Allah azza wa jalla telah menyediakan 10 pintu rejeki #karir #hijrah

9 pintu disediakan bagi para pengusaha / pedagang, sisanya bagi para pekerja / karyawan #karir #hijrah

Bagi para pekerja / karyawan terlihat akan terjadi “bottle neck” untuk memperoleh rejeki #karir #hijrah

Bagi para entrepreneur pintu2 yang tersedia lebih banyak shg lebih memungkinkan mereka meraih hasil optimal #karir #hijrah

Catatan yang saya punya dari Liz Ryan (CEO & Founder, Human Workplace) tentang #pekerjaan dan #karir

Liz Ryan menyebutkan ada 10 gejala dimana seseorang tidak layak bertahan di #pekerjaan #karir yg digelutinya, saatnya #hijrah

Artinya, apabila anda (sudah) merasakan gejala tsb, (mungkin) sdh waktunya untuk #hijrah #pekerjaan #karir *disclaimerON

1) Pertama, bila perusahaan tempat anda bekerja tidak lagi mengkomunikasikan apa yg (sesungguhnya) sedang terjadi di perusahaan

Pada beberapa kasus, tidak serta merta perusahaan berkeinginan untuk men-disclose aturan yg jelas mengenai #karir

Kasus lainnya, manajemen berusaha menutupi, kasus2 yg sdg dialami (mis: kesulitan keuangan, tuntutan hukum, dsj) #karir

2. Anda melakukan hal yang sama berulang-ulang selama bertahun-tahun #karir

Banyak dari kita yang (merasa) sudah berpengalaman selama puluhan tahun. Faktanya, pengalamannya cuma setahun, selebihnya repetisi #karir #hijrah

3. Tidak adanya penghargaan dan/atau ucapan terima kasih (yang tulus) ketika anda berhasil mengerjakan tugas tertentu #karir

Sebagai manusia, selain kebutuhan sandang, pangan dan papan, kita juga butuh “pengakuan sosial” berupa ucapan terima kasih dan/atau penghargaan #karir

Penghargaan itu tidak melulu harus berupa kenaikan pangkat atau upah, tetapi bisa juga berupa ucapan terima kasih (yang tulus) #karir #hijrah

Bila itu tidak juga anda dapatkan, kayaknya memang sudah waktunya dech #karir #hijrah *disclaimerON

4. Anda tidak punya kesempatan mengungkapkan ide #karir #hijrah

Adakalanya di perusahaan para pengambil keputusan enggan menerima masukan dari bawahannya #karir

Mereka dengan mengandalkan power dan jabatannya merasa yang paling menentukan #karir

Sementara para bawahan hanya dianggap sebagai “buruh” atau seperti “robot” yang hanya perlu menuruti kemauan pada boss #karir

Ketika anda mencoba mengungkapkan pendapat, namun belum apa2 sudah dipatahkan, well, jelas sudah waktunya #karir #hijrah

5. Ada “matematika” yang tidak berjalan seiring perkembangan perusahaan (baca: gaji, bonus, tunjangan) #karir #hijrah

Ketika perusahaan meraup keuntungan (laba) yang fantastis, namun kesenangan itu tidak dirasakan oleh pekerja #karir

Terlihat bahwa perusahaan bekerja sebagai “motor” dan karyawan hanyalah “mesin” bukan sebagai “aset” #karir

Itulah saatnya anda perbaiki CV anda sekarang juga #karir #hijrah *disclaimerON

6. Anda merasa di ujung perkembangan #karir anda #hijrah

#karir anda ditentukan oleh anda sendiri bukan oleh orang lain bahkan bukan oleh boss anda sendiri #hijrah

bahkan ketika #pekerjaan saat ini tidak memberikan anda cukup ruang untuk berkembang, saatnya menekan ENTER untuk mengirimkan CV anda #karir #hijrah

7. Beban #pekerjaan anda rasakan semakin berat, tanpa kompensasi yang seimbang #karir #hijrah

Ketika anda mati2an berusaha memperbaiki lingkungan kerja menjadi lebih baik dan anda merasa sendirian #karir #hijrah

Seakan tidak ada seorang pun di sekitar anda yang mendukung, itulah saatnya #hijrah #karir

8. Pengabdian anda (terasa) tak dianggap | jelas bersegeralah #karir #hijrah

9. Anda (baru) menyadari bekerja untuk usaha yang kotor #karir

Banyak “pengusaha hitam” yang (sepertinya) terlihat baik (di media) seperti seorang “santo” tetapi di dalam, anda tahu sebaliknya #karir

Kalau itu sepertinya tidak perlu lagi penjelasan, langsung saja #hijrah #karir #pekerjaan

10. Tubuh anda mengatakan #hijrah | istikaharah dan ikutilah yang terbaik bagi anda #karir

Semoga catatan di atas bisa menambah wacana bagi kita semua | jazakumullah khairan katsira #karir #hijrah

– with disclaimer ON –

What can you do, if you’re out of their league

Most of time, people are hanging around (only) with their league. Well, these guys are oftenly the have ones.

I’m sure the have nots won’t bother to stick around with anyone, anytime, anywhere.

If you’re aiming these kind of people, then, what should you do?

Here are my thoughts, of course, with disclaimer on… which may not work or fit all

Firstly, just be yourself. You are at your best no matter who you are. Fortunes come to those who are destined. If you (unfortunately) not, then no matter how much effort you strive, fortunes will not come across you at all.

Then, work and live with your mates. You may find a real friendship and socialise better wuth them.

Last but not least, just leave those out-of-league people. You can live without them.

Cheers –